<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536</id><updated>2012-02-16T21:17:33.610+07:00</updated><title type='text'>Endah Imawati</title><subtitle type='html'>Ini dunia saya. Cara paling ampuh berkomunikasi adalah dengan menulis. Bukan apa-apa, karena saya tidak piawai bersuara. Andai dalam diam orang bisa mengerti, alangkah senang. Menulis tidak butuh suara, karena itu saya suka.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-7504063926584189917</id><published>2011-07-29T13:48:00.001+07:00</published><updated>2011-07-29T13:50:32.063+07:00</updated><title type='text'>Menunggu Loket Kawah Dibuka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-mKHaXqn6qiM/TjJYMIZmChI/AAAAAAAAAQE/YpGUaowRu9s/s1600/kawah%2Bijen.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mKHaXqn6qiM/TjJYMIZmChI/AAAAAAAAAQE/YpGUaowRu9s/s320/kawah%2Bijen.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634663049230420498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang Ujung Jawa Timur (2-Selesai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pal 10 napas sudah tersengal-sengal. Hingga pal 14 rasanya ingin berhenti dan menyerah. Hilang sudah foto dan tayangan Kawah Ijen yang memesona. Jantung tidak bisa diajak bersahabat, kaki juga gemetaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah satu kaki berupa tongkat, lima perempuan berumur berjalan pelan. Sesekali di tikungan menanjak berhenti. Mengambil napas untuk kemudian berjalan lagi. Sebenarnya ada delapan orang yang berangkat, tetapi tiga orang sudah menyerah sebelum di pal 10.&lt;br /&gt;Delapan perempuan yang semuanya berusia 62 tahun itu adalah geng SMA Cor Jesu Malang. Mereka teman sekelas bahkan ada yang berteman sejak TK. Setiap tahun para oma itu bertemu untuk reuni. Biasanya reuni di luar kota dengan menikmati tempat wisata, seperti Kawah Ijen. Minggu (1/5/2011) mereka sepakat ‘menaklukkan’ Kawah Ijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencana, dosen S3 Pascasarjana Unesa, dengan bersandal dan membawa tas plastik berisi perbekalan, dengan ringan berseru ‘mogooook’ setiap kali berhenti sejenak. Kelompok para ibu sepuh itu membuat pengunjung Kawah Ijen heran. Mereka tak henti-hentinya menjawab berumur 62 dan diikuti decak kagum para penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harus kuat meski pelan-pelan. Harus sampai kawah,” kata Kencana memberi semangat pada dirinya sendiri setiap melewati satu pal. Setiap pal menunjukkan 100 meter yang sudah dilewati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang berubah dari Gunung Kawah Ijen yang biasa disebut Kawah Ijen. Pal Tuding, pos awal pendakian tetap ala kadarnya dengan beberapa tempat menginap yang sederhana. Dari Pal Tuding ke Pondok Penambangan Belerang dengan langkah normal dapat ditempuh 1,5 jam. Ditambah setengah jam lagi, pesona Kawah Ijen terbentang di depan mata. Jika beruntung, kaldera kehijauan akan tampak jelas. Akan tetapi, jika kurang beruntung ‘loket’ untuk melihat kaldera itu akan tutup sementara karena kabut bisa datang kapan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyuwangi memang beruntung memiliki semuanya. Ada Kawah Ijen yang menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan lokal dan mancanegara, Hutan Baluran dan Alas Purwo tempat banteng dan aneka satwa hidup bebas. Banyuwangi juga memiliki pegunungan dengan perkebunan karet, kopi, dan cengkeh ditambah dengan pantai-pantai indah dan nyaman hingga dipercaya penyu-penyu untuk menyembunyikan telur-telur mereka di Sukamade dan Ngagelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelancong dari Prancis paling banyak datang ke Kawah Ijen. Mereka menikmati kelelahan, kaki pegal, dan keringat bercucuran untuk sampai ke kaldera. Kawah Ijen adalah kaldera terbesar di Indonesia dan sampai sekarang belerangnya ditambang secara tradisional. Kawah ini memiliki tingkat keasaman yang sangat tinggi yaitu mendekati nol sehingga bisa melarutkan tubuh manusia dengan cepat. Suhu kawah mencapai 200 derajat Celcius. Padahal suhu di Pal Tuding dan rute pendakian bisa mencapai 10 derajat Celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jalur bisa dilewati menuju Kawah Ijen yaitu dari Banyuwangi dan Bondowoso. Jalur Bondowoso cukup mulus. Jalur dari Banyuwangi cantik karena melewati hutan dan perkebunan kopi meski kondisi jalan membuat waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalur ke Kawah Ijen sudah masuk rencana untuk diperbaiki meski wisatawan asing lebih suka jika jalur itu tetap alami dengan batuan,” kata Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi saat bertemu peserta Fam Trip, Minggu (1/5/2011). Jadi, kepentingan siapa yang akan dilayani, wisatawan asing atau penduduk lokal? “Jalan tetap akan diperbaiki agar akses menuju Kawah Ijen lancar. Tahun ini sudah masuk rencana,” tambah Azwar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena menyuguhkan pesona alami juga Ijen Resort and Villas membiarkan lingkungan apa adanya. Jalur masuk berupa jalan makadam. Bonusnya, sawah bertingkat berpagar pohon kelapa seperti kalender lawas. Resort itu banyak diminati pelancong asing karena mereka bisa mencelupkan kaki ke lumpur sawah dan menyentuh kerbau yang membajak tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah begini, mengapa harus pergi ke luar negeri? Jelajahi dulu suguhan alam yang indah sebelum memutuskan ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di Harian Surya, 4 Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-7504063926584189917?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/7504063926584189917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=7504063926584189917&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/7504063926584189917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/7504063926584189917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/07/menunggu-loket-kawah-dibuka.html' title='Menunggu Loket Kawah Dibuka'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mKHaXqn6qiM/TjJYMIZmChI/AAAAAAAAAQE/YpGUaowRu9s/s72-c/kawah%2Bijen.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-8420909667579999900</id><published>2011-07-29T13:39:00.003+07:00</published><updated>2011-07-29T13:48:04.973+07:00</updated><title type='text'>Tarif Dolar Membuat Keder</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-lG8zTk6HpVU/TjJXW_u_H9I/AAAAAAAAAP8/B09DfYDfuDY/s1600/alas%2Bpurwo.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-lG8zTk6HpVU/TjJXW_u_H9I/AAAAAAAAAP8/B09DfYDfuDY/s320/alas%2Bpurwo.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634662136371158994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-vm5N6zoe5Qw/TjJXW3F5wgI/AAAAAAAAAP0/6ZghSNAx9CQ/s1600/alas%2Bplengkung.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-vm5N6zoe5Qw/TjJXW3F5wgI/AAAAAAAAAP0/6ZghSNAx9CQ/s320/alas%2Bplengkung.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634662134051357186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gerbang Ujung Jawa Timur (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan hingga nyempil ke sudutnya, Banyuwangi seperti magnet. Pantai Plengkung membuktikan itu. Setiap tahun 400-600 wisatawan asing berselancar di pantai yang bisa disebut G-land itu. Sayangnya, jalur yang dilewati bukan melalui Banyuwangi melainkan dari Kuta, Bali, melalui jalur laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur darat sebenarnya bisa dilewati dari Taman Nasional Alas Purwo. Hutan seluas 62.000 hektare dengan 40 persen hutan bambu menjadi jalur yang eksotis sekaligus menantang. “Jika potensi itu bisa dikembangkan, Banyuwangi akan menjadi pusat wisata yang luar biasa,” ungkap Suprayogi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari gerbang Alas Purwo hingga Plengkung sekitar 15 km yang ditempuh 4-5 jam. Tantangan pertama adalah kondisi jalan yang membuat seisi mobil tidak akan pernah duduk tenang. Jalan yang dilewati memang seperti lahan off road. Apalagi setelah Pos Pancur, gerbang menuju Plengkung. Meski tinggal tujuh kilometer, waktu yang dibutuhkan paling cepat satu jam. Di Pos Pancur ini sebaiknya kendaraan pengunjung diparkir dan menyewa kendaraan pengelola kawasan itu. Tarifnya Rp 150.000. Kondisi jalan memang sanggup membuat onderdil mobil rompal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur yang sulit ditempuh dari darat itu membuat wisatawan memilih jalur Kuta yang hanya dua jam. Akibatnya, Banyuwangi tidak mendapat cipratan rezeki, padahal wilayah itu sangat potensial dikembangkan. Jalur yang dibuat beberapa tahun lalu tidak lagi memadai. Hanya kendaraan bergardan ganda (double gardan) atau four-wheel drive (4wd) yang sanggup menaklukkan jalan di Alas Purwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuti Harjuni, pengelola Joyo’s Camp, salah satu resort di Plengkung, mengatakan bahwa jalur darat yang sulit ditempuh membuat wisatawan lokal enggan datang. “Satu-satunya jalur lewat Kuta. Itu berarti mereka harus dari Bali. Padahal, potensi wisatawan lokal juga besar,” kata Tuti di resort-nya yang dibangun dengan material kayu dan anyaman bambu ini, Minggu (1/5/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, wisatawan lokal biasanya menginginkan jalur mulus dan mudah ditempuh dengan kendaraan pribadi. Saat ini sedang direncanakan membuat rel kereta wisata dari Pos Pancur ke Pantai Plengkung. Pengunjung memarkir kendaraan di Pos Pancur dan diangkut dengan kereta wisata. Fasilitas transportasi yang memadai menjadi senjata andalan untuk merayu wisatawan asing dan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika rel itu segera diwujudkan, wisata di Plengkung akan makin ramai sepanjang tahun,” kata Tuti. Wisatawan asing yang mencari tujuh gulungan ombak setinggi enam meter untuk berselancar hanya datang sekitar Mei—November. Setelah itu sepi. Mereka hanya menunggu ombak besar. Jika dalam paket menginap di Joyo’s Camp yang biasanya sepekan ternyata cuaca tidak mendukung dan tidak ada ombak besar, pengelola mengembalikan setengah paket. Setengah paket itu berupa voucher yang bisa digunakan ketika mereka datang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran, para peselancar itu sangat akrab dengan pengelola Joyo’s Camp. Mereka bangga dipanggil dengan sebutan ‘mas’ atau ‘mbak’. Percakapan pun bercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. “Di sini mereka diterima sebagai keluarga. Kami memanjakan dengan urusan makan karena mereka butuh energi banyak untuk berselancar,” kata Tuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat wisatawan lokal keder selain jalur adalah tarif. Tarif diberlakukan dalam dolar AS. Empat resort di Plengkung yang rata-rata menetapkan tarif sekitar 200 dolar AS dan dijual dalam paket sepekan dan tiga hari. Itu sudah termasuk jemput-antar ke Kuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika potensi itu bisa dikembangkan, Banyuwangi akan menjadi pusat wisata yang luar biasa,” ungkap Suprayogi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.&lt;br /&gt;Tentu saja itu membuat wisatawan lokal berpikir keras meski sebenarnya ada tempat menginap di Triangulasi, di Alas Purwo, dengan tarif rupiah. Di sana, pantainya sama-sama indah. Apalagi pengunjung bisa berjalan kaki ke Sadengan melihat kawanan banteng merumput dan ke Ngagelan melihat tukik penyu dilepaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya selancar di pantai, di Alas Purwo ini juga ada selancar hati. Ada banyak tempat untuk bertapa, ada pura, ada petilasan yang dianggap wingit. Yang pasti, di Alas Purwo ini ada peraturan yang harus ditaati: jangan tinggalkan apa pun kecuali telapak kaki dan jangan mengambil apapun kecuali foto. end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya bersemangat mengikuti perjalanan ini. Beberapa tahun yang lalu Bapak (alm.) ikut membuka jalur Alas Purwo hingga Plengkung. Ketika membuka jalur, demonstrasi dari kelompok pecinta alam marak. Bapak menghadapi mereka. Salah satunya ternyata teman ketika menggarap proyek jalan raya di Denpasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu sekali Bapak datang ke rumah, di Sidoarjo. Suatu kali Bapak datang dengan membawa kayu sepanjang sekitar 1,5 meter. Menurut ceritanya, kayu itu didapat dari orang yang usai bertapa di Alas Purwo. Waktu itu Bapak mendapat kiriman makan siang. Melihat orang itu kelaparan, nasi jatahnya diberikan. Pertapa itu kemudian memberi batang kayu itu. Hm… sampai sekarang sepertinya kayu itu masih ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hik… jadi kepingin nangis karena ingat Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, ketika saya bercakap-cakap dengan pejabat hutan, ia dengan keras menyatakan bahwa proyek itu belum usai. “Seharusnya ada 28 jembatan yang dibangun, tetapi hanya 27 yang direalisasikan,” katanya getas. Saya mengangguk-angguk. Tentang jembatan itu Bapak dulu bercerita bahwa ada orang berpengaruh yang menginginkan jalur ke Plengkung tidak melewati jembatan itu melainkan menyisir pantai supaya ada kawasan cottage yang dilewati. Yang ini memang harus konfirmasi lagi. Akan tetapi, bagaimana caranya konfirmasi pada Bapak yang sekarang sudah tenang di alam sana.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di Harian Surya, 3 Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-8420909667579999900?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/8420909667579999900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=8420909667579999900&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8420909667579999900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8420909667579999900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/07/tarif-dolar-membuat-keder.html' title='Tarif Dolar Membuat Keder'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-lG8zTk6HpVU/TjJXW_u_H9I/AAAAAAAAAP8/B09DfYDfuDY/s72-c/alas%2Bpurwo.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-164211372649885655</id><published>2011-07-29T12:24:00.002+07:00</published><updated>2011-07-29T12:27:05.442+07:00</updated><title type='text'>Bonus, Sebaiknya untuk Apa?</title><content type='html'>Betapa mujurnya PNS yang mendapat gaji ke-13. Hm… berani bertaruh hari-hari ini pasti sudah mempunyai keinginan yang akan diwujudkan jika gaji ke-13 itu cair. Bagi perencana keuangan, gaji ke-13 atau bonus adalah penghasilan di luar gaji atau penghasilan tetap yang penggunaannya harus dipikir dengan bijaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bermaksud pelit jika yang disodorkan pertama oleh perencana keuangan adalah pelunasan utang dan kewajiban. Itu termasuk angsuran panci yang diambil ketika arisan PKK, tas branded yang dua bulan lalu dibawa pulang, angsuran untuk pelunasan utang kartu kredit, atau angsuran barang-barang lain yang telanjur dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika prioritas itu sudah dipenuhi, hitung lagi penghasilan kagetan itu. Jika memungkinkan, simpan untuk tabungan berencana yang tidak dapat diambil sewaktu-waktu. Jika tidak tertarik untuk menabung, uang bonus bisa diinvestasikan dalam investasi emas, membuka bisnis kecil-kecilan, atau investasi di saham atau reksadana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tidak ingin berinvestasi dengan cara itu, masukkan saja ke dalam pos dana cadangan. Dana cadangan ini wajib dimiliki agar ketika terjadi apa-apa, misalnya tiba-tiba berhenti bekerja, masih ada dana cadangan untuk hidup layak selama 3-6 bulan ke depan. Percayalah, dengan memiliki dana cadangan, hidup terasa lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menambah ilmu adalah salah satu cara efektif untuk menggunakan uang kaget. Menambah ilmu itu bisa dengan bersekolah lagi, mengikuti berbagai kursus singkat, mengikuti workshop yang dapat meningkatkan ‘daya jual’ di tempat kerja, dan sebagainya. Dengan tambahan ilmu berarti menabung untuk profesi di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, kapan bersenang-senang? Masih bolehkah sedikit berfoya-foya dengan uang kaget itu? Boleh asal tetap ada perhitungan. Pikirkan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Batasi pengeluaran untuk bersenang-senang ini. Bonus ini hadiah dari kerja keras yang boleh dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya banyak uang, jangan lupa beramal. Memberi lebih baik daripada menerima. Richard Carlson dalam bukunya Don’t Worry, Make Money, menimbun uang demi kepentingan pribadi, berarti Anda telah menghentikan sirkulasi tersebut. Anda mulai memasang pipa buntu yang menyulitkan aliran uang ke arah Anda. Carlson yakin, apapun yang Anda berikan, pasti bakal kembali, lengkap dengan bunganya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-164211372649885655?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/164211372649885655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=164211372649885655&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/164211372649885655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/164211372649885655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/07/bonus-sebaiknya-untuk-apa.html' title='Bonus, Sebaiknya untuk Apa?'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-1596253049536340034</id><published>2011-03-30T20:08:00.002+07:00</published><updated>2011-03-30T20:13:48.485+07:00</updated><title type='text'>Ngonthel Pertama di ISIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-_w_EuyynUa4/TZMsgNKuwXI/AAAAAAAAAPo/3K19vmku_tU/s1600/6574_101613019853008_100000129315428_43671_3762713_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-_w_EuyynUa4/TZMsgNKuwXI/AAAAAAAAAPo/3K19vmku_tU/s320/6574_101613019853008_100000129315428_43671_3762713_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589860494299021682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas ngonthel menjadi gaya hidup yang banyak dilirik. Salah satu komunitas yang biasanya menjadi jujugan bagi pemilik sepeda baru atau mereka yang baru ingin bergabung dengan klub ngonthel adalah ISIS (Ingin Sehat Ingat Sepeda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat nama panjang ISIS sudah barang tentu tujuan utamanya memang ngonthel untuk sehat. Klub yang satu ini cukup unik. Inilah klub yang terdiri dari komunitas-komuntas sepeda. Tidak ada ketua atau pengurus, juga tidak ada anggota resmi dengan keplek atau tetek bengek lain. Yang ada hanya koordinator.&lt;br /&gt;Koordinator ini juga bukan jabatan seumur hidup dalam klub. Jika diperlukan, koordinator bisa diganti dengan musyawarah. Saat ini koordinator ISIS dipegang Hadi Susilo. Dengan tangan terbuka, ISIS menerima siapa saja yang ingin bersepeda. Di klub ini tidak perlu khawatir ‘terbanting’ karena hanya punya sepeda biasa-biasa saja. Maklum, penggila sepeda bisa ngonthel dengan sepeda seharga belasa juta rupiah.&lt;br /&gt;“Kami memang tidak membatasi jenis sepeda yang dibawa. Apa pun pokoknya bisa dionthel, silakan bergabung dengan ISIS,” kata Hadi (35), Jumat (10/12).&lt;br /&gt;Maklum, di Surabaya ada begitu banyak klub sepeda yang spesifik misalnya hanya beranggotakan pemilik sepeda lipat, hanya menerima anggota sepeda kuno, atau yang memiliki sepeda dengan merek tertentu. ISIS menurut Hadi adalah batu pijakan bagi orang-orang yang baru punya sepeda.&lt;br /&gt;“Lucunya, toko-toko sepeda di Surabaya biasanya menjadi tempat bertanya bagi konsumennya. Setelah membeli sepeda, biasanya mereka akan bertanya di komunitas mana mereka bisa bergabung? Jawaban dari pihak toko sepeda biasanya mengarah pada ISIS,” kata Hadi sambil tertawa.&lt;br /&gt;Benar juga, ketika bertanya kepada Iwan, pemilik Graha Sepeda di Jl Kertajaya Surabaya, ISIS juga yang ditunjuk sebagai komunitas yang menerima anggota baru dengan berbagai merek dan jenis sepeda. Baru setelah bergabung di ISIS, mereka akan menemukan teman yang cocok. Biasanya, setelah aktif ngonthel di ISIS mereka jadi tahu komunitas apa yang sesuai dengannya. Mereka pun bergabung dengan klub itu.&lt;br /&gt;Itu juga yang dilakukan Trisandi ketika suaminya dulu sedang getol-getolnya mengayuh sepeda. Supaya tetap dapat menemani suami, dia ikut komunitas ISIS meski tidak terdaftar. “Pokoknya ikut saja. Asyik juga karena tidak formal. Jadi, ketika sekarang suami bergabung di klub lain yang lebih dekat rumah di Sidoarjo, kami tidak merasa bersalah,” kata Tris sambil tertawa.&lt;br /&gt;Bagi Hadi, kutu loncat itu tidak masalah karena tujuan utama ISIS memang untuk sehat. “Akan tetapi, jika ISIS mengadakan gathering, mereka pasti datang dan berkumpul. Kalau sudah begitu sekitar 90 orang akan bertemu lagi,” kata Hadi. Setiap kali ISIS berulang tahun pada 20 April, mereka berkumpul lagi. Tahun ini ISIS berumur enam tahun.&lt;br /&gt;Dalam sebulan ada empat acara tetap. Minggu pertama on road, minggu kedua off road, minggu ketiga on road, dan minggu keempat touring. Pokoknya tidak ada Minggu yang tidak ngonthel. On road diisi dengan menggenjot sepeda dengan rute ‘pendek’ seperti Surabaya ke Sedati, Gresik, Citraland, atau Sidoarjo bagian Selatan. Off road ini yang seru karena mereka mencari jalur yang dihindari pemakai jalan seperti jalan makadam, jalan tanah, paving, dan jalur yang menantang lainnya. Nah, acara minggu keempat ini yang selalu ditunggu karena jalurnya menarik. “Surabaya-Pacet, Surabaya-Jogjakarta, adalah jalur yang pernah ditempuh selain kota lainnya,” tutur Hadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersepeda ke Tempat Kerja&lt;br /&gt;Ngonthel sudah menjadi keseharian Hadi. Hadi memilih mengayuh sepeda dari rumahnya di Jl Sumatra menuju tokonya di Kapas Krampung. Jaraknya memang tidak jauh, sekitar 4 kilometer. Akan tetapi, kenikmatan mengayuh sepeda itu yang dicari karena bonusnya sudah pasti: badan menjadi sehat.&lt;br /&gt;Meski Hadi cinta mati pada sepeda, ternyata istrinya ‘memilih jalur lain’. “Istri saya guru piano dan tidak suka ngonthel,” Hadi terkekeh.&lt;br /&gt;Trisnani yang akhirnya tertulari virus ngonthel dari suaminya itu akhirnya lebih senang bersepeda ke mana-mana. “Memang kalau ke kantor belum saya lakukan karena saya tinggal di Sidoarjo sedangkan kantor saya di Margomulyo, Surabaya. Tidak terbayangkan setiap pagi bersepeda ke sana. Akan tetapi, jika jarak cukup dekat, sepeda memang menjadi andalan,” kata Tris.&lt;br /&gt;Dalam mengayuh sepeda, ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan yaitu makan. Mereka menyebut tukang makan itu dengan istilah badogers. Tempat makan yang enak menjadi tujuan yang membuat bersemangat. Itu dianggap sebagai pengobat lelah setelah kebut-kebutan, off road, dan meniti tanjakan.&lt;br /&gt;Jika touring setiap bulan direncanakan selalu berbeda, lain dengan off road. Aktivitas yang satu ini dikendalikan alam. Jika cuaca tidak mendukung seperti hujan, acara off road ditangguhkan. Alasannya sepele, mereka tidak mau dinaiki sepeda. Jika cuaca tidak mendukung, biasanya jalur sulit dilewati sepeda dan mereka terpaksa harus menggendong sepeda masing-masing. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;end&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto milik ISIS Cycling Club&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-1596253049536340034?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/1596253049536340034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=1596253049536340034&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/1596253049536340034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/1596253049536340034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/03/ngonthel-pertama-di-isis.html' title='Ngonthel Pertama di ISIS'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_w_EuyynUa4/TZMsgNKuwXI/AAAAAAAAAPo/3K19vmku_tU/s72-c/6574_101613019853008_100000129315428_43671_3762713_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-1779080104358595074</id><published>2011-03-30T20:01:00.000+07:00</published><updated>2011-03-30T20:03:58.288+07:00</updated><title type='text'>Sip… Jatah Hura-hura!</title><content type='html'>Sebulan penuh bekerja, ketika mendapat gaji rasanya lega. Begitu angka di ATM bertambah sepertinya ada bertumpuk kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau sudah begini, kapan bisa berhura-hura?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya sah-sah saja jika gaji sebulan untuk membeli tas idaman. “Toh harganya tidak sampai Rp 500.000,” kata Agnes Berliana (26). Karyawan asuransi ini hampir setiap bulan menganggarkan dana untuk tas dan sepatu.&lt;br /&gt;“Maklum, saya kan harus sering menemui klien. Jadi, penampilan harus dijaga. Baju sih lebih ngirit karena ada seragam dari perusahaan, tetapi sepatu dan task an harus serasi,” alasan lajang yang mengaku pendapatan hampir Rp 4 juta itu. Meski menjadi bagian dari atribut bekerja, bagi Nines, sapaan Agnes, sepatu dan tas masuk kategori hura-hura. Dia merasa pantas menganggarkan sekitar Rp 1,5 juta untuk makan-makan, nonton film, atau liburan ke luar kota. &lt;br /&gt;“Mumpung masih lajang. Nanti kalau sudah berkeluarga pasti tidak punya kesempatan memakai dana hura-hura seperti ini,” aku Nines.&lt;br /&gt;Para lajang yang memiliki penghasilan sendiri sering merasa gaji yang didapat pantas dihabiskan, toh uang itu hasil keringat sendiri. Besar uang yang rontok dari dompet tidak sama. Ratna Sari (28), dosen di kampus swasta Surabaya, merasa perlu mendandani penampilan mulai dari kerudung hingga sepatu. “Setiap hari saya berhadapan dengan mahasiswa yang trendi. Dosennya jangan sampai kalah, dong,” kata Ratna. Untuk urusan penampilan, gajinya terkuras meski masih bisa disisihkan sedikit untuk tabungan. “Nantilah kalau menikah saya mengerem kebiasaan ini,” kata Ratna sambil tertawa.&lt;br /&gt;Nines dan Ratna cukup beruntung karena dapat menikmati seluruh gajinya. Murni Sri Wahyuni (32) harus berpikir sangat panjang untuk membeli tas seharga ratusan ribu rupiah. “Daripada untuk membeli tas, lebih baik untuk bayar les anak-anak,” kata ibu dua anak ini. Jika sudah sangat ingin mendapatkan barang yang harganya mahal, biasanya guru SMA ini menabung dulu atau mengangsur. “Lha, bagaimana lagi? Kebutuhan anak menjadi prioritas,” kata Murni yang mencoret dana hura-hura dari anggaran bulanannya.&lt;br /&gt;Sebenarnya Murni tidak perlu mencoret dana hura-hura karena jika ada dana itu maka kebutuhan untuk bersenang-senang meski hanya sedikit dapat terpenuhi. Menurut Daniel Tulasi SE MM CFP, perencana keuangan dari Unika Widya Mandala Surabaya, sebetulnya jumlah nominal yang bisa diambil dari pendapatan seseorang untuk rekreasi –yang disebut Nines dana hura-hura—pada masa lajang dan keluarga muda tidak dapat ditentukan secara pasti. Pendapatan itu tidak hanya gaji. Penghasilan di luar gaji juga harus dihitung dalam komponen pendapatan. “Akan tetapi, pendapatan dan tujuan keuangan biasanya dijadikan pertimbangan pokok yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan keuangan,” kata Daniel, Rabu (1/12).&lt;br /&gt;Para lajang memang lebih leluasa memakai pendapatannya untuk ‘menikmati’ hidup. Akan tetapi, Daniel menyarankan dana hura-hura itu cukup disediakan 12 persen dari total pendapatan. “Jangan lupa, mereka harus menyisihkan uang untuk asuransi dan tabungan,” ujar Daniel. Asuransi itu sebaiknya dimulai sejak muda sebagai bekal kelak ketika sudah tidak bekerja. Asuransi seharusnya masuk perspektif biaya wajib sehingga saat mendapat gaji, wajib disisihkan untuk asuransi.&lt;br /&gt;Berbeda dengan lajang, pasangan muda yang sama-sama bekerja dengan satu anak, misalnya, memiliki prioritas berbeda. “Mereka harus menyisihkan asuransi, persiapan pendidikan anak, tabungan, dan investasi seperti properti. Adakah dana untuk hura-hura? Anggarkan saja 10 persen. Kelihatannya persentasenya kecil, tetapi karena pendapatannya rangkap, maka besarannya juga makin tinggi,” tutur Daniel. Meski demikian, anggaran untuk hura-hura ini sebaiknya digunakan secukupnya. Jika bersisa, segera masukkan pos tabungan. end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan Berjenjang&lt;br /&gt;Jumlah nominal yang bisa diambil dari pendapatan seorang untuk hura-hura pada masa lajang dan keluarga muda tidak bisa ditentukan secara pasti. Akan tetapi pendapatan dan tujuan keuangan biasanya dijadikan pertimbangan pokok yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan keuangan. Tujuan keuangan, antara satu orang dengan orang lain berbeda karena ditentukan oleh situasi individu, kebutuhan, tujuan hidup, dan perilaku atau gaya hidup. &lt;br /&gt;Meski demikian secara umum tujuan keuangan itu seperti proteksi atas risiko personal, akumulasi capital atau dana untuk investasi, persiapan dana sebagai pendapatan waktu pensiun, pengurangan biaya pajak, perencanaan warisan (pembagian harta bagi ahli waris), manajemen investasi, dan lain-lain. Jika perencanaan keuangan ini dikaitkan dengan siklus kehidupan yang umumnya dibagi atas masa anak-anak, masa lajang, masa awal pernikahan, masa orang tua dengan anak, masa tua awal, masa awal pensiun, dan masa pensiun.&lt;br /&gt;Pada masa anak-anak, orang tua yang merencanakan keuangan untuk anak, mulai kebutuhan sandang-pangan hingga pendidikan karena anak sepenuhnya bergantung pada orang tua. Masa lajang (mulai bekerja), orang mulai melepas ketergantungan pada orang tua dalam bidang fianansial. Perencanaan keuangan pada masa ini umumnya dititikberatkan pada kebutuhan jangka pendek seperti persiapan menikah, membeli kendaraan, rumah. Selain itu mungkin masih ikut bertanggung jawab pada anggota keluarga lain seperti ikut membiayai adik, orang tua, juga dana antisipasi risiko seperti asuransi, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Pada masa awal pernikahan biasanya pendapatan relatif masih kecil namun pengeluaran relatif besar sehingga suami istri harus bekerja. Saat ini tabungan rutin penting, alokasi dana untuk proteksi diri, keluarga, pekerjaan menjadi prioritas, begitu juga dengan perencanaan dana untuk masa pensiun. Ketika memiliki anak ada pengeluaran tambahan untuk anak, tenaga pengasuh anak (jika istri tetap bekerja). Hal penting dari masa ini adalah persiapan pendidikan anak maka menabung meruapakan hal paling pokok. &lt;br /&gt;Masa tua awal biasanya perekonomian keluarga mapan namun dana untuk kesehatan dan pensiun mungkin tinggi. Selain itu keinginan untuk investasi tinggi dan makin maksimal ketika memasuki masa awal pensiun. Pada saat ini orang melakukan prioritas proteksi atas pendapatan, penyakit, kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa awal pernikahan. Jika suami istri bekerja, pendapatan akan meningkat, misalnya Rp.6 juta.&lt;br /&gt;Kebutuhan hidup dan operasional ≤ 50%&lt;br /&gt;Asuransi    ≥ 10%&lt;br /&gt;Investasi mis. properti   ≥ 12%&lt;br /&gt;Persiapan pendidikan anak (1 org) ≥ 5%&lt;br /&gt;Tabungan    ≥ 8%&lt;br /&gt;Dana untuk hura-hura   ≤ 10%&lt;br /&gt;Lain-lain (mis. membantu keluarga) ≥ 5%&lt;br /&gt;Namun sekali lagi, pendapatan dan tujuan keuangan, terutama gaya hidup seorang sangat menentukan porsi dana untuk hura-hura.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-1779080104358595074?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/1779080104358595074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=1779080104358595074&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/1779080104358595074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/1779080104358595074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/03/sip-jatah-hura-hura.html' title='Sip… Jatah Hura-hura!'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-8539805103315978086</id><published>2011-03-30T19:41:00.001+07:00</published><updated>2011-03-30T19:46:59.011+07:00</updated><title type='text'>Ulang Tahun Para ‘Monster’</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-g_8kKAthkpo/TZMlo36r81I/AAAAAAAAAPg/hULVjvJMVls/s1600/2503food4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 193px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-g_8kKAthkpo/TZMlo36r81I/AAAAAAAAAPg/hULVjvJMVls/s320/2503food4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589852946632012626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta identik dengan makanan sedap. Bagaimana jika komunitas kuliner berulang tahun? Pasti tersedia makanan berlimpah. Di usia empat tahun yang dirayakan 13 Maret lalu, komunitas FoodMonster tampak makin solid. Meski anggotanya ‘hanya’ 150 di milis, komunitas yang satu ini terbilang kompak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sama-sama menyediakan kue ulang tahun dan tiup lilin, pesta ulang tahun para pecandu kuliner itu diadakan di Kiky’s Baking Institute Surabaya itu justru diisi dengan latihan bareng alias latbar. Chef Giat Setyawan dari Tulip Chocolate dan Monica dari Creative Cake membuat verrine, French pastries yang sedang ngetren, dan membuat chocolate modeling. Maklum, tangan rasanya gatal jika bertemu sesama ratu dapur tetapi tidak ada acara mempraktikkan resep.&lt;br /&gt;Ke-60 ratu dapur itu hanya sebagian dari seluruh anggota. Menurut Lia F, moderator komunitas ini, jumlah itu disesuaikan ruangan yang ada. “Member kami banyak home-baker, tetapi tetap saling berbagi resep andalan berikut tipsnya tanpa takut tersaingi. Tidak jarang mereka berbagi orderan karena sebagian besar memiliki usaha kuliner di rumah. Sebulan sekali latbar, yang mengajar anggota juga. Supaya makin kompak, latbar dilakukan bergiliran di rumah anggota,” kata Lia.&lt;br /&gt;Untuk ukuran milis yang biasanya beranggotakan ratusan orang, anggota FoodMonster yang biasa disebut FM terhitung sedikit. Ternyata jumlah itu memang dibatasi supaya milis tidak terlalu ramai. “Kami memang selektif menerima member. Kami tidak mau milis terlalu ramai tetapi isinya orang yang sliwar-sliwer cuma untuk jualan. Kami ingin milis ini benar-benar padat manfaat,” tutur Lia.&lt;br /&gt;Setiap orang yang ingin bergabung dengan FM harus memenuhi syarat tertentu yaitu hanya berdomisili di area Surabaya dan sekitarnya (Jawa Timur), identitas jelas dengan mengisi formulir isian lengkap dengan data valid, dan direkomendasikan oleh teman yang sudah bergabung dengan FM. Aturan ini cukup ketat dijalankan demi kenyamanan member, mengingat komunikasi melalui mailing list tidak jarang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang hanya ingin menjadikan mailing list sebagai sarana berpromosi hingga junk mail tanpa interaksi aktif positif.&lt;br /&gt;Itu juga yang membuat anggotanya betah. Apalagi komunitas ini mengusung semangat tulis untuk berbagi, community for the power of sharing. Di tempat itu juga dijamin tidak ada muatan komersial. Melalui FM member yang masih awam akan bisa dan percaya diri untuk berkarya, sementara member yang sudah berpengalaman akan meningkat aktualisasinya dengan berbagi.&lt;br /&gt;FM adalah komunitas food lover yang didirikan di Surabaya, Februari 2007 oleh empat orang yaitu Lia F, Dewi, Monica Tan, Ary Ampana, dan Neny Anita. Kini formasi itu berubah menjadi Lia F, Dewi, Ary Ampana, Francisca Desy Natalia, Tien Rosiana, dan Ullia Aljabrie. Mereka para perempuan pekerja sekaligus ibu rumah tangga yang punya posisi bagus di tempat kerja. Meski sibuk di kantor dan mengurus keluarga, lima moderator ini tidak kenal lelah mencurahkan perhatian untuk FM. “Kami sering meeting malam sepulang dari kantor untuk membahas agenda-agenda FM yang diadakan bulanan. Meeting-nya nggak cuma sekali atau dua kali, tetapi sering kali setiap bulan untuk membahas materi, pengajar, lokasi, resep, setting, dan pembagian tugas,” cerita Lia. Dia menambahkan, “Kami meeting di kafe dengan biaya dari kantong sendiri, lho.”&lt;br /&gt;Setelah berjalan lebih dari tiga tahun, materi latbar makin lengkap. Mulai dari membuat aneka nasi, membuat ayam kodok, membuat aneka roti dan kue, pasta, carving, fondant, dan sebagainya. Oleh karena peserta selalu ingin mengabadikan hasil karyanya dengan baik, akhirnya dibukalah latbar yang sama sekali tidak berurusan dengan mikser dan tepung, yaitu food photography. Hasilnya, peserta yang sebagian memiliki blog dan akun di jejaring sosial langsung mengunggah foto-foto hasil jepretan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Provokasi Latihan Bareng Mons&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Latihan bareng alias latbar menjadi agenda paling penting dalam komunitas FoodMonster (FM). Seluruh anggota biasanya menunggu pengumuman dari moderator FM. Meski kebanyakan para ibu, jangan berharap aka nada undangan manis layaknya undangan arisan di RT. &lt;br /&gt;Undangan latbar biasanya justru gokil dan memprovokasi anggota untuk datang. Seperti latbar yang diadakan 16 April 2011 di Kiky's Baking Institute, Jl Raya Kertajaya no 9 Surabaya. Acara biasanya dimulai sejak pagi hingga lepas waktu makan siang. Cara memberitahu Mons (sapaan untuk anggota FM) sangat akrab. Karena lokasi parkir di tempat latbar itu tidak luas, moderator menyarankan Mons yang ingin datang bermobil ke lokasi sebaiknya diantar atau naik kendaraan umum. &lt;br /&gt;Cara mendaftar juga unik. Biaya latbar bervariasi dan dibayar lewat transfer dengan dua digit terakhir ditambah nominal sesuai nomor urut. Peserta nomer urut 1 wajib mentransfer Rp100,001, peserta nomer urut 2 wajib mentransfer Rp100,002, dan seterusnya. Jika peserta kurang dari 36, acara dibatalkan. Akan tetapi, supaya semua dapat berlatih dan menikmati acara, peserta dibatasi 50. Provokasi seperti itu cukup membuat anggota yang ingin ikut pontang-panting mendaftar segera. Memang itu yang diharapkan panitia agar sejak awal sudah dapat dihitung jumlah peserta.&lt;br /&gt;Latbar berarti juga saatnya menunjukkan kelihaian mewujudkan resep karena selalu ada peserta yang kebagian membawa potluck, makanan atau minuman yang dibawa peserta untuk dinikmati bersama. Biasanya pembagian potluck membuat peserta berharap-harap cemas. Semua ingin membawa yang terbaik dan dipuji oleh para peserta. &lt;br /&gt;Latbar bukan tempat mencari untung bagi penyelenggara. “Semua dihitung di lokasi dan dibagi dengan sejumlah peserta. Instruktur juga gratis,” kata Lia, salah satu moderator.&lt;br /&gt;Berbeda dengan komunitas kuliner lainnya yang menitikberatkan pada petualangan kuliner, bagian dari tempat kursus kuliner, atau yang bersifat komersial, FM berusaha memenuhi semua kebutuhan itu. Ya latbar, ya jalan bareng untuk wisata kuliner, juga berburu pernik saji dan dapur, serta menjenguk dari toko ke toko.&lt;br /&gt;Saat latbar adalah saat berkumpul bersama keluarga besar. Benar-benar keluarga besar karena yang senior akan membantu para pendatang baru di dunia kuliner. Yang masih ‘ijo’ tidak segan bertanya pada yang dianggap lebih piawai. Di tempat itu semua berbagi ilmu dan mendapat ilmu baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto-foto milik FoodMonster&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-8539805103315978086?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/8539805103315978086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=8539805103315978086&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8539805103315978086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8539805103315978086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/03/ulang-tahun-para-monster.html' title='Ulang Tahun Para ‘Monster’'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-g_8kKAthkpo/TZMlo36r81I/AAAAAAAAAPg/hULVjvJMVls/s72-c/2503food4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-5838488340840770928</id><published>2011-03-30T19:36:00.004+07:00</published><updated>2011-03-30T19:41:39.428+07:00</updated><title type='text'>Nggowes Bareng ‘Hantu’</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-duXRl6au0D0/TZMk24Lt6nI/AAAAAAAAAPY/tng7afaXfCM/s1600/IMG00121-20110121-2044.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-duXRl6au0D0/TZMk24Lt6nI/AAAAAAAAAPY/tng7afaXfCM/s320/IMG00121-20110121-2044.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589852087709985394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat malam menjadi hari paling ditunggu anggota komunitas BikeBerry. Sepintas namanya memang mirip ponsel karena ketika mancal sepeda, sebagian besar peserta memakai Blackberry. Nama BikeBerry pun dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih Minggu pagi atau Sabtu pagi untuk mancal sepeda sudah biasa. Komunitas yang satu ini justru memilih malam hari untuk melemaskan kaki. Karena banyak yang bekerja lima hari, Jumat adalah hari paling buncit yang harus dinikmati hingga ‘tetes’ jam terakhir.&lt;br /&gt;Acara dugem pun digelar. Jangan membayangkan dugem BikeBerry dengan ber-ajib-ajib sambil bergoyang. Sama sekali tidak. Dugem mereka dilakoni dengan mancal sepeda menembus malam. Sama-sama menghabiskan malam, puncak dugem bagi BikeBerry adalah berwisata kuliner. Lokasinya selalu berubah bergantung pada rute ngonthel dan informasi tempat makan yang sedap. &lt;br /&gt;Selalu ada alasan untuk berwisata kuliner. Alasan yang paling masuk akal adalah setelah menggowes berkilometer tentu saja perut menagih upah. Menurut Bonggo Gunawan, 43, Jumat malam adalah saat bertemu dengan sekitar 80 anggota BikeBerry. “Biasanya kami berkumpul pukul 19.00 dan mulai menggowes pukul 20.00. Tujuannya sudah disepakati lebih dulu, tetapi yang jelas harus ada wisata kulinernya,” kata Bonggo.&lt;br /&gt;Acara mengukur jalan malam hari itu berakhir pukul 23.00 WIB dengan kembali ke tempat semula. Mereka membuat peraturan bersama bahwa berangkat dari satu titik dan kembali ke titik yang sama. Itu untuk memastikan semua peserta tetap lengkap dan tidak ada yang terselip di tempat lain.&lt;br /&gt;Jadwal tetap gowes disepakati setiap Selasa dan Jumat malam dengan Night Ride (NR), Sabtu dan Minggu dengan Morning Ride (MR), dan Car Free Day (CFD) setiap Minggu. Peminat terbanyak berkumpul di Jumat malam. Sepertinya tidak ada hari tanpa sepeda. Setiap hari mereka ramai menentukan rute baru, tempat kuliner baru, segala urusan tentang sepeda di milis bikeberry@yahoogroups.com yang diikuti 325 anggotanya. Cagar budaya dan ikon Surabaya menjadi salah satu tujuan. Anggota BikeBerry punya jadwal sendiri-sendiri yang bisa dipilih. Ngonthel Selasa malam biasanya diikuti sekitar 40 peserta. MR menjadi pertemuan yang ‘normal’ karena dilakukan pagi hingga siang. NR mereka yang terakhir ke Citraland dengan jarak tempuh 40 km pergi-pulang.&lt;br /&gt;Awalnya, tidak ada komunitas sepeda yang memilih malam sebagai hari menjelajah. Akan tetapi, dengan segala kenikmatan malam hari, kini banyak komunitas sepeda yang menjajal wilayah malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peraturan lain di BikeBerry adalah berhelm, sepeda harus menggunakan lampu, dan mematuhi aturan lalu lintas. Slogan kami Wajib Pakai Helm dan Lampu serta Patuhi Aturan Lalu Lintas!!!” kata Bonggo.&lt;br /&gt;Peraturan itu sepintas sepele, tetapi banyak juga yang enggan ribet mengenakan helm atau memasang lampu. Demi menegakkan peraturan, meski ribet, semua anggota harus mematuhi jika ingin tetap mancal sepeda di komunitas yang berdiri 7 Oktober 2008.&lt;br /&gt;“Untuk urusan yang satu itu kami memang saklek. Ada yang menganggap acara nggowes kami terlalu santai dan terlalu ribet. Akan tetapi, kami memang mengutamakan keamanan,” tambah Bonggo.&lt;br /&gt;Oleh karena kebutuhan anggotanya makin banyak, BikeBerry memiliki subkomunitas bernama Surabaya Folding Bike (SFB). Acaranya sama meski yang terakhir ini lebih untuk mewadahi mereka yang punya sepeda sama. Meski begitu, anggotanya tetap karena biasanya satu orang memiliki lebih dari satu jenis sepeda. Sepeda yang ngetop sekarang adalah sepeda lipat dan fixie. &lt;br /&gt;Anggota komunitas ini berumur 30-40 tahun. Hanya ada beberapa yang berusia 40 tahun ke atas. “Saya termasuk golongan minoritas dan karena dianggap tua, mereka memanggil saya Opa,” kata Bonggo.&lt;br /&gt;Akan tetapi, setelah fixie dan sepeda lipat menjamur, anggota yang bergabung lebih bervariasi. Saat ini banyak mahasiswa menjadi peserta tetap menggowes malam maupun pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto milik Komunitas Bikeberry&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-5838488340840770928?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/5838488340840770928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=5838488340840770928&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5838488340840770928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5838488340840770928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/03/nggowes-bareng-hantu.html' title='Nggowes Bareng ‘Hantu’'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-duXRl6au0D0/TZMk24Lt6nI/AAAAAAAAAPY/tng7afaXfCM/s72-c/IMG00121-20110121-2044.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-8881293219112793962</id><published>2011-03-30T19:32:00.000+07:00</published><updated>2011-03-30T19:34:06.599+07:00</updated><title type='text'>Hemat Atau Pelit?</title><content type='html'>Uang ada, tetapi sayang dikeluarkan untuk menraktir teman. Bukankah masing-masing sudah menda&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;pat jatah uang makan dari kantor? Bukankah urusan makan siang adalah kewajiban pemilik perut masing-masing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menghadapi teman seperti yang sulit menarik selembar uang dari dompetnya, sebenarnya itu hemat atau pelit? Sulit membedakan sifat pelit dan kebiasaan hemat. Paling tidak bagi Mariana, 32. Ibu satu balita itu mengeluhkan kepelitan Doni, 32, suaminya.&lt;br /&gt;“Ketika pacaran sebenarnya saya sudah menangkap sinyal itu. Jika makan berdua dia tidak pernah mau masuk restoran, maunya makan di kafe biasa. Satu-satunya acara belanja datang ketika musim diskon,” kata karyawan di perusahaan farmasi di Sidoarjo. Doni juga bekerja di perusahaan yang sama.&lt;br /&gt;Doni hanya tertawa mendengar penuturan istrinya. Dia membenarkan cerita itu. Akan tetapi, Doni punya alasan lain. “Jika bisa makan di tempat yang biasa-biasa saja dan itu sudah membuat kenyang, mengapa harus ke restoran? Saya membayar makanannya dan bukan pelayanan serta suasananya,” ungkap Doni. “Tentang belanja saat diskon, saya punya alasan juga. Kebutuhan sehari-hari saya tidak banyak dan itu bisa dipenuhi dari minimarket dekat rumah. Kebutuhan lain seperti baju kan tidak sering. Saya senang punya baju baru, tetapi jika itu bisa dibeli saat diskon, bukankah lebih menguntungkan? Saya bisa kok menahan diri untuk kebutuhan yang bisa ditunda sampai ada diskon,” tambah Doni.&lt;br /&gt;Doni justru merasa heran dengan luapan tak berdaya istrinya ketika tidak punya uang. Istrinya akan mengucapkan kaul seperti kalau nanti punya uang, mau beli dua tas baru atau pokoknya bulan depan akan beli jaket panjang. Harus. Sikap Mariana itu yang tidak ada dalam kamus Doni.&lt;br /&gt;Kenali sifat pasangan. Menurut David Bach, penulis Smart Couples Finish Rich, sikap impulsif Mariana yang berusaha mewujudkan janjinya ketika sedang tidak punya uang akan dianggap boros oleh Doni. Sebaliknya, Mariana merasa Doni superhemat alias pelit.&lt;br /&gt;Carmen Wong Ulrich, perencana keuangan, menyatakan bahwa setiap orang memiliki tujuan tentang uang. Ada yang menganggap uang adalah sumber kebahagiaan, ada juga yang menganggap uang harus disimpan untuk hari tua, atau anggapan bahwa uang diciptakan untuk dihabiskan. Pasangan yang akan menikah sebaiknya sudah sejalan dengan tujuan uang. “Jika kebutuhan utama pasangan muda adalah memiliki rumah, maka suami-istri harus saling membantu untuk mewujudkannya. Dengan mengetahui tujuan uang masing-masing, ia akan belajar memahami cara berpikir pasangannya tentang uang,” tutur Carmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hemat Vs Pelit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya perbedaan antara hemat dan pelit? Dalam keuangan, kedua sifat itu bisa jadi berimpitan. Krisis keuangan membuat orang harus mulai hidup hemat dan lebih banyak menabung, untuk memberi kemandirian finansial. Wajar bila kemudian dicri cara untuk memangkas pengeluaran. &lt;br /&gt;Apa ciri-ciri orang hemat? Yang sederhana adalah membeli barang-barang yang dibutuhkan saat ada diskon. Kebutuhan sehari-hari yang biasanya dalam jumlah besar sebaiknya memang diburu saat diskon. Berbekal lembaran daftar promo, barang kebutuhan dapat diperoleh dengan harga miring. Itu adalah hemat. Anda termasuk kategori pelit apabila hanya mau membeli barang yang didiskon. Selain yang didiskon, tidak diambil meski sebenarnya membutuhkannya. Akibatnya, orang akan memburu barang-barang murah meski sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.&lt;br /&gt;Menabung memang harus, tetapi jika semua penghasilan ditabung dan tidak menyisihkan sebagian untuk menikmati hidup, jangan-jangan sudah masuk wilayah pelit. Menurut Koeswara dari Unika Widya Mandala Surabaya, dalam membagi pos pengeluaran, sisihkan untuk ‘bersenang-senang’. “Jumlahnya tidak lebih dari 30 persen setelah dipotong untuk membayar kewajiban seperti utang, kredit rumah, kredit kendaraan, dan lain-lain. Jumlah itu cukup memadai. Persentasenya jangan terlalu besar karena akan membuat boros, tetapi juga jangan terlalu kecil sehingga menjadi pelit,” kata Koeswara.&lt;br /&gt;Pelit namanya jika naik kendaraan umum bersama anak dan Anda memaksa diri memangku anak yang seharusnya bisa duduk sendiri hanya agar bisa membayar untuk satu orang. Lihatlah betapa penumpang lain harus berdesakan karena porsi tempat duduk Anda menjadi lebih luas. &lt;br /&gt;Menyusun anggaran dan menabung harus dilakukan secara terukur, agar bisa tetap bertahan hidup dengan layak, dan mencapai tujuan finansial yang diinginkan. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;end&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-8881293219112793962?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/8881293219112793962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=8881293219112793962&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8881293219112793962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8881293219112793962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/03/hemat-atau-pelit.html' title='Hemat Atau Pelit?'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-8736143563590115404</id><published>2011-03-30T19:24:00.002+07:00</published><updated>2011-03-30T19:32:52.960+07:00</updated><title type='text'>Jangan Banyak Dipikir, Langsung Action</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-BdnoB1AxlDo/TZMiXleQqaI/AAAAAAAAAPA/NMq5cpVJxjk/s1600/IMG_6680.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-BdnoB1AxlDo/TZMiXleQqaI/AAAAAAAAAPA/NMq5cpVJxjk/s320/IMG_6680.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589849351088286114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu orang merasa cukup aman dengan tabungan yang diambil dari sisa pengeluaran per bulan, cara seperti itu sudah tidak bisa dilakukan lagi karena bunga tabungan tidak lagi menjadi jaminan untuk biaya hidup masa depan. “Saatnya menambah jumlah tabungan dan mulai berinvestasi pada bentuk lain. Bisa dengan logam mulia seperti emas atau berwirausaha,” kata Daniel Tulasi, Perencana Keuangan dari Unika Widya Mandala Surabaya.&lt;br /&gt;Sejalan dengan Daniel, perencanaan keuangan Ligwina Hananto dalam bukunya Plan Now, juga menyarankan menyisihkan uang untuk berinvestasi. Biasakan cermat mengelola uang, manfaatkan investasi berkala, tentukan tujuan finansial utama dan tujuan finansial lainnya. Mulai mengubah dan mengaktifkan uang. Siapkan dana darurat dan dana cadangan, raih tujuan finansial terdekat -jangka pendek dan menengah- serta tambah dana darurat hingga lebih dari 12 bulan. Alokasi dana pembelian aset aktif. Awali dengan menambah pengetahuan tentang keuangan, mencari lokasi informasi alternatif aset aktif (bisnis, properti, surat berharga) setelah itu baru action. Menerima pendapatan pasif. Beli aset aktif dan mulailah menerima pendapatan pasif sehingga jumlahnya  makin lama setara dengan pengeluaran bulanan. Sambil menunggu, teruslah mencari informasi alternatif aset aktif.&lt;br /&gt;Berapa jatah untuk berinvestasi saat ini? Jika memiliki dana Rp 5 juta-Rp 10 juta, mahasiswa atau ibu rumah tangga bisa memulainya dengan mudah. Christine Wuryanano yang disapa Christine Wu menyarankan untuk melakukan usaha sesuai hobi. Jika hobi memasak, silakan dijual ke tetangga atau saat arisan keluarga. “Ada juga usaha tanpa modal yaitu bisnis online. Mahasiswa saya melakukan trik itu. Dia memasang barang, dan ketika uang pesanan ditransfer, dia membelikan barang itu. Selisihnya menjadi keuntungan yang jika dikumpulkan akan besar,” kata Christine. Dalam bisnis online, para ibu di rumah bisa menjalankan bisnisnya bahkan hanya dengan mengenakan daster.&lt;br /&gt;Christine menambahkan bahwa jika ingin berbisnis, segera action. “Jangan banyak berpikir karena hanya memupuk kekhawatiran.”&lt;br /&gt;Jika yang dikhawatirkan kegagalan dan modal tidak kembali, Christine punya cara lain. Dia tidak pernah menyebut itu gagal, tetapi belajar. Dengan begitu, tidak ada kamus gagal dalam usahanya. Yang ada hanya belajar.&lt;br /&gt;“Itu karena dalam setiap kesalahan, saya belajar untuk tidak mengulangi dan mengambil jalan lain agar tidak terulang,” tuturnya. Perempuan yang menjadi Wanita Inspirasi 2009 oleh Tabloid Nova itu pernah jatuh bangun dalam bisnis. Ketika nyemplung dalam usaha herbal, uang ratusan juta tersedot dan bisnis itu tidak kunjung meledak seperti yang diharapkannya. &lt;br /&gt;Ide segar justru datang dari anaknya, Riyadh Ramadhan. Siswa kelas XII itu melihat outlet milik ibunya di Royal Plaza Surabaya tidak hoki jika digunakan berbisnis herbal. Outlet itu diminta dan Riyadh menyodorkan ide untuk menjual gorengan. &lt;br /&gt;“Sederhana, kan?! Awalnya saya sangsi, tetapi setelah dipelajari oke juga. Dia menjual gorengan kelas atas,” cerita Christine. &lt;br /&gt;Riyadh memberi nama Go Crunz! untuk usaha gorengan itu. Jamur menjadi gorengan andalan awalnya. Kemudian ditambah dengan bahan lain. Kini, Riyadh membuktikan idenya lebih diterima. Alasannya masuk akal. Di lantai 3 Royal Plaza, outlet milik ibunya yang berbisnis herbal dianggapnya tidak sejalan dengan sekitarnya yang memang berisi outlet makanan dan minuman.&lt;br /&gt;Kini, Riyadh yang mulai membuka waralaba untuk Go Crunz! Sejak Oktober lalu boleh bernapas lega karena gorengan yang dikemas apik itu mulai mendatangkan keuntungan. Supaya berbeda dengan gorengan lain, kemasan dibuat ‘berkelas’ karena yang disasar memang pembeli dari kalangan atas.&lt;br /&gt;“Riyadh membuktikan bahwa idenya membuat bisnis makanan memang menjanjikan. Itu juga yang membuat saya makin bersemangat mengurusi Cupbol,” ungkap Christine yang kini sudah memiliki mitra Cupbol di Sidoarjo, Mojokerto, Madiun, Lumajang, Jember, Pasuruan, Malang, Tulungagung, dan Jambi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kreatif Tampilan Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konsumen yang ditangani Christine rentan berpindah ke lain hati karena Cupbol mudah ditiru. Apalagi dia memang tidak menyimpan rahasia resep. “Tidak ada yang saya sembunyikan. Cara lain agar konsumen kembali adalah dengan mengemas penganan ini menjadi kreatif,” katanya. &lt;br /&gt;Dia justru gembira jika ada yang membuat usaha serupa sehingga ada persaingan dan memancing ide kreatif. Itu sejalan dengan jurus ATM, amati, tiru, dan modifikasi yang dibagikan Christine pada mahasiswanya.&lt;br /&gt;Awalnya, Cupbol hanya memiliki tiga rasa yaitu isi ragout, cokelat, dan stroberi. Hanya dalam waktu satu bulan konsumen mulai bosan. Christine memutar otak dengan mencari ide baru supaya konsumen mencoba. &lt;br /&gt;Ternyata percobaan itu berhasil. Kini ada 21 varian yang bisa dipilih. Demikian juga dengan Go Crunz! yang terus menambah bahan untuk gorengannya. Jika sebelumnya jamur menjadi andalan, Riyadh mulai mencoba potongan ayam. Ternyata pelanggan menyukainya. Sebagai bahan percobaan lain adalah ketika dia menyajikan kulit ayam yang garing. Menu yang satu ini memang unik karena tidak banyak yang menyajikan kulit ayam untuk camilan kelas atas. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;end&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto milik Christine Wu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-8736143563590115404?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/8736143563590115404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=8736143563590115404&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8736143563590115404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8736143563590115404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/03/jangan-banyak-dipikir-langsung-action.html' title='Jangan Banyak Dipikir, Langsung Action'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-BdnoB1AxlDo/TZMiXleQqaI/AAAAAAAAAPA/NMq5cpVJxjk/s72-c/IMG_6680.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-7032532542543669464</id><published>2011-03-30T19:21:00.000+07:00</published><updated>2011-03-30T19:24:13.967+07:00</updated><title type='text'>Atur Lagi Keuangan</title><content type='html'>Perencanaan keuangan pribadi merupakan proses pengelolaan keuangan untuk mencapai kepuasan ekonomi pribadi. Setiap orang, keluarga, rumah tangga memiliki posisi keuangan yang unik sehingga setiap aktivitas keuangan harus direncanakan secara hati-hati untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan.&lt;br /&gt;Keuntungan dari perencanaan keuangan pribadi antara lain peningkatan penghasilan, penggunaan uang, dan perlindungan terhadap penghasilan lebih tertata. Itu diperlukan untuk mengendalikan diri dan menghindari utang berlebihan, kebangkrutan, dan ketergantungan pada orang lain. Jika keputusan keuangan direncanakan dengan baik dan dikomunikasikan dalam keluarga, hubungan kekeluargaan makin kuat dan menyenangkan karena bebas dari ketakutan finansial. Dengan demikian, keluarga dapat mengantisipasi pengeluaran dan menyiapkan masa depan.&lt;br /&gt;Yang perlu dilakukan adalah duduk bersama pasangan dalam suasana menyenangkan. Anda dan harus memetakan kondisi keuangan saat ini. Pada tahap pertama, seorang harus menentukan kondisi keuangannya dengan memerhatikan beberapa hal pokok yakni pendapatan, tabungan, pengeluaran-pengeluaran, dan utang. Siapkan sebuah catatan mengenai neraca aset dan utang serta jumlah pengeluaran untuk berbagai jenis pengeluaran.&lt;br /&gt;“Pengeluaran itu harus sesuai dengan kebutuhan keluarga karena itu harus realisitis, spesifik, terukur, memiliki time frame yang jelas dan dapat diwujudkan,” kata Daniel Tulasi, Perencana Keuangan dari Unika Widya Mandala Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menyusun Anggaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan Anda dan suami disatukan. Itu adalah pemasukan keluarga. Jika ada penghasilan dari usaha lain yang rutin, itu juga dihitung. Setelah angka didapat, 30 persen dari penghasilan untuk pos investasi.&lt;br /&gt;Setelah itu pengeluaran selama sebulan didata. Pengeluaran rutin seperti listrik, air, telepon, biaya pendidikan anak, transportasi, biaya kesehatan, belanja bulanan dan harian, gaji pekerja di rumah, hingga uang saku. Jangan lupa mendata pengeluaran untuk cicilan utang baik kredit rumah, kendaraan, maupun barang lain.&lt;br /&gt;Di dalam daftar pengeluaran, masukkan juga pos darurat dan pos tabungan. Pos darurat itu sebaiknya tidak diutak-atik hingga memang benar-benar dibutuhkan. Pos tabungan digabung dengan pengeluaran karena mengambil sebagian penghasilan.&lt;br /&gt;Itu adalah daftar panjang bulanan. Sandingkan pengeluaran itu dengan total 70 persen penghasilan. Jika dari seluruh pengeluaran ternyata masih ada sisa, keuangan keluarga bisa dikatakan cukup sehat meski pos untuk tabungan dan pos darurat makin lama harus semakin besar jumlahnya. Pos darurat ini harus diantisipasi hingga jumlahnya mencapai 6-12 kali penghasilan layak saat ini. Artinya, jika terjadi sesuatu pada Anda dan suami –misalnya di-PHK-- maka masih ada cadangan dana untuk hidup layak selama 6-12 bulan. Pada saat itu diharapkan Anda dan suami sudah memiliki sumber penghasilan baru.&lt;br /&gt;Disiplin menjalankan rencana menjadi salah satu kunci agar keuangan keluarga tetap aman dari bulan ke bulan. “Selain itu, rencana keuangan harus selalu dikoreksi. Perencanaan keuangan merupakan sebuah proses yang tidak pernah akan berakhir. Masyarakat selalu berubah, kebutuhan dan keinginan manusia pun berubah. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terus-menerus untuk menjamin bahwa tujuan keuangan akan terwujud dengan pilihan keputusan yang telah ditetapkan, atau jika perlu melakukan perubahan rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keuangan saat ini,” tambah Daniel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rencana Keuangan yang Tidak Pernah Berhenti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saatnya mengidentifikasi serangkaian tindakan alternatif karena kebutuhan makin hari makin besar. Tahap ini amat penting karena banyak pilihan yang harus diperhitungkan. Meski tindakan altenatif banyak, namun harus mengacu pada beberapa pedoman berikut. Serangkaian tindakan yang sama harus dilakukan terus-menerus, misalnya menabung dalam jumlah yang sama setiap bulan. &lt;br /&gt;Jika dulu orang merasa cukup aman dengan tabungan yang diambil dari sisa pengeluaran per bulan, cara seperti itu sudah tidak bisa dilakukan lagi karena bunga tabungan tidak lagi menjadi jaminan untuk biaya hidup masa depan. “Saatnya menambah jumlah tabungan dan mulai berinvestasi pada bentuk lain. Salah satunya adalah logam mulia seperti emas. Emas yang menjadi investasi sebaiknya emas batangan karena harganya relatif stabil,” kata Daniel.&lt;br /&gt;Pilih dan wujudkan suatu rencana. Setelah menetapkan sebuah rencana, misalnya akan membeli kendaraan atau rumah, tindakan maka harus diwujudkan dalam kehidupan. Misalnya jika ingin meningkatkan tabungan saat ini maka harus dilakukan penghematan pengeluaran atau meningkatkan pendapatan.&lt;br /&gt;Jika anggaran keluarga sudah dibuat dan ternyata pengeluaran bulan ini lebih besar dari penghasilan, bagaimana mengatasinya? Yang pertama adalah merevisi rencana anggaran. Seleksi lagi anggaran yang dapat dirampingkan atau bahkan dicoret untuk sementara. Supaya keuangan tetap sehat, bersihkan dulu dari segala macam utang. Tunggakan kartu kredit harus segera ditutup agar bunganya tidak makin menjerat. Jika tunggakan kartu kredit memang masuk kondisi kritis, relakan pos tabungan untuk menutup semua utang. Segera setelah utang yang makin membengkak dilunasi, sehatkan keuangan dengan membuat rencana keuangan baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-7032532542543669464?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/7032532542543669464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=7032532542543669464&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/7032532542543669464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/7032532542543669464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2011/03/atur-lagi-keuangan.html' title='Atur Lagi Keuangan'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-5007861343445808352</id><published>2010-10-14T08:36:00.003+07:00</published><updated>2010-10-14T08:52:12.227+07:00</updated><title type='text'>Mantra Pawang Hujan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kajian Medan Makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah Imawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Olimpiade Beijing 2008, hujan menjadi kekhawatiran penyelenggara pesta olahraga akbar ini. China menyiapkan tiga teknologi mutakhir untuk menghindari hujan. Pertama, dia menyiapkan meriam penangkis udara yang berisi garam iodium untuk mengikat butiran air di awan. Kedua, dengan menyediakan peluncur roket jika upaya pertama gagal dilakukan. Ketiga, menggunakan pesawat ringan untuk menebarkan katalis pada awan hitam. Dan terbukti, dengan upaya pertama saja mendung berhasil disingkirkan dan olimpiade berlangsung tanpa hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja teknologi ini sangat mahal. Bangsa kita punya cara yang relatif murah dan mudah dilakukan yaitu dengan minta bantuan pawang hujan untuk menyingkirkan tetesan hujan di daerah tertentu. Pawang hujan sebagai perantara menurut kelaziman sebenarnya tidak boleh memasang tarif. Tetapi biasanya mereka diberi sangu (uang saku) mulai Rp250.000,00 sampai Rp1.500.000,00 bergantung jenis hajatan pengundang. Jika hanya acara khitan, pesta perkawinan, tentu lebih murah dibandingkan dengan acara besar seperti pentas musik, sepak bola, atau acara yang melibatkan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya murah, jasa pawang hujan dengan mantranya sebenarnya merupakan kekayaan budaya Indonesia. Di Jawa, keberadaan mereka masih tak tergantikan oleh teknologi karena terbukti hasilnya bisa diandalkan. Paling tidak bagi penyelenggara pertandingan sepak bola, nama Ki Ageng Sumari cukup dikenal. Dia dipercaya ‘menjaga’ situasi agar hujan tidak turun ketika Persebaya turun ke lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra yang diucapkan Ki Ageng Sumari ini awalnya mantra kejawen tetapi kini dia menggunakan doa Islam sebagai pembuka meskipun ritualnya tetap kejawen. Profesi ini membuat Ki Ageng Sumari sering dimintai bantuan untuk menahan hujan di suatu tempat.&lt;br /&gt;Ada lagi Joko Hari Nugroho, pawang hujan amatir yang dikenal dalam lingkungan terbatas yang bisa menahan hujan dengan doa-doa Islam yang sebenarnya tidak bisa dimasukkan dalam mantra. Tetapi karena Joko Hari Nugroho juga memasukkan unsur mantra, maka unsur ini yang akan dikaji maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah agar tidak turun hujan di antara orang Betawi keturunan China memiliki kebiasaan untuk menusukkan sebutir bawang merah dan sebutir cabai merah pada tusuk sate yang kemudian ditancapkan pada pagar rumah. Untuk mencegah agar pada pesta pernikahan tidak turun hujan, orang Jawa Timur keturunan China mencegahnya dengan melarang mandi pada para calon mempelai sejak kemarin petangnya (Danandjaja, 1997:165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian atas sastra lisan seperti mantra perlu dilakukan karena dari kajian-kajian ini akan terlihat budaya Indonesia yang beragam. Kajian linguistik pada mantra juga bisa menepis anggapan bahwa mantra selalu berkonotasi negatif. Bagi sebagian orang Jawa, sepanjang hidupnya selalu ada mantra yang menyertai mulai dari dalam kandungan, lahir, tumbuh, menikah, hingga mati. Ini menarik untuk dikaji.&lt;br /&gt;Fungsi sastra lisan dalam masyarakat antara lain mengetahui apakah peranan sastra di dalam masyarakat. Jika sastra berperan dalam masyarakat, sedikit ataukah banyak ia mencerminkan keadaan budaya dan tata susunan masyarakat? Jika sastra lisan merefleksikan keadaan masyarakat, apakah yang direfleksikan itu (Hutomo, 1991:18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, kajian makna mantra akan menambah kekayaan penelitian linguistik mengenai bahasa yang digunakan dalam budaya masyarakat. Meski dianggap kuno, kenyataannya sampai saat ini mantra masih berkembang meski sudah dimodifikasi. Penelitian tentang mantra membuktikan bangsa ini memiliki kekayaan budaya yang layak diteliti.  Kajian makna mantra akan menambah kekayaan penelitian sastra lisan maupun linguistik mengenai bahasa yang digunakan dalam budaya masyarakat. Jasa dan mantra pawang hujan masih banyak digunakan dalam masyarakat. Manfaat penelitian ini untuk mengetahui makna mantra yang digunakan pawang hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang akan dibahas hanya pada mantra dan bukan doa. Karena dua pawang hujan yang menjadi sumber data sudah mengolaborasikan mantra dengan doa Islam, maka doa Islam tidak akan dibahas karena tidak termasuk dalam mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri sastra lisan adalah penyebarannya melalui mulut, lahir di dalam masyarakat yang berdorak desa, masyarakat di luar kota, atau masyarakat yang belum mengenal huruf. Sastra lama menggambarkan ciri budaya suatu masyarakat sebab sastra itu warisan budaya, tidak diketahui siapa pengarangnya dan oleh karena itu menjadi milik masyarakat. Sastra ini bercorak puitis, teratur, berulang-ulang, juga tidak mementingkan fakta dan kebenaran kebih menekankah pada aspek khayalan/fantasi yang tidak bisa diterima masyarakat modern. Biasanya, sastra lisan itu terdiri dari beberapa versi, menggunakan bahasa lisan sehari-hari, tidak menggunakan dialek, dan kadang-kadang diucapkan tidak lengkap (Hutomo, 1991:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra pawang hujan sebenarnya termasuk sastra lisan primer meskipun sekarang banyak yang menuliskan mantra milik pawang hujan ini. Sastra lisan primer adalah hasil sastra lisan yang tidak dikenal versi tulisnya dan penyampaiannya umumnya secara langsung dan terlebih dulu tidak perlu menghafalkan teks tulis. Sebaliknya, sastra lisan sekunder adalah hasil sastra lisan yag didahului oleh teks tulisannya. Teks tulis ini dibaca dan dihafal baru kemudian dilisankan pada khalayak pendengar (Hutomo, 1998:224).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra merupakan salah satu produk sastra sebagai sebuah kebudayaan yang pernah mewarnai kehidupan masyarakat di Nusantara. Matra bisa berupa puisi lisan yang berpotensi memiliki kekuatan gaib atau semacam doa yang memanfaatkan bahasa lokal dengan didasari oleh keyakinan yang telah diwariskan oleh para leluhur. Agar dapat dimanfaatkan, mantra tidak cukup untuk sekadar dihafalkan, tetapi harus disertai laku mistik (Saputra, 2007:xxv). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra menurut leksikon Sansekerta berasal dari kata man/manas ‘berpikir/pikiran’ dan tra/tri ‘melindungi’. Jadi, apabila kita berpijak pada pengertian tersebut, artinya mantra bersifat melindungi pikiran manusia dari nafsu-nafsu rendah duniawi. Secara sederhana mantra diartikan sebagai perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (KBBI, 2008:876). Tim Penyusun Kamus berpendapat tentang pengertian mantra adalah (1) perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib (misal: dapat menyembuhkan; mendatangkan celaka; dan sebagainya); (2) susunan kata berunsur puisi yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra memiliki banyak jenis berdasarkan fungsinya, yaitu mantra pengasihan, mantra kanuragan, mantra kasuksman, mantra pertanian, mantra dagang/penglarisan, mantra panyuwunan, mantra panulakan, mantra pengobatan, mantra trawangan/sorog, mantra panglarutan, mantra sirep/panglerepan, mantra pangracutan, dan mantra dhanyangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era modern dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, ternyata masih menyisakan ruang bagi tradisi lisan, khususnya mantra. Namun pada kenyataannya tradisi lisan hanya mampu berkembang di pelosok-pelosok desa. Kebingungan manusia untuk membedakan antara tradisi dan modern, akhirnya menuntut manusia untuk menggabungkan antara yang dianggap tradisi dan yang dianggap modern. Dalam kehidupan masyarakat modern, tidak jarang mantra menunjukkan keberadaannya pada situasi-situasi tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan dan kepenatan berbagai permasalahan hidup di zaman modern ini, oleh sebagian masyarakat Jawa khususnya, mantra dipercaya dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai berbagai keinginannya. Yang menarik, mantra menunjukkan keberadaannya yakni mampu mengatasi berbagai permasalahan seperti rumah tangga, percintaan, ketenagakerjaan, kesehatan, hukum adat (warisan), pekerjaan, pertanian, tolak balak, tumbal, dan perdagangan.&lt;br /&gt;Sebagai produk bahasa, mantra memiliki medan makna sesuai dengan latar belakang penuturnya. Menurut Harimurti Kridalaksana dalam Chaer (2002), medan makna (semantic field, semantik domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah teori medan makna berkaitan dengan teori bahwa perbendaharaan kata dalam suatu bahasa memiliki medan struktur, baik secara leksikal maupun konseptual, yang dapat dianalisis secara sinkronik, diakronis, maupun secara paradigmatik (Aminuddin, 2008:108). Ini dikuatkan oleh Sembiring (2005:49) dalam kumpulan tulisan Pesona Bahasa yang menyatakan medan merupakan istilah yang mengacu pada hal atau topik. Medan makna merupakan subjek atau topik dalam teks untuk pembicaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan F. De Saussure dalam Parera (2004:138) mengungkapkan bahwa medan makna adalah suatu jaringan asosiasi yang rumit berdasarkan pada simililaritas atau kesamaan, kontak/hubungan, dan hubungan-hubungan asosiatif dengan penyebutan satu kata. Makna kata ditentukan oleh tempat titik yang menggambarkannya dalam keseluruhan jaringan. Aspek yang paling penting dari jaringan semantik ini ialah hubungan hierarki dari sebuah himpunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian yang akan dipakai adalah makna mantra sebagai perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib dan medan makna menurut Harimurti Kridalaksana. Penelitian tentang fungsi mantra pawang hujan ini memanfaatkan teori Ruth Finnegan yang menguraikan pengaruh puisi lisan termasuk mantra. Menurut Finnegan, pengaruh puisi lisan tidak harus bergantung pada sifat permanen teks, tetapi pada lingkungan sekitar tempat puisi lisan (Sudikan, 2001:115). Secara umum, puisi lisan meliputi ritual penyembuhan, penyelesaian perselisihan, menambah kekhidmatan upacara, memberi kenyamanan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Struktur Pembangun Mantra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hartarta (2009), struktur mantra tidak memiliki pola umum, jadi unsur-unsur di atas tidak seluruhnya benar apabila diterapkan untuk mantra yang dimiliki pawang hujan. Secara garis besar struktur di dalam tubuh mantra menjadi 3 unsur yaitu awal/purwa, tengah/madya, dan akhir/wasana. Jika dijabarkan, struktur pembangun mantra biasanya terdiri dari beberapa hal berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Komponen Salam Pembuka&lt;br /&gt;Unsur pembuka adalah kata pertama yang terdapat pada mantra yang berisi salam pembuka. Biasanya menggunakan kata-kata yang diadopsi dari bahasa Arab, bahasa Sanskerta (Hindu), dan bahasa Jawa. Komponen pembuka merupakan pengakuan tunduk, takhluk, dan mohon perlindungan Allah penguasa semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Komponen Niat&lt;br /&gt;Secara tegas dan jelas dinyatakan dengan kata kunci niat. Makna kata niat sering disejajarkan dengan kata tekad. Dalam konteks pemanfaatan mantra tertentu harus disesuaikan dengan niat atau keinginan yang akan dicapai. Niat diungkapkan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pengungkapan niat secara langsung melalui frasa niat ingsun (aku berniat), ingsun (sun) matek ajiku (aku berniat mengamalkan ajianku...), ingsun mateg mantram sakti kodrating Pangeran (aku mengamalkan mantram sakti dari Tuhan), dan sebagainya. Sedangkan pengungkapan niat secara tidak langsung adalah bahwa rasa niat tersebut terkandung di dalam mantra. Duh Allah Gusti muga-muga…. Niat memiliki kedudukan yang sangat penting karena keberhasilan atau hasil sebuah pekerjaan sangat bergantung dari niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Komponen Nama Mantra&lt;br /&gt;Komponen ini berisi dengan penyebutan nama sebuah mantra yang hendak digunakan (diamalkan, dimelkan). Biasanya dimulai dengan frasa ajiku (si) (nama mantra), disebut langsung dengan kata sapaan mbok, sira, atau Ismuku (nama mantra). Komponen nama sebuah mantra, terletak di bagian depan dalam sebuah mantra, sehingga masuk sebagai salah satu unsur head ’kepala, pendahuluan’. Tidak semua jenis mantra memiliki komponen nama ini karena nama mantra itu sendiri sekadar dilisankan oleh pihak pemberi mantra (dukun, sesepuh). Jadi, unsur ini hanya memberikan identitas nama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Komponen Sugesti&lt;br /&gt;Unsur sugesti adalah unsur yang berisi metafora-metafora atau analogi-analogi yang dianggap memiliki daya atau kekuatan tertentu dalam rangka membantu membangkitkan potensi kekuatan magis atau gaib pada mantra. Sugesti yang diterima adalah memiliki hal yang serupa disebutkan oleh kalimat mantra. Komponen sugesti untuk beberapa mantra didominasi oleh sentuhan-sentuhan mitologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Komponen Visualisasi dan Simbol&lt;br /&gt;Komponen viasualisasi boleh juga disebut sebagai komponen proses yang berisi perintah. Komponen ini merupakan bagian yang menggambarkan satu peristiwa yang menjadi tugas mantra terhadap sasarannya. Komponen visualisasi sangat dekat dengan komponen harapan dan gaya bahasa. Sedangkan simbol atau lambang yang terdapat di dalam mantra bisa juga merupakan sosok pembayangan yang terdapat di dalam mantra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Komponen Nama Sasaran&lt;br /&gt;Komponen ini berisi penyebutan nama sasaran (objek) yang hendak dituju. Sasaran dapat berupa nama perorangan maupun kelompok masyarakat (kolektif). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Komponen Tujuan&lt;br /&gt;Unsur tujuan merupakan muara atau maksud yang ingin dicapai oleh pemantra dalam mengamalkan mantra. Komponen tujuan ini semacam kesimpulan atau intisari dari rangkaian unsur-unsur yang membentuk struktur mantra. Unsur tujuan juga berfungsi untuk membedakan mantra satu dengan mantra yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Komponen Harapan&lt;br /&gt;Komponen ini merupakan komponen panyuwunan atau ’permintaan’ agar apa yang telah dilakukan (mengamalkan ajian atau mantra) dapat terlaksana dengan baik dan berhasil dengan gemilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Komponen Penutup&lt;br /&gt;Unsur penutup merupakan larik akhir yang biasanya juga menggunakan kata-kata dari bahasa Jawa maupun Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Kajian Data&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a. Pengumpulan Data&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data diambil dari mantra Ki Ageng Sumari, seorang pawang hujan yang menjadi orang kepercayaan tim Persebaya saat tim sepak bola ini turun bertanding. Data kedua adalah mantra yang biasa dilafalkan Joko Hari Nugroho, junalis, jika akan menahan hujan saat hajatan berlangsung. Data yang akan dianalisis hanya mantra di luar doa Islam yang digabungkan dalam mantra mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan Ki Ageng Sumari yang berbaju serba hitam saat melakukan ritual dalam sebuah acara, membuatnya langsung dikenali. Apalagi dia terus diam memerhatikan panggung yang menjadi 'tanggung jawabnya' selama acara berlangsung. Ki Ageng ini cukup modern karena dia familiar dengan teknologi komunikasi. Bahkan ketika dimintai data tentang mantra yang digunakannya saat menahan hujan dalam acara Jumpa Fans Cinta Fitri di Harian Surya, Jln. Rungkut Industri 68-70 Surabaya, pada 17 Januari 2010 dan Peresmian Gedung Baru Harian Surya pada 20 Januari 2010, Ki Ageng melafalkan dengan tegas. Supaya tidak terjadi salah persepsi, Ki Ageng kemudian menuliskan mantra itu di telepon selularnya dan dikirim lewat SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tertulis ini tentu saja tidak menggunakan bahasa penuh singkatan yang khas SMS karena ini berupa mantra. Data ini ditulis seperti data asli penulisan Ki Ageng Sumari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa iya kanas ta in wujudku kai fafa robuka… byak… byak…&lt;br /&gt;Sun matek aji montro dirgo&lt;br /&gt;Rogo mulyo roso jati ingsun&lt;br /&gt;Podo sebo marang dumadi&lt;br /&gt;Surodirojoyoningrat&lt;br /&gt;Lebur dening pangastuti&lt;br /&gt;Hayu hayu hayu rahayu&lt;br /&gt;Kersaning Gusti kang moho suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra Joko Hari Nugroho: &lt;br /&gt;Bismillahirachman hirrachim &lt;br /&gt;Niat ingsun nerang udan&lt;br /&gt;Kakang kawah adhi ari-ari &lt;br /&gt;Sedulur papat lima pancer&lt;br /&gt;Muhammad ya Rosulku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Selanjutnya membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, Annas, dan Ayat Kursi.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;b. Analisis Data&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap bentuk (lambang bunyi) memiliki makna atau mendukung makna. Analisis makna kadang-kadang menyampingkan analisis kata meski kata atau susunan kata kadang-kadang memiliki makna yang tidak dapat diramal dari makna keseluruhannya (Djajasudarma, 1999:49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa iya kanas ta in wujudku kai fafa robuka… byak… byak…&lt;br /&gt;Ini penulisan asli dari Ki Ageng Sumari. Maksudnya:&lt;br /&gt;Waiya ka nastain &lt;br /&gt;wujudku&lt;br /&gt;Kaifafa Robbuka&lt;br /&gt;Byak… byak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya&lt;br /&gt;Waiya   ka  nastain   &lt;br /&gt;Dan kepadaNya kami minta pertolongan &lt;br /&gt;Dan kepadaNya kami minta pertolongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujudku&lt;br /&gt;Ragaku&lt;br /&gt;Hai ragaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaifafa  Robbuka&lt;br /&gt;Perhatikan Tuhanmu&lt;br /&gt;Perhatikan Tuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Byak… byak…&lt;br /&gt;____      ____    (gerakan menyibak awan dan hujan)&lt;br /&gt;Dan tersibaklah awan yang mengandung air hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun  matek   aji  montro  dirgo&lt;br /&gt;Aku  memasang  jimat  mantra  udara&lt;br /&gt;Aku tengah menggunakan kekuatan gaib dalam mantra di jagat raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rogo  mulyo  roso  jati  ingsun&lt;br /&gt;Raga  mulia  rasa  sejati aku&lt;br /&gt;Seluruh raga dan rasaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Podo  sebo   marang  dumadi&lt;br /&gt;Semua  menghadap  kepada  yang terjadi&lt;br /&gt;Pasrah pada apa yang akan terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surodirojoyoningrat&lt;br /&gt;Angkara murka&lt;br /&gt;Agar semua angkara murka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebur   dening   pangastuti&lt;br /&gt;Mmelebur  dengan   memuja Yang Kuasa&lt;br /&gt;Lebur bersama saat memuja Tuhan yang Mahakuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayu   hayu   hayu   rahayu&lt;br /&gt;Selamat  selamat  selamat  selamat&lt;br /&gt;Selamat, semuanya dalam diberkahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kersaning  Gusti  kang  moho  suci&lt;br /&gt;Keinginan  Tuhan  yang  maha suci&lt;br /&gt;Sesuai dengan keinginan Tuhan yang Mahasuci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna mantra Ki Ageng Sumari ini untuk meminta agar awan tersibak, menyingkir, dari suatu tempat untuk sementara dengan seizin Tuhan. Meskipun telah menggunakan kekuatan, justru karena manusia tidak berdaya jika Tuhan tidak berkehendak, maka dia melebur seluruh rasa dan raga dalam kekuasaan Tuhan dalam kepasrahan total supaya angkara murka tidak mendekat. Dengan berserah sepenuhnya, maka seluruh alam akan selamat. Ini juga menjadi bentuk motiviasi untuk berjuang melawan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra Ki Ageng Sumari menggabungkan doa Islam dengan mantra dengan melihat sisipan wujudku dalam dua doa Islam di awal mantra. Matek aji artinya menggunakan atau memanfaatkan kekuatan gaib yang terkandung di dalam mantra dengan mekanisme prosesi ritual yang berupa laku mistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra Joko Hari Nugroho yang digunakan untuk menahan hujan adalah:&lt;br /&gt;Bismillahirachman hirrachim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;niat  ingsun  nerang   udan&lt;br /&gt;niat  saya  menahan  hujan&lt;br /&gt;Niat saya supaya hujan tidak turun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kakang kawah   adhi  ari-ari &lt;br /&gt;kakak  ketuban  adik  plasenta&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang tak kelihatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedulur papat  lima pancer&lt;br /&gt;saudara empat lima pusat&lt;br /&gt;Empat saudara spiritual dalam satu jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad  ya Rosulku&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Rosulku&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Rasulku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya membaca Al Fatihah (doa pembuka), Al Ikhlas (ketaukhidan, keesaan Tuhan), Al Falaq (menjauhkan dari maksud buruk), Annas (perlindungan diri dari godaan setan), dan Ayat Kursi (supaya merasa aman). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan makna mantra ini dapat dipahami dengan melihat makna dalam bahasa aslinya. Bukan hanya makna kalimat tetapi juga arti filosofi mantra ini. Kalimat kakang kawah adhi ari-ari sedulur papat lima pancer diambil dari Kitab Kidungan Purwajati yang dimulai dari lagu Dhandanggula. Menurut Heru S.P. Saputra (2007), sedulur papat atau saudara empat adalah marmati, kawah, ari-ari (plasenta), dan darah yang umumnya disebut rahsa. Semua itu berpusat di pusar si bayi, di setiap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marmati artinya samar mati (takut mati). Umumnya bila seorang ibu mengandung maka pikirannya dipenuhi kekhawatiran akan mati. Rasa khawatir tersebut hadir lebih dulu sebelum keluarnya kawah (air ketuban), ari-ari, dan rahsa. Oleh karena itu rasa samar mati itu lalu dianggap sedulur tuwa (saudara tua). Saat proses kelahiran, air kawah (ketuban) akan keluar dulu sebelum bayi. Ini membuat kawah juga dianggap sedulur tuwa yang kemudian disebut kakang kawah. Setelah bayi lahir, proses itu diakhiri dengan keluarnya ari-ari (plasenta). Karena keluar kemudian, plasenta ini disebut sedulur enom atau adhi ari-ari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kelahiran akan membuat banyak darah keluar. Keluarnya darah (rah = getih) ini pada waktu proses berakhir. Karena itu rahsa juga dianggap sebagai sedukur enom. Puser (tali pusat) bati umumnya akan pupak (gugur) ketika bayi berumur tujuh hari. Tali pusat yang lepas ini dianggap saudara bayi. Pusar inilah yang dianggap pusat saudara empat. Inilah yang disebut sedulur papat lima pancer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedulur papat lima pancer ini juga berarti bahwa manusia memiliki empat saudara spiritual yang berupa hasrat dan satu jiwa (diri). Empat hasrat itu meliputi nafsu aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah yang dituturkan dalam bahasa Jawa dari bahasa aslinya bahasa Arab. Sedangkan jiwa atau diri merupakan unsur kelima yang menjadi pusat dan bertugas mengendalikan empat unsur lainnya (Saputra, 2007:154).&lt;br /&gt;Medan makna yang ada dalam mantra Ki Ageng Sumari dan Joko Hari Nugroho tak bisa begitu saja dipahami karena penuh perlambang. Dalam konsep medan makna menurut Harimurti Kridalaksana, medan makna (semantic field, semantik domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna leksikal yang ada dalam dua mantra ini hanya bisa digambarkan dengan mengusung latar belakang budaya mereka. Keduanya dari Jawa dan dengan pemahaman atas realitas alam semesta dalam budaya Jawa, dua mantra ini bisa dipahami. &lt;br /&gt;Kata-kata yang memiliki makna bersayap dan harus melihat kembali latar budayanya agar mengetahui maknanya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matek aji&lt;br /&gt;rogo mulyo roso jati ingsun&lt;br /&gt;marang dumadi&lt;br /&gt;surodirojoyoningrat&lt;br /&gt;pangastuti&lt;br /&gt;hayu rahayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakang kawah adhi ari-ari &lt;br /&gt;Sedulur papat lima pancer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra Ki Ageng Sumari ini meski sekuat tenaga ingin menahan hujan tetapi juga menunjukkan kerendahhatian sebagai manusia yang tak berdaya. Meski 80 persen usahanya berhasil, tetap ada 20 persen yang tak bisa dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mantra Joko Hari Nugroho, penyebutan saudara spiritual ini untuk menguatkan maksud. Menurutnya, semua tetap sesuai dengan kehendak alam tetapi dengan pendampingan saudara spiritual ini dia merasa lebih kuat memohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memahami budaya yang melatarbelakangi kedua pawang ini, makna leksikal dalam mantra tak akan bisa didapat. Tanpa mengerti kisah panjang di belakang kalimat yang diucapkan, mantra ini hanya berfungsi sebagai susunan kalimat atau bisa dianggap sebagai puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;c. Ritual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ritual yang digunakan keduanya. Ritual ini dipercaya bisa menjadi alat untuk menguatkan maksud menunda turunnya hujan. Ki Ageng Sumari melakukan ritual dengan pasa mutih, berpuasa dengan hanya makan nasi tanpa garam dan minum air putih, selama tiga hari. Jadi, Ki Ageng Sumari tak bisa menerima job mendadak karena dia harus menyiapkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pasa mutih, sebelum hajatan diadakan, dia akan datang ke tempat itu untuk memasang sepasang janur. Janur ini diikat pada tiang yang menjadi pusat acara. Jika acaranya menggunakan panggung, maka janur diikat di dua tiang panggung. Jika acara dilakukan dalam gedung, dia akan mengikat sepasang janur di pintu masuk, kanan dan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang karena alasan teknis, mendung yang sudah penuh titik air hujan tak bisa disibakkan. “Kalau sudah begini, saya justru akan menurunkan hujan sebelum acara. Jadi ketika acara dimulai, langit sudah bersih,” kata Ki Ageng Sumari dalam wawancara tanggal 20 Januari 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi ada banyak pawang hujan yang diminta bantuan untuk ‘mengamankan’ daerah tertentu. Jika sudah begini akan terjadi ‘perang’ antarpawang. Kekuatan pawang yang menentukan siapa yang bisa memindahkan hujan ke daerah lain. Jika tidak ingin ‘perang’ dengan pawang lain, menurut Ki Ageng Sumari, biasanya diambil kesepakatan untuk mengalihkan hujan ke daerah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Hari Nugroho tak punya ritual khusus. Dia hanya salat lima waktu dan berdoa secara Islam. Satu-satunya alat yang digunakan adalah sapu lidi yang dipasang terbalik. Pada ujung sapu lidi ini ditancapkan bawang merah, bawang putih, dan cabai. Menurut Joko Hari Nugroho, ini kebiasaan warga Magetan ketika melangsungkan pernikahan. “Karena biasanya mereka menyiapkan masakan sendiri dalam jumlah besar dan memakai pekarangan terbuka, maka sapu lidi ini sebagai sarana untuk menahan hujan agar acara memasak tetap lancar,” kata Joko Hari Nugroho dalam wawancara tanggal 19 Januari 2010. Karena urusannya dengan dapur maka perlambang yang digunakan dalam alat juga berhubungan dengan isi dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual atau laku mistik menurut Heru S.P. Saputra adalah proses ritual yang dilakukan untuk mendapatkan kekuatan gaib. Dalam konsep Islam (santri), laku mistik dapat dilakukan dengan salat lima waktu secara khusyuk dan memperbanyak dzikir. Sedangkan dalam konteks tradisi atau abangan dapa dilakukan dengan cara puasa, semedi, dan lek-lekan. Laku mistik tersebut sebenarnya diperlukan oleh seseorang sebagai perantara untuk mencapai tingkat konsentrasi yang cukup tinggi yang kemudian menghasilkan tenaga psikokinetis (2007:xxiv).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Interpretasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bahasa yang memiliki keanggotaan lambang yang banyak untuk medan makna tertentu, misalnya bahasa Jawa (Pateda, 2001:256). Orang yang mempunyai kompetensi mengenai bahasanya tidak akan salah memilih konstruksi yang benar dan akan memiliki kata yang sesuai dengan pemakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra yang dilakukan pawang hujan Ki Ageng Sumari dan Joko Hari Nugroho memiliki arti minta kepada Tuhan yang Mahakuasa agar hujan tidak turun di suatu tempat pada saat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan makna dalam mantra pawang hujan Ki Ageng Sumari dan Joko Hari Nugroho hanya dapat dimengerti dengan mengetahui latar belakang budaya keduanya dan latar belakang bahasa yang digunakannya. Mereka menggunakan bahasa Jawa dan dalam setiap kata dan kalimat memiliki arti khusus. Mantra yang dilafalkan tak hanya berupa deretan bunyi tetapi penuh makna. Tanpa memahami budaya yang melatarbelakangi, mantra ini hanya menjadi puisi yang tidak memiliki arti mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan akan budaya penutur asli akan membuat pemahaman atas bahasa yang digunakan menjadi lengkap. Kelengkapan ini diperlukan supaya tidak terjadi salah persepsi. Mantra yang digunakan oleh dua pawang hujan ini tidak untuk memanggil roh-roh tetapi justru untuk menguatkan diri dan pasrah kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian atas sastra lisan seperti mantra perlu dilakukan karena dari kajian-kajian ini akan terlihat budaya Indonesia yang beragam. Kajian linguistik pada mantra juga bisa menepis anggapan bahwa mantra selalu berkonotasi negatif. Bagi sebagian orang Jawa, sepanjang hidupnya selalu ada mantra yang menyertai mulai dari dalam kandungan, lahir, tumbuh, menikah, hingga mati. Ini menarik untuk dikaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminuddin. 2008. Semantik Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru &lt;br /&gt;Algensindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: &lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djajasudarma, Fatimah. 1999. Semantik 1. Bandung: Refika Aditama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartarta, Arif. 2009. Mantra Jawa dalam penelitianmantra.blogspot.com.23 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutomo, Suripan Sadi. 1991. Mutiara yang Terlupakan. Surabaya: Himpunan &lt;br /&gt;Sarjana Kesusastraan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutomo, Suripan Sadi. 1998. Kentrung Warisan Budaya Tradisi Lisan Jawa. Malang: &lt;br /&gt;Yayasan Mitra Alam Sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kushartanti, dkk. 2005. Pesona Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parera, J.D. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saputra, Heru S.P. 2007. Memuja Mantra. Jogjakarta: LKiS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudikan, Setya Yuwana. 2001. Metode Penelitian Sastra Lisan. Surabaya: Citra &lt;br /&gt;Wacana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyono, Capt. R. P. 2009. Mistisisme Tengger. Jogjakarta: LKiS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-5007861343445808352?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/5007861343445808352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=5007861343445808352&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5007861343445808352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5007861343445808352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2010/10/mantra-pawang-hujan.html' title='Mantra Pawang Hujan'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-1752466148459699248</id><published>2010-10-14T07:31:00.003+07:00</published><updated>2010-10-14T07:46:43.077+07:00</updated><title type='text'>Suara Perempuan dalam Novel Ciuman di Bawah Hujan</title><content type='html'>Kajian Feminisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah Imawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sebagai gerakan modern, feminisme lahir awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya yang berjudul A Room of One’s Own (1929) dan berkembang pesat pada 1960-an. Model analisisnya beragam, sangat kontekstual, berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, dan politik. Menurut Teeuw dalam Ratna (2009:183) ada beberapa indikator yang dianggap telah memicu lahirnya feminisme, di antaranya karena ketidakpuasan terhadap teori dan praktik ideologi Marxis orthodox, tidak terbatas pada Marxis Sovyet tetapi Marxis di dunia Barat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;   Tujuan feminis adalah keseimbangan, interelasi gender. Dalam pengertian yang luas, feminis ialah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya. Dalam pengertian sastra, feminis dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi.&lt;br /&gt;   Nancy K. Miller berpendapat bahwa menulis secara personal, yang dinamainya sebagai personal criticism, merupakan sebuah kritik kultural. Kritik personal membutuhkan tindak autobiografis yang melibatkan tindakan yang sengaja menuju figurasi diri, meskipun tingkat dan bentuk membuka diri itu berbeda-beda (Prabasmoro, 2007).&lt;br /&gt;   Sastra dan kritik sastra, juga merupakan konstruksi sosial yang sarat politis. Sebagaimana upaya-upaya pengajian perempuan pada umumnya, kritik sastra berwawasan feminis bertolak dari asumsi bahwa perempuan harus menciptakan pengetahuannya sendiri. Dia harus menciptakannya kembali dalam batasan-batasan yang diberikan oleh sejarah—dan bahwa dalam menciptakan pengetahuan, kita lalu bertindak terhadap hubungan kekuasaan di dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;   Pengamat sastra yang feminis bisa saja dapat melihat di dalam sastra bukan kisah penderitaan atau pengalaman pribadi, tetapi kisah-kisah perjuangan dan pola-pola hubungan kekuasaan. Pemahaman tentang teks sastra dapat diuraikan bukan sebagai renungan terhadap teks itu sendiri, tetapi sebagai pengajian atas sejarah dan pengajian yang berdampak politis. Cara lain adalah melakukan penelusuran teks sastra bukan dengan membacanya secara objektif, tetapi sebagai langkah intervensi, suatu metode untuk membentuk kembali penggunaan kebudayaan atas penulisan yang dibuat oleh perempuan.&lt;br /&gt;   Suatu pola kritik sastra berwawasan feminis berasumsi bahwa perempuan secara universal bukanlah makhluk yang serupa. Hubungan-hubungan mereka juga di tentukan oleh ras, kelas, dan identifikasi seksual. Namun ada konstruksi yang serupa yang dapat dikatakan universal yang diberlakukan terhadap perempuan, yakni konstruksi yang dihadirkan oleh patriarki, sebagai ideologi dominan. &lt;br /&gt;Kritik sastra feminis yang mutakhir lebih menyorot tradisi sastra oleh wanita dan pengalaman wanita yang terungkap di dalamnya serta kemungkinan adanya cara penulisan khas wanita (Luxemburg, 1991).&lt;br /&gt;   Teori feminis erat berkaitan dengan konflik kelas dan ras, khususnya konflik gender. Antara konflik kelas dengan feminis memiliki asumsi-asumsi yang sejajar, mendekonstruksi sistem dominasi dan hegemoni, pertentangan antara kelompok yang lemah dengan kelompok yang dianggap lebih kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Konflik Kelas dan Ras&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   Bagi Fung Lin, tokoh dalam novel Ciuman di Bawah Hujan (CdBH), perbedaan kelas antara pejabat dan bukan pejabat sangat mencolok. Salah satunya tampak ketika sang pejabat harus membuka acara. Terlambat hingga setengah jam bagi seorang pejabat adalah lumrah. Ketika datang pun dia hanya menebar senyum dan tak merasa bersalah telah membuat semua orang menunggu. Pejabat merasa sudah seharusnya dia datang terlambat dan ditunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akhirnya si pejabat muncul juga setelah jarum di jam tangannya telah bergeser lebih dari 60 menit. Semua heboh menyiapkan penyambutan. &lt;br /&gt;Si pejabat memberikan senyum kepada hadirin. Lalu ia menyalami para tamu yang duduk di jejeran kursi paling depan. Kemudian langsung dipersilakan naik ke atas pentas memberikan kata sambutan. Seorang ajudan memberikan berkas yang dibacanya untuk membuka acara.&lt;br /&gt;Setelah itu, si pejabat turun dari atas pentas. Tetap saja ia sambil tersenyum. Ia kembali menyalami tamu-tamu di kursi deretan paling depan. Kemudian ia melambaikan tangannya kepada para hadirin sambil berjalan meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;Fung Lin melihat jarum jam tangannya. Seluruh prosesi pembukaan acara selesai hanya dalam waktu sepuluh menit. Tetapi para hadirin harus menunggu kedatangan si pejabat untuk enam puluh menit. (CdBH, halaman 18)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perbedaan kelas itu digambarkan Lan Fang dalam bentuk penyambutan dan cara mengistimewakan sang pejabat. Perbedaan kelas ini juga tampak tidak hanya pada orang yang ditunggu kedatangannya karena mereka yang duduk di deretan kursi paling depan pastilah terhitung pejabat yang mungkin kedudukannya di bawah sang pejabat yang baru datang. Kursi paling depan adalah hak mereka yang memiliki pangkat. Makin ke belakang, pangkat yang disandang makin rendah.&lt;br /&gt;   Itu menunjukkan perbedaan kelas sesama pejabat. Hanya orang nomor satulah yang boleh (dan disetel) terlambat. Semua pejabat di bawahnya harus sudah siap sedia di lokasi acara sebelum sang nomor wahid ini datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku wartawan yang ditugasi meliput acara ini. Kata panitia, akan hadir anggota dewan yang berkaitan dengan para TKW di Hong Kong ini. Aku ingin mewawancarainya. Tetapi kelihatannya sampai sekarang dia belum muncul,” sambung Fung Lin panjang lebar. (CdBH, halaman 22)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perbedaan kelas yang ditunjukkan Lan Fang juga muncul dalam bentuk inferioritas tokoh Fung Lin. Ketika Fung Lin diajak ke rumah Anto, lelaki yang disukainya, Fung Lin langsung merasa ada perbedaan kelas yang membuatnya tak dapat menembus kelas itu. Perbedaan itu tercipta hanya dengan melihat rumah, pagar, lantai, kendaraan, bahkan pintu utama yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ini bukan rumah. Tapi istana!&lt;br /&gt;Ketika sampai di ambang pintu masuk, langkahnya tertahan. Karena Fung Lin menghentikan langkah dan hanya berdiri diam di tempat, Anto tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Ia tidak bisa menerka mimik wajahnya yang menjadi aneh.&lt;br /&gt;“Anto, apakah ini rumahmu?”&lt;br /&gt;“Ya, ini rumah orang tuaku.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu aku menunggu di garasi saja.”&lt;br /&gt;Sangat tidak pantas kalau ia mengatakan takut masuk ke rumah itu karena ia merasa menjadi begitu kecil dan kusam. (CdBH, halaman 46)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Penampilan juga membuat Lan Fang menciptakan kelas berbeda. Saat Fung Lin kali pertama bertemu dengan ibu Anto, Fung Lin langsung mengetahui kelasnya hanya dengan melihat penampilan. Lan Fang tidak hanya memainkan penglihatan untuk mendeteksi kelas tokohnya. Dia juga menggunakan penciuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesosok tubuh langsing berdiri dengan anggun. Perempuan itu cantik sekali. Kulit wajahnya bersih tanpa jerawat, rambutnya tertata rapi, dengan poni sedikit berjambul, makeup-nya tipis, pakaiannya rapi dan indah, harumnya wangi bunga kenanga. (CdBH, halaman 49)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sosok ini dibandingkan dengan Fung Lin sebagai penanda perbedaan kelas di antara mereka. Lan Fang membandingkan dengan fisik Fung Lin. Ini pembedaan yang kasat mata. Pembedaan ini sering terjadi di mana pun. Bahkan di halte bus orang akan mengukur, menimbang, dan berusaha menghitung rupiah yang dikenakan orang lain dari kepala hingga kaki. Taksiran pahit seperti menghitung harga sapi di pasar hewan ini yang diangkat Lan Fang. Seperti yang dilakukan tokoh Wenny Yeung, model terkenal di Hong Kong yang cemburu pada Ngatinah, pembantu rumah tangga tunangannya, Yao Man.&lt;br /&gt;   Perasaan di dalam diri wanita sangat besar. Cinta berhubungan dengan hati dan telinga. Wanita selalu lebih luwes dalam menyelesaikan masalah. Moris dalam Handayani (2004:167) menyatakan bahwa wanita tidak cenderung untuk terkunci pada suatu posisi, mereka rela untuk berubah arah kalau arah sebelumnya dirasa kurang bijaksana. Wanita terlatih untuk mengawasi dan mengamati orang lain sehingga kemampuan untuk mengenal orang lain jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Kebiasaan itu mudah dipelajari oleh wanita karena secara alamiah mereka terlatih untuk berempati, berintuisi, dan merasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Walaupun pakaiannya tidak bak model seperti aku, tetapi jika ia keluar untuk berhari Minggu, ia sudah memakai celana jins dengan merek yang cukup terkenal. Yau Man memang tidak pernah memuji Tina secara khusus. Tetapi dari kata-katanya yang terdengar datar itu bukankah ia menunjukkan bahwa ia juga memperhatikan gadis itu?&lt;br /&gt;Dadaku serasa terbakar. (CdBH, halaman 221)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Gaya menyelidik dan menaksir harga ini juga dilakukan ibu Anto ketika Fung Lin datang ke rumahnya. Sama seperti cara Fung Lin menaksir kemahalan yang menempel pada ibu Anto, perempuan ini juga menaksir seberapa mahal sosok gadis di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dilihatnya gadis muda itu dari kepala sampai ke kaki. Wajahnya biasa saja, warna kulitnya juga biasa saja, rambutnya dibuntut kuda, baunya sengatan matahari, tasnya kelihatan menggembung karena berisi buku-buku, tali sepatu ketsnya yang sebelah kiri terlepas. (CdBH, halaman 49)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Akan tetapi, Lan Fang menunjukkan tokohnya adalah perempuan yang ingin mengubah nasib, tak hanya melanjutkan usaha ayah dan ibunya yang memiliki toko sepatu. Dia ingin berkuliah. Ibu Fung Lin meluluskan permintaan itu meski Fung Lin tak pernah punya uang cukup banyak untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Keinginan mendapatkan pendidikan tinggi diungkapkan Sidharta (1982:173). Umumnya anak-anak China dianjurkan untuk belajar tekun dan mereka pun sangat rajin dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Orang-orang yang berpendidikan dianggap telah ‘menjadi orang’. Para perempuan sering menunjukkan ambisi yang lebih besar. Apalagi jika dalam keluarga itu juga memiliki anak laki-laki karena biasanya anak laki-lakilah yang mendapat prioritas pendidikan. Jika ada anak perempuan ingin bersekolah, dia harus benar-benar menunjukkan keseriusannya dan menekan keinginan untuk segera menikah. Bagi mereka, begitu menikah, orang tua pihak perempuan sudah tidak memiliki hak atas anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biasanya sehabis kuliah mereka pergi bersama-sama. Tetapi Fung Lin tidak pernah diajak. Tepatnya, Fung Lin pernah diajak beberapa kali, tetapi memutuskan tidak ikut karena setiap hari mereka pergi makan dan berbelanja di plaza. Mama hanya memberinya uang untuk membayar kuliah, membeli buku, dan membayar angkot. Selain itu, dia punya kewajiban menjaga toko setiap pulang sekolah.&lt;br /&gt;Fung Lin lebih suka ke perpustakaan kampus. Di sana dia bisa membaca dan menyalin catatan dengan tenang. (CdBH, halaman 37)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Konflik ras dimunculkan dengan tragis. Konflik ini sudah muncul dalam bab pertama yang menunjukkan keheranan tokoh Ari sang anggota dewan ketika melihat sosok Fung Lin yang kental ke-China-annya. Mata yang seperti kuaci dan kulit berwarna terang bagi Lan Fang adaah pembeda yang tak bisa dikelabuhi. Bahkan dalam etnis China, perbedaan kelas kental dirasakan.&lt;br /&gt;   Toko sepatu orang tua Fung Lin adalah salah satu agen dari pabrik orang tua Lie Ming. Tetapi jangan berpikir orang tua Fung Lin adalah agen besar. Tidak seperti itu. Toko Sumber Rezeki, nama toko orang tua Fung Lin hanyalah toko kecil yang juga menjual sepatu secara eceran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fung Lin berusaha menyalami Lie Ming. Tetapi ternyata ia tidak mendapat balasan senyum dari Lie Ming. Fung Lin berusaha menerima keangkuhan itu sebagai hal yang biasa saja. Sebab Lie Ming mempunyai cukup modal untuk angkuh. Ia muda, terpelajar, tampan, dan sudah jelas kaya raya. (CdBH, halaman 148)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perbedaan ras ini dianggap Lan Fang sangat penting karena konflik ini memuncak dengan klimaksnya berupa pembakaran rumah dan toko milik orang tua Fung Lin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mereka memecahkan, melempari, mendobrak, membakar, merusak, menghancurkan….&lt;br /&gt;Termasuk mengambil para perempuan yang bermata lebih kecil.&lt;br /&gt;Fung Lin melihat asap mengepul dari arah toko orang tuanya.&lt;br /&gt;Fung Lin beradu cepat dengan angin. Karena ia melihat Mama dan Papa terbang bersama angin. Mereka membumbung keluar bersama gumpalan asap…. Tampak sekujur tubuh mereka terang karena berdiri di ats bola-bola api. (CdBH, halaman 186)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Peran Perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   Menurut Selden dalam Ratna (2009:194) ada lima masalah yang biasanya muncul dalam kaitannya dengan teori feminis, yaitu masalah biologis, pengalaman, wacana, ketaksadaran, dan masalah sosioekonomi. Helena Cixous, novelis, penulis drama, sekaligus kritikus feminis, memilih dua titik perhatian yaitu hegemoni opisisi biner dalam kebudayaan Barat dan praktik penulisan feminine yang dikaitkan dengan tubuh.&lt;br /&gt;Konsekuensi logis dalam oposisi biner adalah salah satu faktor diposisikan lebih penting dan lebih utama dibandingkan aspek lain. Dalam tradisi China di Hong Kong, posisi anak lelaki menjadi posisi sentral apalagi jika dia adalah anak lelaki pertama. Pola pengasuhan orang tua mengikuti pola itu.&lt;br /&gt;   Bagi orang China, menantu perempuan wajib merawat dan taat kepada mertuanya seperti oang tua sendiri. Karena ketika menikah, dia meninggalan keluarganya sendiri dan menjadi bagian dari keluarga besar suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sedangkan anak perempuanku kedua disibukkan mengurus suami dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Ia memang tidak tinggal bersama mertuanya karena ia menikah dengan anak laki-laki kedua. Mertuanya tinggal serumah dengan anak laki-laki pertamanya.&lt;br /&gt;Karena Yao Man adalah anak laki-laki satu-satunya maka aku ikut Yao Man. Wenny Yeung, model cantik yang akan menjadi istri Yao Man, yang harus merawat aku, mertuanya. (CdBH, halaman 113)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Penolakan terhadap hegemoni laki-laki, menurut Cixous, harus dilakukan dengan praktik menulis feminin. Hubungan esensial antara tulisan perempuan dan ibu menjadi sumber dan asal suara yang terdengar dalam semua teks perempuan. Keseluruhan pembicaraan adalah suara perempuan.&lt;br /&gt;   Dalam CdBH, tokoh perempuan bersuara lebih banyak daripada tokoh laki-laki. Pikiran dan sikap mereka menjadi pengeras suara bagi Lan Fang untuk menyatakan kehendaknya. Mereka adalah Mama, Fung Lin, ibu Anto, Bibi Tua, Bobo Ng, Ngatinah, Katty, Aida, penjual jeruk, anak perempuan penjual jeruk, dan Wenny Yeung. Suara perempuan ini tidak hanya dilontarkan perempuan karena tokoh laki-laki yang dibedakan secara biologis juga dikemas untuk menyempitkan perbedaan perempuan dan laki-laki.&lt;br /&gt;   Keberanian Lan Fang menyuarakan keinginannya untuk tidak lagi melihat perbedaan kelas, ras, dan gender diwakili para tokohnya. Bagi Musdah Mulia, aktivis perempuan, sikap berani selama ini dianggap ciri maskulin, karena itu dianggap tidak pantas dimiliki wanita.  Ini keliru. Sikap keberanian adalah sikap positif dan pantas dimiliki wanita dan pria (Femina, 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku harus bertahan setidaknya tujuh bulan sejak aku bekerja, untuk membayar utang kepada agency yang memberangkatkanku. Tetapi tentu saja bukan sekadar itu alasanku harus bertahan. Aku punya mimpi-mimpi yang ingin kuwujudkan. (CdBH, halaman 226)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangga sekali.&lt;br /&gt;Sambil menunggu, aku masih merasa seperti bermimpi. Tetapi kali ini bukan mimpi ingin mengganti atap rumbia dengan genteng atau membelikan sepeda motor untuk ibu. (CdBH, halaman 246)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tugas kodrati istri, menurut Musdah Mulia, hanyalah sepanjang menyangkut masalah reproduksi. Selain itu dapat dibagi secara tulus dengan suami. Lan Fang tidak menunjukkannya dalam Fung Lin dalam hubungan kedekatan dengan Rafi, Ari, atau Anto. Lan Fang bersuara melalui Mama Lie Ming, Fung Lin, dan Ngatinah saat dilamar Mas Wawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Nduk…, kita bisa mengelola kolam pembibitan lele dumbo bersama…. Aku kepingin mengelolanya bersamamu sampai tua.” (244)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sedangkan anak perempuanku kedua disibukkan mengurus suami dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Ia memang tidak tinggal bersama mertuanya karena ia menikah dengan anak laki-laki kedua. Mertuanya tinggal serumah dengan anak laki-laki pertamanya.&lt;br /&gt;Karena Yao Man adalah anak laki-laki satu-satunya maka aku ikut Yao Man. Wenny Yeung, model cantik yang akan menjadi istri Yao Man, yang harus merawat aku, mertuanya. (CdBH, halaman 113)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan setengah baya itu kemudian memutar-mutar tubuhnya. Lalu ia meraba pinggang dan pinggulnya. “Hahaha… boleh juga…. Dia bisa melahirkan banyak anak laki-laki.”&lt;br /&gt;Hei… dalam pelajaran Bilogi menjelaskan bahwa jenis kelamin anak tidak ditentukan oleh bentuk pinggang dan pinggul. Tetapi oleh kromosom yang dimiliki spermatozoa, Fung Lin berteriak dalam hati. (CdBH, halaman 151)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Di samping pengasuhan ibu, dalam keluarga yang dikemas Lan Fang memiliki pembantu rumah tangga. Fungsinya seringkali bukan sekadar membantu apa yang dibutuhkan keluarga itu tetapi juga menjadi induk semang anak-anak keluarga itu, seperti yang banyak dilakukan keluarga China karena ayah dan ibu harus bekerja. Kadang-kadang ibu tidak bekerja di luar rumah tetapi dia harus mengurus suami sehingga anak-anak diserahkan kepada pembantu.&lt;br /&gt;   Ini seperti yang terjadi dalam kehidupan Ong Pik Hwa. Pendiri majalah Fu Len yang terbit 15 Desember 1937 ini lahir tahun 1906. Mengenai pembantunya, ia (Ong Pik Hwa) menulis dengan penuh kasih sayang. Pembantu inilah yang selalu mendampinginya ke mana-mana dan dialah yang menemani dan mengeloni sampai dia tertidur. Begitu juga ketika dia sudah masuk sekolah. Pada jam istirahat, pembantu sudah menyiapkan makanan yang dibawa dari rumah. Dia mengingatkan bahwa pembantu juga berfungsi sebagai perisai kalau ibunya sedang marah dan mau memukulnya dengan sapu lidi. Dia bersembunyi di belakang pembantu yang tentu tidak dapat mengelakkan pukulan yang sebetulnya ditujukan kepada dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika cucu laki-lakinya itu ngompol di pangkuannya, maka pakaian Bobo Ng akan basah kena pipisnya. Sehingga tugasku menjadi lebih banyak, karena bukan saja mengganti celana Vincent Ng, tetapi juga pakaian Bobo Ng. Tetapi sungguh, aku melakukannya dengan suka hati. Sama sekali tidak menjadi beban bagiku karena aku merasakan kebahagiaan yang sama seperti anggota keluarga yang lain. (CdBH, halaman 242)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bibi Tua jarang berbicara padanya. Ia selalu sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bibi Tua tidak pernah memandangnya sama sekali.&lt;br /&gt;Bibi Tua menyabuni dan mengeramasinya. Setelah tubuhnya bersih, handuk hangat membungkusnya. Kemudian Bibi Tua membantu Fung Lin mengenakan piama dan membernya secangkir teh panas sepat.&lt;br /&gt;Fung Lin tidak mampu menahan diri. Dia mengembangkan tangan dan memeluk tubuh kurus dan bungkuk itu.&lt;br /&gt;Ia mendongak ketika merasakan elusan sayang di rambutnya yang masih basah. (CdBH, halaman 203)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jeruk yang disembunyikan di belakang punggung pun terlepas. Menggelinding. Suaranya terbata-bata memanggil seseorang.&lt;br /&gt;“Bibi Tua….” Ia tidak berani memanggil Mama. (CdBH, halaman 265)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang istri diharapkan sabar, mengalah, penurut, penuh pengertian, apa pun yang dilakukan suaminya Sofia (2009:37). Tanpa memiliki sifat-sifat ini, seorang perempuan akan mudah menerima cercaan dari suaminya, mertua, tetangga, bahkan orang tuanya sendiri (Sobary, 2007:108).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Rambutnya hitam dan kaku sekali. Seperti ijuk.”&lt;br /&gt;“Keras kepala ya, Ma.”&lt;br /&gt;“Telinganya juga kaku,” kali ini Mama Lie Ming  mengangkat rambut dan melipat-lipat telinganya.&lt;br /&gt;“Tidak bisa menurut ya, Ma?”&lt;br /&gt;Fung Lin ingin mengatakan apa yang dipikirkannya. Tetapi dia ingat pesan mamanya, “Anak perempuan yang manis dan sopan tidak boleh protes.”&lt;br /&gt;“Tulang kakinya tidak menonjol. Bagus. Dia tidak menimbulkan kemalangan. Suaminya bisa berumur panjang.” (CdBH, halaman 150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fung Lin tidak membantah ketika Lie Ming menyuruhnya mengenakan gaun panjang yang ujungnya berjuntai menyapu lantai dengan gemulai. Ia pun tidak banyak cingcong ketika Lie Ming menyuruhnya berganti sepatu. Fung Lin menurut saja walaupun karena sepatu Ssembilan senti itu ia hampir jatuh saat berjalan di atas lantai marmer yang licin. (CdBH, halaman 190)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Meski secara struktur formal mereka tidak berpengaruh, tetapi secara informal pengaruh tersebut sangat besar. Kecenderungan tersebut didukung penelitian tentang pola pengasuhan dalam kultur Jawa dan Asia yang menunjukkan adanya perbedaan antara anak laki-laki dan wanita. Anak laki-laki dipersiapkan untuk bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya (Handayani, 2004:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah tadi kau bersikap manis dan sopan kepada Bapak Presiden?”&lt;br /&gt;Kemudian Mama menciumnya. “Kau memang anak manis dan sopan.” Mama jarang sekali menciumnya. Jadi kalau sekarang Mama member ciuman, itu adalah hadiah yang istimewa. (CdBH, halaman 32)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa tidak pernah membelikan boneka untukku. Kata Papa, boneka adalah permainan anak perempuan. Rupanya Papa lebih menyukai anak laki-laki karena anak laki-laki sangat penting untuk orang China. Anak laki-laki akan bekerja untuk keluarga dan meneruskan marga. Sedangkan anak perempuan hanya akan menjadi anak menantu orang lain. (CdBH, halaman 338)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mama juga tidak suka aku terlalu banyak berlari-lari. Menurut Mama, anak perempuan yang manis haruslah duduk anteng dengan anggun. (CdBH, halaman 339)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Akan tetapi, pada kenyataannya terdapat banyak perempuan yang tidak sabar, mengalah, atau penurut. Lan Fang menolak tradisi yang membuat perempuan tak ubahnya seperti sepatu dagangan di toko Sumber Rezeki. Pemberontakan pertamanya datang ketika nekat berhujan-hujan dengan anak kampung setelah Bibi Tua memberi izin diam-diam. Penolakan Lan Fang tidak selalu sukses. Ketika Fung Lin mengajak Lie Ming menyewa payung meski tahu ada mobil yang siap menjemput, dia tidak yakin apakah kelakuan di luar kepantasan yang disematkan Lie Ming itu berdampak positif. Fung Lin menganggap itu pemberontakan atas perjodohan yang dilakukan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Untuk apa?!” Ini kali ketiga kalinya Lie Ming melontarkan pertanyaan yang sama. Fung Lin terperangah. Ia sangat terluka dengan pertanyaan yang diulangi tiga kali dengan sengit itu. Fung Lin langsung tahu bahwa Lie Ming pasti bukan laki-laki yang menciumnya di suatu waktu pada suatu tempat yang entah itu. (CdBH, halaman 195)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pada saat mengalami kesulitan wanita biasanya bingung. Mereka akan menangis sejadi-jadinya atau mencoba melakukan bunuh diri. Mereka merasa kegilangan harapan. Fase emosional, seperti menangis, amat dipengaruhi budaya.&lt;br /&gt;   Studi tentang emosi yang tersalurkan lewat tangisan pernah dilaporkan melalui eksperimen yang diadakan di laboratorium. Gregg Levoy pada tahun 1988 melaporkan bahwa kelenjar air mata mengumpulkan dan mengeluarkan mangan dari tubuh. Konsentrasi mangan dalam air mata berkadar 30 persen lebih tinggi daripada yang terkandung dalam serum darah. Dari 85 persen wanita dan 75 persen wanita yang diselidiki dilaporkan bahwa mereka merasa lega secara psikis dan fisik setelah menangis. Mereka cenderung menilai tangisan secara positif. Kekuatan lain dari dimensi feminin adalah ketahanannya untuk menderita. Penelitian-penelitian ilmiah menyebutkan bahwa hampir semua suku di dunia menerima bahwa wanita atau ibu amat akrab dengan aspek penderitaan ini (Handayani, 2004:166).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fung Lin yakin Udin tidak menangis. Ia tidak pernah melihat Udin menangis. Bahkan ketika Udian jatuh berebut bola atau berkelahi sampai berdarah pun, Fung Lin tidak pernah melihatnya menitikkan air mata. Menurut Udin, air mata tidak akan membasuh darah. Tetapi sekarang Fung Lin melihat mata Udin terluka seperti berdarah. (CdBH, halaman 264)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekarang Fung Lin sudah tidak sanggup menahan perasaannya. Dadanya turun-naik tidak beraturan.Sesak sekali rasanya. Bia ia menahannya lebh lama maka dadanya bisa pecah. Ia merasa sedih, takut, menyesal, marah, sekaligus malu kepada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Maka ia terduduk di tanah dengan air mata bercucuran. Jeruk yang disembunyikan di belakang pungung pun terlepas. (CdBH, halaman 265)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian kesedihan yang semula hanya menggumpal di dada Fung Lin, pelan-pelan naik lagi membuntu hidungnya, pelan-pelan… ia tidak sanggup lagi menahan sakit yang mengalir dalam tiap desir darah. Maka Fung Lin pun meledak. “Mamaaaa! Papaaaa!”&lt;br /&gt;Ia terkulai di tengah jalan dengan pandangan yang kabur oleh genangan air mata. (CdBH, halaman 188)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Akan tetapi, kemarahan juga bisa meruap menjadi bentuk yang sadis, tanpa air mata. Ketika pedagang jeruk tidak terima karena Fung Lin mencuri sebutir jeruknya, dia melampiaskannya dengan memotong jeruk itu menjadi kepingan-kepingan kecil dengan pisau besarnya. Pelampiasan kemarahan yang disertai caci maki ini membuat Fung Lin tak berdaya.&lt;br /&gt;   Kemarahan Fung Lin karena melihat Titin, hamster betina yang mencaplok anak-anaknya sendiri, membuatnya bersikap sama seperti Titin. Dia melemparkan hamster itu ke kandang harimau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Kekuatan Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   Ketidakberdayaan perempuan karena tidak memiliki akses ekonomi membuat perempuan ‘menyerah’. Lan Fang menggambarkan Fung Lin tidak punya uang sama sekali karena dia tidak lagi menjadi wartawan lepas dan memilih menulis tanpa pekerjaan lain. Karena dengan hidup sendiri, maka dia harus memiliki pekerjaan yang dapat menopang hidupnya.&lt;br /&gt;Alur kisah ini menjadi tidak masuk akal. Fung Lin semula menjadi wartawan lepas dengan gaji yang sudah pasti tidak besar karena dia dibayar per tulisan. Apalagi Fung Lin tidak memiliki akses transportasi yang membuatnya bergerak cepat untuk mendapatkan berita agar dibayar lebih. Jika dia harus menyelesaikan tulisannya yang tidak dijelaskan selesai dalam berapa hari atau berapa minggu, tentu hanya dalam hitungan hari dia sudah tidak memiliki uang untuk hidup. Jika itu berlangsung beberapa minggu, darimana bagaimana mungkin dia bisa berhemat dari gajinya sebagai wartawan lepas yang pasti tidak seberapa.&lt;br /&gt;   Kedekatan dengan Ari yang hanya ditunjukkan dengan beberapa kali minum kopi bersama dan dialog imajinernya, membuat Fung Lin takluk dengan mengiba meminjam uang pada Ari. Fung Lin sadar, pinjam uang itu harus dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ia membayangkan bagaimana bila Ari meminta pelunasan utang dalam bentuk lain? Misalnya, bila Ari ingin menidurinya? Laki-laki adalah bulus yang paling pandai memanfaatkan kesempatan di dalam kesempian. Terlebih untuk laki-laki yang berkuasan dan mempunyai uang. (CdBH, halaman 176)&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terjepit kebutuhan hidup, Fung Lin mencari pekerjaan. Apa saja. Dalam keinginan mendapatkan pekerjaan yang didambakan, 50,6 persen perempuan di Jakarta menyatakan telah memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang sangat didambakannya tersebut. Namun kebanyakan mengatakan tidak memiliki modal yang diperlukan untuk dapat melakukan kegiatan/pekerjaan yang diinginkannya itu. Tidak adanya akses terhadap modal, cukup sering dilontarkan. Padahal mereka sangat mendambakan dapat mengembangkan suatu usaha, paling tidak bisa mengawali cita-citanya (Wiludjeng, 2005:120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak terlalu pusing menghitung keuntungan yang dia dapat setiap bulan, asal aku menerima uang gajiku yang cukup untuk membayar uang sekolah adik-adikku. (CdBH, halaman 122)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebetulnya pekerjaan ini tidak berat. Bukankah di rumah aku juga mencuci pakaian, merebus air panas untuk mandi adikku yang kecil. Sedangkan di Hong Kong, semua pekerjaan rumah tangga kulakukan dibantu mesin. Aku tidak kerasan. Tetapi aku harus bertahan setidaknya tujuh bulan sejak bulan aku bekerja yntuk membayar utang kepada agency yang memberangkatkanku. (CdBH, halaman 227)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas kasir hanya menerima pembayaran, memberi kembalian, lalu mencocokkan nota dan uang saat tutup depot. (CdBH, halaman 283)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perdagangan skala kecil biasanya dianggap sebagai sektor informal yang biasanya diikuti oleh kaum perempuan. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa keterlibatan kaum perempuan dalam kegiatan-kegiatan telah menambah penghasilan. Fenomena ini telah menjadi gejala umum di Indonesia. Menurut Clifford Geertz dalam Sobary (2007:91), para pedagang kecil setempat kebanyakan kaum perempuan. Mereka berdagang barang-barang kecil hasil lokal, barang-barang hasil industri rumah, makanan-makanan kecil, hasil kebun, dan semacam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Si penjual jeruk itu perempuan setengah baya. Kira-kira umurnya belum terlalu tua. Ia terlihat lebih tua dari Mama. Terlalu banyak keriput di wajahnya dan uban di rambutnya. Warna bajunya sudah pudar. Aku melihat ada sobekan di bagian kerahnya. Dan jari-jari tangannya terlihat besar dan kasar. Aku melihat kakinya yang tersembunyi di balik keranjang jeruk. Ia mengenakan sandal jepit yang sudah sangat tipis. Warna sandal yang sebelah kanan berbeda dengan warna sandal yang sebelah kiri.  (CdBH, halaman 269)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pemberontakan Lan Fang atas kekuatan perempuan yang tak muncul dengan manis diwakili oleh Ngatinah, Bobo Ng, Wenny Yeung, Aida, dan Bibi Tua. Masing-masing tokoh ini menunjukkan kekuatannya dengan cara mengalir, tanpa pemberontakan ekstrem. Pada akhirnya, para tokoh ini merasakan kemenangan yang dalam proses sering menyakitkan.&lt;br /&gt;   Menurut teori feminisme multikultural dan global, definisi penindasan itu tidak hanya karena budaya patriarkal. Ketertindasan perempuan berkaitan dengan ras, kelas, preferensi seksual, umur, agama, pendidikan, kesempatan kerja, dan sebagainya (Arivia, 2006:115). Itu pula yang dialami para tokoh dalam CdBH. Ngatinah dengan tekanan ekonomi; Fung Lin dengan tekanan kelas, ras, ekonomi, dan politik; Bobo Ng dengan tekanan umur; Wenny Yeung dengan tekanan kelas; dan Aida dan Bibi Tua dengan tekanan kesempatan kerja. &lt;br /&gt;   Justru pada tokoh Fung Lin yang menjadi tokoh utama,  Lan Fang tidak secara tegas menyatakan kekuatan Fung Lin saat berhadapan dengan kekuatan politik. Justru Fung Lin akhirnya menjadi tokoh yang berjuang untuk imajinasinya sendiri. Dia tidak memiliki dampak apa pun untuk orang lain, selain Rafi kekasihnya. Kekuatan Fung Lin sebenarnya bisa dipoles jika Lan Fang benar-benar memahami permainan politik karena Lan Fang menyebut novel ini bernapaskan politik. Sampai pada Coda, arus politik yang seharusnya menarik untuk didalami hanya menjadi tempelan.&lt;br /&gt;   Paling tidak, Lan Fang sudah mencoba menyuarakan kegelisahannya dalam tokoh-tokoh yang sesekali muncul. Pada tokoh-tokoh sambil lalu inilah kekuatan Lan Fang menjalin kisah terbentuk, bukan pada Fung Lin. Suara perempuan yang menjadi perpanjangan suara Lan Fang cukup menjanjikan kesetaraan gender. Paling tidak, dalam sisi keberanian, ekonomi, kebebasan berpikir, kebebasan memilih sesuai dengan pilihan hidup sudah disodorkan. Mungkin teriakan untuk menyadarkan orang lain akan kebutuhan kaum perempuan agar mendapat porsi tepat dalam novel ini tidak terlalu keras terdengar. Akan tetapi, justru dalam jalinan kisah yang mudah dimengerti, orang paling tidak memahami bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handayani, Christina S. dan Ardhian Novianto. 2004. Kuasa Wanita Jawa. Jogjakarta: LKiS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lan Fang. 2010. Ciuman di Bawah Hujan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luxemburg, Jan van dkk. 1991. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulia, Musdah. 2010. “Memberi Saya Keberanian” dalam Femina No. 16 24-30 April. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2007. Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Jogjakarta: Jalasutra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidharta, Myra. 1982. “Wanita Peranakan Cina” dalam Kepribadian dan Perubahannya. Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________ 2004. Dari Penjaja Tekstil sampai Superwoman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobary, Mohammad. 2007. Kesalehan Sosial. Jogjakarta: LKiS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofia, Adib. 2009. Aplikasi Kritik Sastra Feminis. Jogjakarta: Citra Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiludjeng, Henny dkk. 2005. Dampak Pembakuan Peran Gender terhadap Perempuan Kelas Bawah di Jakarta. Jakarta: LBH-APIK Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-1752466148459699248?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/1752466148459699248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=1752466148459699248&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/1752466148459699248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/1752466148459699248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2010/10/suara-perempuan-dalam-novel-ciuman-di.html' title='Suara Perempuan dalam Novel Ciuman di Bawah Hujan'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-5425497183960307785</id><published>2009-12-28T21:09:00.001+07:00</published><updated>2009-12-28T21:13:10.789+07:00</updated><title type='text'>Ramalan Kiamat 2012, Bantahan Doomsday Meluncur (2)</title><content type='html'>Kamis, 19 November 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Telat mengunggah. Ini dimuat di Harian Surya pada tanggal di atas.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya buku tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiamat 2012&lt;/span&gt; adem-ayem penjualannya. Tetapi begitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiamat 2012 Investigasi Akhir Zaman&lt;/span&gt; karya Lawrence E Joseph terbitan PT Gramedia Pustaka Utama (GPU) laris, ajaibnya, hampir selusin buku dengan tema sama langsung terpajang di toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keingintahuan tentang film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;2012 &lt;/span&gt;membuat tiket di bioskop jadi barang langka. Bahkan kemarin, tiket untuk menonton di Surabaya hingga midnight sudah dipesan habis. Ini berimbas juga pada rasa ingin tahu melalui buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar buku terbitan GPU, sejumlah buku serupa juga mulai diburu. Penerbit A+plus, Pustaka Salomon, Edelweis juga mengeluarkan buku bernapas sama. Satu penerbit bisa mengeluarkan beberapa buku sekaligus dengan tema serupa. Bahkan penerbit A+plus yang mengeluarkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;End of Times 2012&lt;/span&gt; yang baru diluncurkan pertengahan tahun ini, sudah dicetak kali kedua Agustus 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih hebat lagi buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiamat 2012&lt;/span&gt; dari penerbit yang sama. Buku yang ditulis Salman Alfarizi ini bahkan sudah lima kali cetak ulang sejak Mei 2009. Berarti setiap bulan penerbit ini mencetak ulang.&lt;br /&gt;Isi buku-buku ini juga beragam. Buku-buku ini menyodorkan fenomena alam, ilmu pengetahuan, hingga merakit informasi dari berbagai situs di internet. Daftar pustaka dalam sebuah buku yang isinya 131 halaman mencantumkan 40 sumber. Sebagian besar diambil dari internet dan hanya 13 sumber yang diambil dari koran dan dua buku.&lt;br /&gt;Saat ini penerbit Mizan tak mau ketinggalan, siap bersaing dengan buku yang sudah lebih dulu meluncur. Mizan mengeluarkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Doomsday 2012&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di 33 toko buku jaringan Toga Mas, penjualan buku-buku di luar buku GPU terbilang laris. Johan Budi Sava, CEO Toga Mas, mengaku jika buku tentang kiamat 2012 ini memang belum semeledak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Harry Potter, Ketika Cinta Bertasbih&lt;/span&gt;, atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Twilight&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Angkanya baru mencapai 1.000 eksemplar tetapi ini baru saja terbit dan beredar. Diperkirakan penjualan naik pesat hingga film usai diputar,” kata Johan di Malang, Rabu (18/11). Perhitungan Johan, seperti penjualan buku lain yang didukung filmnya, buku tentang kiamat ini masih punya ‘nyawa’ panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asnani, 23, yang ditemui di Royal Plaza Surabaya menenteng dua buku tentang kiamat 2012 terbitan Aplus. ”Saya mencari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiamat 2012 Investigasi Akhir Zaman&lt;/span&gt; terbitan GPU, tetapi sejak kemarin tidak ada. Bukunya habis. Daripada tidak membaca, saya ambil buku lain yang temanya sama,” kata mahasiswa Universitas Airlangga ini kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang kekosongan buku dari satu penerbit yang tengah dicari-cari menjadi peluang bagi penerbit lain untuk menyodorkan buku serupa. ”Selalu saja jika ada buku laris, tak lama kemudian akan muncul buku yang mirip,” kata Johan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa juga, buku tandingan sudah siap mencuri perhatian. Saat ini kelompok penerbit Kanisius Jogjakarta tengah menyiapkan buku bantahan tentang kiamat yang diramalkan suku Maya di Guatemala akan berlangsung 2012 itu. Penulis yang juga astronom dari Bandung, A Gunawan Admiranto, siap menandingi ramalan itu dengan bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiamat 2012 Omong Kosong.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-5425497183960307785?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/5425497183960307785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=5425497183960307785&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5425497183960307785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5425497183960307785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/12/ramalan-kiamat-2012-bantahan-doomsday_28.html' title='Ramalan Kiamat 2012, Bantahan Doomsday Meluncur (2)'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-3931080761719469356</id><published>2009-12-28T21:04:00.001+07:00</published><updated>2009-12-28T21:08:43.188+07:00</updated><title type='text'>Menikmati Gurihnya Buku ‘Akhir Zaman’ (1)</title><content type='html'>Rabu, 18 November 2009 &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Telat mengunggah. Ini dimuat di Harian Surya pada tanggal di atas.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Maya kuno yakin tanggal 21/12/12 adalah zaman baru, dalam fakta vital sekaligus dalam perhitungan kalender. Mereka percaya tanggal ini paling sakral, paling berbahaya, sekaligus paling menguntungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Maya terobsesi pada waktu. Selama berabad-abad mereka menciptakan paling tidak 20 kalender, disesuaikan dengan berbagai siklus mulai dari kehamilan hingga panen, dari bulan hingga Venus yang orbitnya dikalkulasi dengan sangat akurat, hanya selisih satu hari dalam 1.000 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawrence E. Joseph datang ke Guatemala menemui dua bersaudara Carlos dan Gerardo Barriors, dukun suku Maya dari Guatemala untuk mengevaluasi kepercayaan dan prediksi itu. Meski Lawrence banyak dituding membuat onar karena membagi keingintahuannya tentang astronomi suku Maya, dia dengan tegas menyatakan bukan penggila bencana meski ramalan suku Maya menyatakan bencana besar akan terjadi karena bumi ini sudah makin tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dicetak Oktober 2008, buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiamat 2012 Investigasi Akhir Zaman&lt;/span&gt; karya Lawrence E. Joseph terbitan PT Gramedia Pustaka Utama (GPU) disambut hangat. Dalam tempo dua bulan, buku ini sudah dicetak ulang. Untuk buku seharga Rp 50.000, ini termasuk laris manis. Apalagi awal tahun ini sudah beredar informasi bahwa film 2012 yang diangkat dari buku ini akan dirilis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu menunggu lama, buku dicetak untuk kali ketiga April 2009. Hanya butuh tiga bulan untuk menembus kriteria buku sangat laris. ”Makin mendekati peredaran film, buku pun makin diburu,” kata Yulie Dwi Kurniasari dari GPU. Perburuan buku ini di toko buku Gramedia di Royal Plaza Surabaya sudah dimulai dua bulan yang lalu. Bahkan Selasa (18/11) seluruh persediaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiamat 2012 Investigasi Akhir Zaman&lt;/span&gt; ludes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu pemanasan global ikut mendongkrak minat orang pada buku ini. Menurut M.A. Hary Puspadewi, Kepala Toko Buku Gramedia Matos, Malang, dalam waktu sebulan bukunya sudah terjual lebih dari 100 eksemplar. ”Minat orang makin tinggi karena isu pemanasan global dan ketika filmnya diputar,” kata Dewi. Diperkirakan booming buku ini masih cukup tinggi karena filmnya juga masih terus diputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin menikmati gurihnya penjualan buku yang berhubungan dengan ramalan 2012 ini cukup banyak. Paling tidak, ada enam penerbit yang mengeluarkan buku serupa. Yang tampak di toko buku antara lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;End of Times 2012, Fakta-fakta Menjelang Kiamat 2012, Kiamat 2012, Kiamat 2012: Heboh Seputar Ramalan, Kontroversi Kiamat 2012&lt;/span&gt;, dan lain-lain. Dengan memasang harga Rp 26.000 hingga Rp 50.000 buku-buku ini dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, menurut Ignatius Ariyanto dari GPU, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiamat 2012 Investigasi Akhir Zaman&lt;/span&gt; yang dicetak 25.000 eksemplar sudah terjual 24.000 buku. ”Memang, buku ini masih kalah jauh dari The Secret yang tetap menjadi jawara dengan cetak ulang 20 kali dan terjual lebih dari 100.000 eksemplar,” kata Ariyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu buku yang juga banyak dicari, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;End of Times 2012&lt;/span&gt; terbitan APlus, berusaha menerjemahkan mitos ini dengan dalil-dalil sains. Penulisnya, Sutan Surya, mengklaim bukunya merupakan komparasi, informasi fakta, dan data dari ramalan itu. Hampir tidak ada lagi bidang yang kosong dari ramalan, prediksi, dan keyakinan maupun sekadar pendapat tentang bencana besar yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surya menulis tentang Bumi yang kini berumur sekitar 4,54 biliun tahun. Buku ini merasionalkan ramalan yang disodorkan suku Maya, antara lain tentang tsunami Aceh dan Sumatera Utara, 26 Desember 2004. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semua orang ribut membicarakan berbagai kemungkinan setelah menonton film 2012, Lawrence dalam bukunya justru menyatakan tidak percaya jika dunia akan berakhir pada 2012. Dia juga tidak yakin akan terjadi kekacauan besar akibat bencana nuklir habis-habisan berskala Perang Dunia III atau tumbukan meteor seperti yang diyakini telah memusnahkan dinosaurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebagai ayah dua anak kecil yang manis, saya tidak sanggup meyakini hal semacam itu. Tidak sanggup menghadapi kemungkinan bahwa semua orang dan segala hal yang pernah disayangi pun bisa musnah,” kata Lawrence dalam bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, saat ini yang dilakukannya adalah mengumpulkan fakta dan mempresentasikan bukti yang dibutuhkan untuk mengungkap realitas 2012.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-3931080761719469356?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/3931080761719469356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=3931080761719469356&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3931080761719469356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3931080761719469356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/12/menikmati-gurihnya-buku-akhir-zaman-1.html' title='Menikmati Gurihnya Buku ‘Akhir Zaman’ (1)'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-5457223082881897019</id><published>2009-12-27T00:48:00.004+07:00</published><updated>2009-12-27T01:11:18.254+07:00</updated><title type='text'>Istana Anak-anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQW_4n_ZI/AAAAAAAAAOk/xFDsZhHMp9E/s1600-h/istana+bermain.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQW_4n_ZI/AAAAAAAAAOk/xFDsZhHMp9E/s320/istana+bermain.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419607557623250322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQWvkAVNI/AAAAAAAAAOc/cYWuoIZeN9s/s1600-h/pohon+mangga.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQWvkAVNI/AAAAAAAAAOc/cYWuoIZeN9s/s320/pohon+mangga.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419607553241797842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQWM51nlI/AAAAAAAAAOU/c2uVgOjCQiA/s1600-h/menanam+anggrek.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQWM51nlI/AAAAAAAAAOU/c2uVgOjCQiA/s320/menanam+anggrek.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419607543938129490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQV_Uaz5I/AAAAAAAAAOM/Y7leIm6oKfs/s1600-h/pegang+erat1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQV_Uaz5I/AAAAAAAAAOM/Y7leIm6oKfs/s320/pegang+erat1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419607540291522450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi sudah sepakat untuk tidak kemana-mana. Selagi libur, ingin menikmati rumah. Biasanya rumah hanya untuk singgah. Dalam 24 jam sehari, paling-paling ada di rumah tujuh jam. Pulang larut malam, menyelesaikan tugas dan makalah atau buku, tidur. Bangun subuh dan gubrak-gubrak-gubrak pukul 07.00 WIB berangkat. Seminggu dua kali bahkan nunut suami berangkat pukul 06.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei… apa fungsi rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, di sinilah saya merasa menjadi bagian dari tetangga meski tak tiap hari bertemu mereka. Paling-paling cuma tahu ada beberapa bapak yang menikmati malam di pos depan rumah. Itu pun saya tak pernah menyapa wong memang mata saya tidak bisa melihat siapa yang ada di sana. Kalau sudah begini saya mengandalkan telinga untuk mendeteksi siapa saja yang tengah berbincang-bincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dua minggu lalu, di depan rumah –pinggir sungai—diratakan. Di sana dipasang paving sehingga menjadi lapang dan bersih. Baru hari ini saya menikmati lahan baru ini. Awalnya, Pak Keket dan Mbak Anik –tetangga sebelah—punya ide meluaskan lahan yang dipaving karena sudah ada tiga petak yang diratakan. Saya sih setuju-setuju saja apalagi masih ada pasir dan batu bata sisa renovasi rumah kecil-kecilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang membeli paving dan membayar pak tukang, Mbak Anik yang menego tukang dan akhirnya dia juga yang ngopeni pak tukang dengan makan-minum. Saya? Ngopeni diri sendiri saja kelabakan apalagi harus ngopeni tukang. Nego sederhana pun jadi. Bahkan Pakde, pak tukang senior, langsung mengukur tanah dengan ranting untuk menentukan paving yang harus saya beli. Paving datang, beres. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengerjaannya mengingatkan saya pada Roro Jonggrang. Selepas Maghrib, Pakde dan dua tukang yunior langsung meratakan tanah. Saya hanya tahu tanah di pinggir sungai depan rumah itu sudah rata ketika pulang sekitar pukul 23.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok malamnya, paving dipasang. Pak Keket memberikan kayu bengkirai bekas blandar teras dan beli semen. Kayu keras ini menjadi dingklik panjang. Hari ketiga semuanya beres. Mereka bekerja tanpa disentuh matahari. Bukan karena ini ritual pesugihan tetapi karena pagi hingga sore mereka harus mengerjakan rumah tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang Sabtu (26/12) –meski tulisan ini diunggah dini hari Minggu (27/12)—saya thenguk-thenguk menghadap sungai yang airnya mengalir deras. Di seberang sungai, glagah tumbuh tinggi. Glagah ini menjadi tempat ayunan burung-burung liar. Burung-burung ini begitu genitnya. Jika ada geluduk alias guruh, mereka semburat beterbangan untuk kembali hinggap. Begitu seterusnya. Sayangnya, saya begitu terkesan melihat mereka terbang hingga hanya satu jepretan kamera yang bisa menangkap burung yang buyar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan baru ini langsung menjadi tempat bermain baru bagi anak-anak. Mereka menirukan Benteng Takeshi dan Ninja Warrior di televisi. Rintangannya mulai dari menggelantung di dahan mangga, memanjat batang terendah dan meloncat turun, meloncati bangku, meniti batu bata, (dengan bandelnya) berjalan di atas dua kursi-meja taman, hingga meniti dingklik baru, dan kemudian bergegas membunyikan bel sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara mereka selalu ramai. Saya selalu menikmati gembira mereka dari rumah, sambil menyelesaikan editan buku atau mengerjakan tugas ketika libur Sabtu. Tetapi ada juga acara favorit mereka di lahan itu: upacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ini benar-benar upacara. Ada MC, pengibar bendera (tanpa bendera), dirigen, inspektur upacara, petugas pembaca doa, petugas pembaca Pembukaan UUD 1945, dan... ada peserta upacara. Suara MC mirip dengan pemandu acara ketika upacara 17 Agustus di Istana Merdeka. Inspektur upacaranya benar-benar dipilih yang paling senior di antara anak-anak. Inspektur upacara ini bahkan juga memberi sambutan upacara yang dulu selalu membuat saya memilih pura-pura pingsan supaya bisa leyeh-leyeh di UKS hingga guru curiga karena setiap upacara saya pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dirigennya ini yang asyik. Dia benar-benar memimpin beberapa peserta upacara (biasanya anak-anak yunior banget) untuk menyanyi. Gayanya meyakinkan. Yang menyanyi juga serius. Kadang-kadang acara menyanyi ini dilanjutkan dengan menyanyi bebas. Benar-benar bebas karena lagunya bisa dari ST12, d’Massive, Afgan, Duo Virgin, pokoknya sesuka yang memimpin. Biasanya setelah menyanyi-nyanyi ini upacara otomatis buyar, diganti dengan ’karaoke’ bersama. Seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering perhatikan, selalu ada anak yang ingin menonjol. Selalu ada anak yang ingin jadi pemimpin terus, sebaliknya ada juga anak yang cenderung jadi pengikut. Inilah enaknya mata dewasa melihat mereka. Saya senang karena lahan di depan rumah menjadi istana untuk mereka. Istana bermain anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan baru ini memang tidak dimaksudkan untuk siapa-siapa. Jika ada anak-anak yang memakainya untuk bermain, saya senang sekali. Lahan ini juga bukan milik saya karena memang tanah developer. Semuanya jadi bersih karena Mbak Indi –mbak di rumah Pak Keket—yang rajin menyapu. Bahkan kemarin Pak Keket yang menyapu dan saya yang thenguk-thenguk. Saya kurang ajar banget, ya. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon mangga besar di depan rumah dulunya memang dibeli agar setiap rumah punya pohon mangga sehingga tidak saling kemecer melihat mangga tetangga. Mangga manalagi di depan rumah de jure memang atas nama saya tetapi de facto ini milik para mbak yang bekerja di rumah Mbak Anik. Merekalah yang menyapu dan membersihkan daun-daunnya. Ketika panen raya, mereka juga yang sebenarnya berhak meski kemudian semua mangga dibagi rata untuk seluruh tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan di depan rumah menjadi perpanjangan halaman yang memang sempit. Saya senang glagah tumbuh tinggi menutupi rumah-rumah baru jauh di seberang sungai. Dengan glagah tinggi, pemandangan tetap seperti di pinggiran kota. Saya yakin para burung genit itu sepakat, juga nyambik alias biawak yang sering muncul di antara rimbunnya semak di seberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-foto: saya yang motret.&lt;br /&gt;Foto 1. Istana bermain untuk anak yang nyaman dipakai leyeh-leyeh. Saat istimewa bertemu tetangga.&lt;br /&gt;Foto 2. Pohon mangga ini ditanam 15 tahun lalu. Saat panen raya, semua mendapat bagian. &lt;br /&gt;Foto 3. Selagi mau, memotong tunas anggrek, ditempelkan di pakis, diikat di pagar.&lt;br /&gt;Foto 4. Capung berpegang erat-erat ketika angin bertiup kencang. Mendung tebal siap menumpahkan air hujan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-5457223082881897019?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/5457223082881897019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=5457223082881897019&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5457223082881897019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5457223082881897019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/12/istana-anak-anak.html' title='Istana Anak-anak'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SzZQW_4n_ZI/AAAAAAAAAOk/xFDsZhHMp9E/s72-c/istana+bermain.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-4412759578595513948</id><published>2009-09-19T22:42:00.005+07:00</published><updated>2009-09-19T23:09:24.718+07:00</updated><title type='text'>Penyusuh</title><content type='html'>Nikmatnya libur meski cuma dapat tiga hari pas. Mendengar tetangga brak-bruk beres-beres rumah, jadi ketularan. Saya ingin punya ruang sendiri untuk kerja sekaligus berkhayal di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil saya selalu punya sudut untuk sekadar diam. Sudut ini tak selalu berarti pojokan. Pokoknya selalu ada tempat nyempil yang membuat saya betah berjam-jam diam di situ. Benar-benar berjam-jam. Biasanya sambil mikir sesuatu, merancang sesuatu, atau sekadar membayangkan menjadi Madam Mik Mak –penyihir gendut dalam Donal Bebek yang menjadi idola saya. Pokoknya di sudut yang gue banget ini saya bisa jadi apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, sudut nyepi saya ada di depan lemari es. Benar-benar di depannya. Jadi kalau suami akan membuka lemari es, saya harus beringsut sedikit. Favorit lain duduk nempel di tembok di belakang pintu depan. Nikmat rasanya. Sayang sekali, berminggu-minggu saya tidak bisa menyepi sama sekali. Selalu gedebukan tak punya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya ingin sudut Madam Mik Mak ini lebih representatif. Maksudnya bisa sekalian untuk belajar dan menulis. Pilihannya kamar belakang di bawah pohon mangga kurus.&lt;br /&gt;Sepele, wong hanya berdua, mau milih di depan kamar mandi atau di bawah tangga juga bisa. Yang membuat bertele-tele adalah efek dominonya. Kalau mau pakai kamar belakang berarti harus memindahkan lemari es ke ruang lain,  piring dan gelas ke lemari tempel di dapur. Gampang to?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sama sekali tidak sepele. Sama sekali tidak gampang. Sebelum masuk lemari tempel, semua barang harus dicuci dulu. Ternyata lagi, saya memang punya bakat nyusuh –menimbun barang. Saya luar biasa kaya dengan benda-benda ajaib. Tutup stoples yang badannya tak ketahuan juntrungnya, deretan mug, bertumpuk panci, rantang-rantang, wadah pemisah kuning telur, waduh… saya merasa benar-benar kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panci berbagai ukuran saya pandangi dengan memelas. Lha wong saya ini makan saja ngerantang kok punya panci susun berbagai model. Saya usut, panci-panci itu ternyata hadiah dari koperasi. Beberapa kali dapat panci susun. Yang dipakai selalu yang berukuran paling kecil. Lainnya, ya nyumpel saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada alasan pembenaran ketika akan membeli barang-barang itu. ”Belum berasa jadi ibu rumah tangga kalau belum punya Tupperware,” kata saya waktu mengambil dua set kotak makan. Padahal harganya tidak murah dan harus dibayar dengan uang makan beberapa kali. Karena didapat dengan perjuangan seperti ini, perkakas yang membuat saya berasa jadi ibu rumah tangga beneran ini saya eman-eman, saya sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum juga berasa jadi ibu rumah tangga jika tidak punya piring dan mangkok melamine yang tebal. Jadilah membeli tiga set dengan tiga warna berbeda. Saya selalu merasa punya alasan untuk membeli kopi Nescafe dalam jumlah banyak agar mendapat mug kecilnya. Jika ada model yang belum punya, ya diburu. Belum lengkap jadi ratu dapur jika tidak punya panci presto. Beli juga tiga tahun lalu dan sampai sekarang belum pernah sekalipun keluar dari kardusnya. Nasibnya sama dengan juicer, rantang, termos, dan entah apa lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena enggan merepotkan tetangga untuk pinjam barang kelak jika ada acara di rumah yang menghadirkan banyak orang, akhirnya beli piring satu set dan sendok cs setumpuk. Lha iya, ketempatan arisan dasa wisma saja setahun sekali. Ketempatan arisan PKK belum pernah. Bahkan tamu yang duduk lama pun tak pernah ada.&lt;br /&gt;Saya pikir-pikir sambil meringis kecapaian mencuci perkakas ini, betapa tamaknya saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan mangkok hadiah dari kopi Kapal Api dan mug bertuliskan Hongkong. Kopi Kapal Api Special adalah kopi favorit ketika kuliah apalagi ketika berbonus mangkok. Membuat kopi ketika Maghrib dan saya tinggal tidur sampai kira-kira pukul 23.00 WIB. Kopi dingin ini yang menjadi doping tiap malam ketika menyelesaikan skripsi saat teman serumah tidur. Pasangannya semangkok mi instan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dua benda yang saya bawa dari kos-kosan ketika menikah 15 tahun lalu. Betapa nyusuhnya saya. Selama 15 tahun dua benda itu tetap saya sumpalkan di lemari. Iseng saya tunjukkan suami, ”Harta yang tidak termasuk gono-gini ya mangkok dan mug ini.” Ternyata harta suami yang tak termasuk gono-gini lebih banyak. Dia punya pemancar dengan antena, solder, komponen elektronika yang berjejal-jejal dalam beberapa dus berdebu, hingga sertifikat Orari dengan foto jadul dan rambut krewul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kami sama-sama penyusuh kelas berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, saya selalu kemecer melihat kardus bekas air mineral. Beberapa kardus yang sudah dilipat terselip di bawah meja. Kotak cantik, wadah permen, beberapa kendil tanah liat lengkap dengan tutup, stoples, rotan tempat parsel, hingga tas kresek terkumpul. Lihatlah di bawah meja saya di kantor, benda-benda itu teronggok. “Siapa tahu dibutuhkan. Siapa tahu ada yang butuh. Ini bisa dipakai untuk wadah. Yang itu kalau dicat pasti bisa dimanfaatkan,” selalu seperti itu alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (19/9), saya mulai membersihkan kamar belakang dan dapur pukul 08.15 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB. Itu pun masih menyisakan barang-barang ikutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini kamar belakang sudah bersih. Buku-buku teori sastra zaman kuliah bertumpuk lagi. Buku favorit, majalah Femina yang selalu dikempit tiap pagi kalau ke kamar mandi, koreksian siswa, berkas-berkas buku, sudah masuk. Tinggal ditata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 80 persen beres dan mandi lengkap dengan keramas, rasanya saya sudah menjadi bersih. Semoga. Semoga tidak nyusuh lagi. Saya berusaha membuat tawar perasaan ingin jadi ratu dapur ketika melihat iklan perangkat makan dari plastik dengan tutup yang diklaim antibocor. ”Noooo... saya tidak mau nyusuh."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-4412759578595513948?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/4412759578595513948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=4412759578595513948&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/4412759578595513948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/4412759578595513948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/09/penyusuh.html' title='Penyusuh'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-6364541485387147276</id><published>2009-08-06T08:33:00.003+07:00</published><updated>2009-08-06T08:48:15.949+07:00</updated><title type='text'>Pesawatku</title><content type='html'>Setiap kali pergi dengan pesawat, rasa mules makin menjadi dibandingkan jika perjalanan darat. Baru reda setelah yakin semua beres. Tiket, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;boarding pass&lt;/span&gt;, berkali-kali melihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gate&lt;/span&gt; berapa dan nomor kursi berapa, meyakinkan diri tidak salah gerbong, hingga berdoa supaya dapat teman yang tidur terus supaya tak perlu basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan doa, pesawat membuat saya makin dekat dengan Gusti Allah. Bukan karena ada di langit beberapa puluh menit tetapi karena benar-benar menyerahkan segala kepadaNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya protes dalam hati, mengapa di pesawat hanya ada pelampung? Seharusnya disediakan juga payung parasut sehingga bisa melayang jika ada apa-apa. Pelampung kan hanya untuk pendaratan darurat di air. Lha kalau seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;twin otter&lt;/span&gt; yang jatuh di Papua, apa guna pelampung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feri saja ada sekocinya. Saya bayangkan, jika di bagian bawah tempat duduk ada pelampung, harusnya di sandaran kursi disediakan sayap lengkap dengan helm yang mengembang bila ditiup. Begitu ada apa-apa, tinggal tempel sayap, whussss.... Ini mau saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada kerjaan yang mengharuskan berangkat ke Jogjakarta dan naik pesawat yang hobi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;delay&lt;/span&gt;, saya terkekeh saat dipersilakan masuk. Pramugari yang muda, cantik, berbedak dan gincu tebal, dengan senyum yang tak pernah henti meski mata mereka nyaris tak mesem, dengan ramah menyambut. ”Selamat datang Bapak dan Ibu. Mohon maaf atas keterlambatan kami. Nomor kursi di tiket tidak berlaku lagi. Silakan memilih tempat duduk sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedubrak, awas, minggir, permisi, aduh, maaf. Langsung riuh rendah seperti keroyokan di Terminal Bungurasih ketika lebaran. Maklum, semua sudah tak sabar ingin segera ke Jogjakarta setelah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;delay&lt;/span&gt; 2 jam dan terkantuk-kantuk di Bandara Juanda, Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi paling asyik memang naik satu maskapai tertua di Indonesia. Saya tak peduli dengan pramugari yang mesem ala kadarnya. Senyum ini baru kelihatan nikmat dilihat ketika sudah sampai tujuan dan para penumpang turun. Ini senyum lega karena urusan melayani usai. Saya senang karena pilihan koran gratisnya banyak terutama untuk koran yang tak saya temui di kios koran di Surabaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin (27/7) ke Jakarta lagi. Seperti biasa mas-mas staf maskapai ini memberitahu posisi pesawat. Biasanya cuma, kita ada di ketinggian sekian. Tetapi mas yang satu ini sangat ramah. Dia tahu, ada beberapa rombongan turis di pesawat. Dengan sangat ramah mas ini bercerita tentang wilayah yang dilewati. Suaranya tegas dan tidak disengau-sengaukan seperti biasanya. “Bapak dan Ibu, kita sekarang ada di atas kota Cirebon. Kota ini ada di Jawa Barat. Cirebon dikenal dengan hasil laut dan kerajinan batik pesisirnya. Wilayah ini berbatasan dengan Gunung Ciremay. Tinggi gunung ini... bla-bla-bla.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasannya panjang. Senang saya mendengarnya karena baru kali ini saya menikmati keramahan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;guide&lt;/span&gt; di dalam pesawat. Nah, si mas ini kan harus menerjemahkan dalam bahasa Inggris. Dia berbicara sama ramahnya dan sama panjangnya seperti dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu si mas mengatakan selamat menikmati keindahan Cirebon dan Gunung Ciremay, rombongan turis langsung melongok ke jendela untuk melihat Cirebon dan Gunung Ciremay yang disebut itu. Mereka tolah-toleh mencari. Tak mungkin menengok ke belakang karena jendela pesawat cuma seuprit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah… si mas tadi tidak berhitung dia sedang naik pesawat. Ketika memberitahu dalam bahasa Indonesia saya bisa langsung melirik ke bawah dan melihat gunung itu karena cuaca cerah. Tetapi ketika si mas ngoceh dalam bahasa Inggris yang juga panjang, pesawat sudah meninggalkan Cirebon. Lha… apa yang dilihat para turis itu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-6364541485387147276?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/6364541485387147276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=6364541485387147276&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/6364541485387147276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/6364541485387147276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/08/pesawatku.html' title='Pesawatku'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-6224955749072891222</id><published>2009-07-05T09:12:00.001+07:00</published><updated>2009-07-05T09:16:19.624+07:00</updated><title type='text'>Juragan Sawah yang Bangkrut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SlAM58yUU1I/AAAAAAAAAOE/G2pk1-77WhY/s1600-h/sawah1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 205px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SlAM58yUU1I/AAAAAAAAAOE/G2pk1-77WhY/s320/sawah1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354794146652771154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SlAM5lBWKSI/AAAAAAAAAN8/BTxVwV12NsQ/s1600-h/sawah.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 217px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SlAM5lBWKSI/AAAAAAAAAN8/BTxVwV12NsQ/s320/sawah.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354794140273355042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libur selalu menyenangkan. Dengan dua sepeda onthel, kalau bisa bangun pagi dan tidak ada acara pagi lain, saya dan suami mencoba kekuatan kaki. Ngonthel. Seperti orang-orang yang tergabung dalam Hash, ada rute short, medium, dan long. Ngonthel juga begitu. Tetapi itu bergantung jam bangun. Kalau bisa bangun pagiii ya ambil rute long.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rute long ini makan waktu sekitar 1,5 jam. Mulai dari rumah, pasar, menyeberang jembatan tol di Wage, Perumahan Taman Aloha, kampung, Perumahan Cipta Karya, dan ini dia yang paling kami suka: menyusuri sungai kecil sepanjang sawah. Sungai ini sejajar dengan jalan tol Surabaya-Porong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat perjalanan menjadi lama, kalau ada kerumunan ikan gathul dan sepat di sungai, sepeda berhenti. Kalau ada yuyu, berhenti lagi. Posko pertama tak pernah berubah: di bawah pohon gayam. Ya baru setua ini saya tahu pohon gayam meski sampai sekarang tak pernah melihat buahnya yang kata suami saya gurih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya, pohon gayam ini vila favoritnya para hantu. Mungkin benar juga. Wong saya saja krasan kok apalagi hantu. Di bawah pohon gayam ini adem, rindang, dan bikin ngantuk. Nah, di posko pertama ini mulai ngemil jajan yang tadi dibeli di pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pas panen kacang panjang ya beli. Petani diberi Rp 5.000 wah... keranjang sepeda saya langsung penuh kacang panjang yang segar. Pernah saya beli terong seharga kacang panjang, keranjang langsung beraaat. Lumayan bisa untuk oleh-oleh tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngonthel lagi melewati Perumahan Puri Maharani. Ini tempat favorit anak muda dan yang merasa muda untuk berduaan. Gaya pacarannya aneh-aneh. Ada yang nangkring di atas sepeda motor, ada yang saling urut kaki, ada yang diam sambil cemberut. Risih juga melihatnya meski mereka sama sekali tidak risih ketika kami lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posko kedua sudah di depan mata. Di dekat jembatan tol menuju Perumahan Pasegan ada pasar pagi. Ramai. Posko kedua tepat di pertigaan jalan tempat orang berjualan goreng-gorengan. Makan pisang goreng, tahu, tempe, nyeruput teh hangat sampai kenyang paling habis Rp 4.000.  Tontonannya ya orang lalu lalang. Yang asyik, sepeda motor dilarang lewat, jadi lumayan bersih udaranya meski di bawah sana mobil yang lewat jalan tol tak pernah putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyang perut dan mata, ngonthel lagi lewat jembatan tol ke Pasegan dan Masangan. Di tempat ini ada sawah yang cantik. Luaaaas dan berbatas jalan tol jauh di ujung. Sungai irigasinya juga deras. Kalau tidak malu saya pasti sudah nyemplung. Acara mengayuh sepeda dilanjutkan ke tengah sawah. Ini benar-benar Sidoarjo yang asli. Lewat pematang yang cukup lebar, ada gubuk untuk menghalau burung, dan pohon mangga entah jenis apa yang ditanam sebagai peneduh. Nikmat bener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas cengengesan berdua di tempat ini, dilanjutkan ngonthel lagi. Sekarang mengambil jalur pulang lewat Perumahan Bhayangkara dan Perumahan Sukoasri. Di tempat ini ada pasar kaget juga. Mampir lagi karena agenda tetapnya sarapan pecel Madiun yang dijual di mobil. Tak banyak yang bisa dilihat karena ini dekat perumahan. Tak ada yang asyik selain pecel itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sudah kelihatan, ngonthelnya dipercepat melewati tanah kosong yang membatasi Perumahan Sukoasri dengan rumah saya. Di sini ada tempat sampah liar yang baunya huekkk. Dulu tanah kosong ini juga sawah seindah di Masangan. Tepat di depan rumah kalau sedang bengong, nikmat memandang sawah. Saya seolah juragan pemilik sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sekarang sawah itu sudah dikapling-kapling dan dalam lima tahun terakhir bermunculan rumah gedong yang bagus-bagus. Saya si juragan sawah seperti sedang bangkrut. Sudah tak bisa menikmati sawahnya. Sekarang di depan rumah tumbuh bangunan yang semuanya bertingkat. Tak apa-apa, saya masih punya sungai irigasi di depan rumah. Di kanan-kiri sungai masih ada lahan untuk menanam pohon mangga. Di sepanjang sungai, glagah tumbuh adu cepat dengan sabetan arit petani yang lahannya tersisa seuprit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya bersyukur, sampai sekarang setiap pagi dan sore burung-burung liar masih gembira hinggap di pohon mangga depan rumah, tepi sungai. Bahkan mereka tak takut menclok di pohon mangga kurus yang saya tanam di lahan kosong belakang rumah, dekat kamar. Burung-burung ini seenaknya menclok di dapur, di atas panci, bahkan ketika ada saya, mereka tidak takut. Mungkin pikir mereka, ini dulu rumahku kok. Ngapain juga takut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-6224955749072891222?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/6224955749072891222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=6224955749072891222&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/6224955749072891222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/6224955749072891222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/07/juragan-sawah-yang-bangkrut.html' title='Juragan Sawah yang Bangkrut'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SlAM58yUU1I/AAAAAAAAAOE/G2pk1-77WhY/s72-c/sawah1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-279540903114569887</id><published>2009-06-27T22:12:00.003+07:00</published><updated>2009-06-28T16:05:03.518+07:00</updated><title type='text'>Pijat</title><content type='html'>Ada satu ritual yang tak pernah absen jika menjenguk Ibu di Kediri. Pijat. Ada yang kurang kalau belum dipijat, ini kata suami saya. Dia memang maniak pijat. Meski tak bisa mengakui 100 persen fungsi pijat, beberapa kali saya tak bisa menghindar. Saya ingin menikmati pijat yang kata banyak orang nikmat.&lt;br /&gt;Dari yang saya baca, pijat itu bisa melancarkan peredaran darah, membuat bugar, mengembalikan otot yang tegang, hingga menghilangkan capek. Nah, alasan yang terakhir ini yang biasanya membuat saya mau dipijat.&lt;br /&gt;Ada beberapa pemijat yang saya kenal. Pemijat tuna netra bernama Erwin yang tinggal di perumahan dekat dengan perumahan saya, menjadi langganan suami. Katanya, pijatannya membuat badan segar. Saya pernah mengantar dan menunggui suami pijat di rumah kontrakan Erwin ini. Walah... boseeen. Hiburannya hanya mendengarkan obrolan Erwin. Dia punya segudang cerita yang sering nggedobos alias membual. Tapi sudah dua bulan ini ponselnya tak bisa dihubungi sehingga ritual pijat suami saya terputus.&lt;br /&gt;Yang sekarang jadi favorit Bude Sar. Kata ibu saya, dia masih saudara jauuuh. Entah urutannya dari mana pokoknya saudara. Pijatannya ndeso, pakai diinjak segala. Kluthuk-kluthuk, ditambah dengan mantra-mantra penyembuh. Herannya, ketika belakang telinga dipijat, hidung selalu jadi tersumbat. Setelah kepala, leher, dan pundak dipijat bisa dipastikan langsung tidur. Baru melek lagi kalau paha luar ditekan.&lt;br /&gt;Nah, Bude Sar ini yang selalu dipanggil jika saya ke Kediri. Sayangnya, sekarang pasiennya banyak. Dia jadi tak punya banyak waktu. Pasiennya sering menjemput dengan mobil bagus-bagus. Yah, itu kan rezekinya. Dari saya paling-paling hanya Rp 30.000 sekali dipijat ditambah segelas kopi.&lt;br /&gt;Yang saya suka, Bude Sar ini selalu cerita tentang silsilah keluarga. Itu buliknya siapa, dapat suami dari mana, masih saudara dengan mbah siapa. Meski pusing membayangkan pertalian kekerabatan, tetapi saya masih bisa nyambung meski sedikit.&lt;br /&gt;Pijatan Bude Sar tidak banyak berpengaruh. Pokoknya ya enak saja dinyet-nyet. Lumayanlah, komentar suami saya.&lt;br /&gt;Ini berbeda dengan Bu Oscar. Bu Oscar yang tinggal beberapa blok dekat rumah saya adalah pemijat ulung. Saya tidak merasakan jari-jarinya, hanya usapannya yang membuat meringis. Dia orang Sumatera. Pijatannya sungguh membuat seluruh saraf tegang. Tetapi salah saya juga, tak bisa mengeluh meski kesakitan. Ini membuat Bu Oscar merasa pijatannya pas.&lt;br /&gt;Saya memang pantang mengaduh jika itu berhubungan dengan proses menuju sehat. Disuntik, diinfus, diperiksa dalam, entah diapakan lagi, pokoknya kalau itu tahapan untuk sembuh, tak akan saya mengaduh. Nah, ini juga. Saat dipijat, saya bayangkan sesuatu yang menyenangkan. Paling-paling Bu Oscar hanya tahu dari badan yang tegang karena sakit. Pijatannya nonstop dua jam. Kadang-kadang dia berkeringat lebih banyak daripada saya.&lt;br /&gt;”Badannya seperti batang pohon. Sudah berapa lama tidak pijat?” tanya Bu Oscar ketika kali terakhir saya ke sana, tahun lalu.&lt;br /&gt;Ketika acara pijat selesai, saya disuruh minum air putih. Ya, glek saja. Sampai di rumah mandi air hangat, tidur. Nah... justru ketika bangun inilah puncaknya. Tadi hanya terasa sengkring-sengkring ketika dipijat. Sekarang rasanya... cekot-cekot. Benar-benar tak bisa bangun. Begitu bangun, seluruh badan rasanya bonyok. Bagaimana tidak, di pangkal lengan, paha dalam dan luar, betis, lipatan lutut, punggung, pinggang, hingga leher menghitam selebar telapak tangan. Seperti buah pepaya yang jatuh dari pohon. Lebamnya tidak biru tetapi hitam.&lt;br /&gt;Selama beberapa hari tidak berani pakai sabun lama-lama. Juga harus pakai baju lengan panjang jika tidak ingin dianggap korban kekerasan dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;Setiap kali suami menyuruh pijat ke Bu Oscar karena keluhan makin sering, saya selalu panas dingin duluan. Ingat pijatannya, lebih-lebih ingat akibatnya. Bonyok.&lt;br /&gt;Nah, kemarin Jumat (26/6), saya pijat lagi. Bude Sar tak bisa dan ditawarkan pemijat lain, Yu Tukini. Ini rekomendasi para bulik. Saya manut. &lt;br /&gt;Jadilah saya dipijat Yu Tukini. Aduh, saya masih merasakan ujung jarinya yang runcing. Artinya, jam terbangnya belum tinggi karena bukan usapan yang saya rasakan. Benarlah, beberapa kali saya meringis karena dia tak punya trik. Biasanya jika ada yang harus dipijat dengan keras, selalu dialihkan dulu, baru kemudian bagian sumber sakit itu dipijat lagi, dialihkan, dipijat lagi sehingga sakitnya terbagi. Yang ini tidak. Pathok bangkrong, ya di tempat itu.&lt;br /&gt;Hasilnya?&lt;br /&gt;Paginya saya tak bisa bangun. Badan rasanya seperti digebuki. Ketika diraba, sakitnya luar biasa. Baru setelah bisa bangun, tahulah saya. Bonyok di mana-mana. Waduh, maunya cari alat mujarab penghilang capek, nyatanya malah tak bisa melek.&lt;br /&gt;Mungkin benar kata seorang teman, obat ampuh untuk menghilangkan capek adalah tidur. Semua organ akan istirahat dan ketika bangun dijamin bugar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-279540903114569887?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/279540903114569887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=279540903114569887&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/279540903114569887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/279540903114569887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/06/pijat.html' title='Pijat'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-5311311699706823263</id><published>2009-06-19T10:05:00.004+07:00</published><updated>2009-06-19T10:17:24.770+07:00</updated><title type='text'>Melewati Ringin Kembar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SjsBjVFqLsI/AAAAAAAAAMs/mk9mrsbqR4w/s1600-h/keraton.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SjsBjVFqLsI/AAAAAAAAAMs/mk9mrsbqR4w/s320/keraton.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348870688900525762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali ke Jogjakarta, tak pernah tergoda mencoba melewati ringin kembar di Alun-alun Kidul. Kurang kerjaan apa, menutup mata sambil berjalan berusaha masuk di antara dua beringin besaaaar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi cerita yang beredar cukup membuat syereem. Hanya orang tertentu yang bisa melewati dua beringin itu. “Sudah banyak pakar ilmu matematika yang mengotak-atik kemungkinan melewati dua ringin itu. Dihitung jarak, diukur, jumlah langkah, bahkan dicoba menarik garis lurus tetapi tak pernah bisa melewatinya,” kata Pak Wahyu, sopir dari persewaan mobil Adira, yang mengantar berkeliling Jogja, Sabtu (6/6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm… masih banyak cerita tentang kegagalan melewati ‘gang’ beringin itu meski jarak antara dua beringin itu bisa dipakai parkir tiga mobil sekaligus. Diyakini, mereka yang bisa masuk di antara dua ringin itu, permintaannya akan dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jaim ketika Febta, Putri Lingkungan dari Malang, kepingin. Si Cantik ini antusias sekali mencoba. Melihatnya sangat berharap, akhirnya kami –para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pinisepuh&lt;/span&gt;, haha—mengantarkan. Febta menutup mata dan berjalan yakin. Eh... tiba-tiba dia melenceng ke kanan, gedubrak... menabrak pagar beringin. Gagal. Dicoba lagi, melenceng lagi ke kanan. Gagal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Radar Malang&lt;/span&gt; ikut mencoba. Sekali coba, melenceng. Dua kali, telanjur melek dan dianggap batal. Baru pada usaha ketiga dia bisa melewati. Itu pun dia mengaku agak mengintip karena hampir tersandung. Akhirnya dia bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bapak muda mencoba. Matanya ditutup kain hitam. Dengan mantap dia melangkah, eh melenceng ke kanan. Dicoba lagi, sekarang malah melenceng ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya amati dari pagar pendek di depan keraton, ada satu pola di alun-alun itu. Alun-alun berumput ini tampak botak pada titik tertentu dan terus membotak pada jalur ke kanan sampai di pojok luar beringin di sebelah kanan. Saya pikir, berarti pada tempat tertentu orang mulai kehilangan orientasi langkah dan mulai berbelok. Kalau sampai botak artinya sangat banyak yang masuk jalur salah yang seperti memanggil itu. Padahal di jalur yang melenceng ke kiri, rumput memang tipis tapi tak sampai botak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak muda ini tertawa-tawa setelah tahu gagal. Istrinya ikut mencoba. Mata ditutup dan mulai berjalan. Tepat di titik persimpangan dia tiba-tiba balik kanan seperti pasukan berbaris dan kembali ke tempat semula. Suami dan dua anaknya tertawa geli. Kami yang melihat ikut tergelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nek badhe pados guyu nggih ten ngriki&lt;/span&gt;,” kata penjual kacang rebus di depan Sasono Hinggil, keraton. (Kalau ingin mencari gembira, tertawa, di sini tempatnya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini suami-istri itu sama-sama ditutup matanya. Mereka bergandengan dan mencoba saling menguatkan supaya bisa melewati ringin kembar. Mantap... langsung belok kiri bahkan sebelum sampai di titik persimpangan, sampai di tempat orang memasang tenda untuk acara esok hari. Huehehe. Sekarang anak lelakinya mencoba. Ditutup mata, berjalan cepat terus... sampai ke tengah-tengah ringin. Sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anak-anak di bawah 12 tahun selalu bisa melewati ringin kembar,” kata ibu yang menyewakan penutup mata. Satu penutup mata Rp 3.000. Entah apa ukurannya dengan angka 12 itu. Mungkin lulus SD atau sudah sunat ya. Padahal gak ada hubungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Aida dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/span&gt;, Bandung, awalnya tak mau juga. Tetapi si ibu yang punya banyak pengalaman dengan makhluk lain ini mau juga. Dia berjalan setelah berdoa. Berjalan terus dan masuk di antara dua beringin. Sukses! Lamat-lamat terdengar orang-orang di depan keraton bertepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sulhi dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Intisari&lt;/span&gt;, Jakarta, keukeuh menolak. Tetapi melihat Bu Aida bisa dan Mas Oki (dari Sampoerna Hijau) yang ikut aliran melencengisme ke kanan, akhirnya Pak Sulhi penasaran juga. Mata ditutup kain hitam, mungkin berdoa dulu karena sebelum melangkah dia diam agak lama untuk konsentrasi, dan mulailah berjalan. Teruuuus... berbelok ke kanan. Yang melihat mulai mesem, dan membiarkan dia terus salah jalan. Sampai akhirnya dia berhenti di dekat kambing ditambatkan. Gagal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-jaim-an saya luluh ketika Febta meminta saya ikut mencoba. Dalam hati saya menolak. Ini takhyul, saya tak mau mencoba. Tetapi melihat wajah memelas Febta yang ingin ditemani berjalan (meski sama-sama merem), saya jalan juga. Segala permintaan ampun saya panjatkan karena sebenarnya tak ingin mencicipi. Setelah itu jalan terus. Mau melenceng ke kiri atau ke kanan, ya silakan saja. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wong&lt;/span&gt; memang mata saya tertutup, mana saya tahu kemauan kaki. Terserah mata kaki saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tertawa-tawa untuk menutupi khawatir, saya jalan terus. Tiba-tiba dalam penglihatan saya di depan ada tembok putih luas. Otomatis saya berhenti dan membuka mata. Lho, kok sudah ada di antara dua beringin. Aha... sukses! Lega juga bisa memenuhi tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, bisa. Pernah mencoba?” tanya ibu yang menyewakan penutup mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dereng&lt;/span&gt;, belum,” jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jarang lho Mbak yang bisa melewati ringin kembar,” katanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meringis. Bangga? Tidak ah, cuma lega. Sebenarnya ada buku primbon yang menjelaskan mengapa dalam penglihatan muncul tembok putih, jurang, atau batu besar. Saya tidak ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mobil dalam perjalanan ke Bandara Adi Sucipto, berbagai komentar tentang ringin kembar muncul. “Berarti permintaannya bakal terkabul, Mbak,” kata Pak Sulhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan? Lho, iya. Saya lupa. Tadi sebelum berjalan saya tidak memasang permintaan apa-apa. Waduh, sia-sia dong acara jalan tadi. Bisa nggak ya permintaannya menyusul? Kalau bisa sih akan saya susun deretan permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: saya yang motret&lt;br /&gt;Febta (jongkok), Pak Sulhi, dan Bu Aida di depan Sasono Hinggil sebelum penasaran mencoba melewati ringin kembar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-5311311699706823263?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/5311311699706823263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=5311311699706823263&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5311311699706823263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5311311699706823263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/06/melewati-ringin-kembar.html' title='Melewati Ringin Kembar'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SjsBjVFqLsI/AAAAAAAAAMs/mk9mrsbqR4w/s72-c/keraton.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-7058933267266623993</id><published>2009-06-18T22:16:00.003+07:00</published><updated>2009-06-18T22:21:45.805+07:00</updated><title type='text'>Rokok Kemenyan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sjpa0SCseHI/AAAAAAAAAMk/ZTBvl9KxO1U/s1600-h/sapu.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sjpa0SCseHI/AAAAAAAAAMk/ZTBvl9KxO1U/s320/sapu.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348687361698723954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sjpa0KPX0PI/AAAAAAAAAMc/kEZRJbceQgc/s1600-h/rokok.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 316px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sjpa0KPX0PI/AAAAAAAAAMc/kEZRJbceQgc/s320/rokok.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348687359604412658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang sore rombongan tim juri yang akan menilai wilayah dalam program Sampoerna Hijau Kotaku Hijau berhenti di RW 1 Desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jumat (5/6). Menjelang sore udara jernih campuran antara bau sawah, tegalan,  dan segarnya air sungai.&lt;br /&gt;Sambutan di desa ini cukup unik. Para ibu, anak-anak, simbah-simbah berjajar sambil memegang sapu lidi. Ada yang sapu lidinya sudah memendek terlalu sering dipakai tetapi yang banyak justru sapu lidi yang masih baru dengan ujung tidak dipangkas. Hehe, mana bisa menyapu dengan nikmat ya kalau bentuknya seperti ekor kuda. Beberapa membawa sapu ala Harry Potter.&lt;br /&gt;Makin sore sambutan makin meriah. Tetapi kok ada aroma aneh ya. Seperti kemenyan yang membuat sedikit merinding. Apalagi matahari cepat sekali menggelincir ke sebelah barat. Setiap kali mendekat ke rombongan para bapak di desa itu, setiap kali pula tercium aroma yang dekat dengan segala yang membuat semua persediaan hantu keluar dari sarangnya.&lt;br /&gt;”Bau kemenyan ya,” bisik Bu Aida dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/span&gt;, Bandung. Saya tak merespons, khawatir penciumannya benar. Yang tanggap justru Pak Sulhi dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Intisari&lt;/span&gt;, Jakarta. Makin dihirup, makin jelas aroma kemenyan.&lt;br /&gt;Iseng saya tanya pada rombongan bapak yang berjalan berjajar ketika akan menunjukkan bagaimana RW mereka mengumpulkan sampah yang dicampur kotoran sapi kemudian digiling hingga menjadi pupuk. Pupuk ini yang dipakai lagi di tegalan. Halaman-halaman yang Masya Allah luasnya rimbun dengan barongan bambu dan aneka pohon menjadi setting yang cocok dengan bau kemenyan. Apalagi di hari menjelang surup, senja.&lt;br /&gt;”Kok bau kemenyan ya, Pak. Jangan-jangan ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jopa-japu&lt;/span&gt; alias mantra supaya menang.” Para bapak itu terkekeh. ”Bukan, Mbak. Ini bau rokok kemenyan,” kata seorang bapak menunjukkan rokok yang panjangnya hampir dua kali lipat rokok biasa yang disulut seorang bapak di depan salah satu rumah. ”Itu produksi asli desa ini. Yang membuat Pak Seno,” kata bapak itu.&lt;br /&gt;Yang dipanggil Pak Seno ada di dalam rombongan ini. Pak Seno tersenyum. ”Itu saya namakan rokok Ilegal. Saya meramu sendiri, melinting.”&lt;br /&gt;Konsumennya warga desa ini. Menurut Pak Seno yang berkumis sangat tebal ini, rokok kemenyan menjadi favorit. Selain rasanya sesuai selera, harganya juga murah. Sebatang Rp 500 dengan masa isap dua kali lipat lebih lama dibandingkan rokok biasa. Sehari Pak Seno bisa melinting 100 rokok. Dari setiap batang, dia mengambil untung Rp 100. Lumayan, sebulan dia bisa dapat Rp 300.000.&lt;br /&gt;”Walah, jangan dihitung untungnya. Boyok yang pegel karena harus membungkuk ketika melinting apa tidak dihitung. Pijetnya itu lho,” kata Pak Seno tertawa. Karena ini kegiatan selingan, dia tidak mematok harus melinting setiap hari. ”Pokoknya kalau di warung-warung sudah tinggal sedikit, ya saya nglinting lagi. Kalau pulang dari tegalan, capek, ya tidak nglinting. Kalau ada tamu seperti sampeyan begini, saya juga tidak nglinting.”&lt;br /&gt;Malu, kedatangan saya dan rombongan ternyata membuat warga desa menghentikan aktivitas yang bisa mendatangkan keuntungan. Dengan enteng Pak Seno membagi resep rokok lintingnya. ”Ya racikannya biasa. Mbako (tembakau) enak dan yang biasa dicampur, dikepyuri kemenyan, dilinting. Takarannya tidak tahu ya, pokoknya dikira-kira,” kata Pak Seno.&lt;br /&gt;Pak Sulhi beli 10 batang. Katanya untuk oleh-oleh teman-temannya di Jakarta. Jika sangat panjang, bagaimana kemasannya? Orang desa tak peduli kemasan wong mereka belinya juga eceran. Karena Pak Sulhi beli 10, rokok dikemas dalam plastik sekiloan yang diikat begitu saja. Rokok rakyat ini memang unik.&lt;br /&gt;Pak Seno menawari saya rokok kemenyan. Saya ambil sebatang, saya cium. Hhhhggg... bau kelembak alias kemenyannya tercium samar-samar. Aroma ini akan kuat ketika rokok dibakar dan diisap. Tentu saja saya menggeleng ketika ditawari korek api. Gila apa memenuhi paru-paru dengan konon ’makanan’ makhluk lain!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang motret: saya&lt;br /&gt;1. Anak-anak TPQ diajak menyambut dengan sapu baru. Ustadzahnya oke, sabar.&lt;br /&gt;2. Sentra perajin pot dengan hiasan beling. Lihat saja rokok di mulut bapak ini, panjang dan baunya itu lho.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-7058933267266623993?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/7058933267266623993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=7058933267266623993&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/7058933267266623993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/7058933267266623993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/06/rokok-kemenyan.html' title='Rokok Kemenyan'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sjpa0SCseHI/AAAAAAAAAMk/ZTBvl9KxO1U/s72-c/sapu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-4068529125166634872</id><published>2009-06-14T12:25:00.007+07:00</published><updated>2009-06-14T13:15:24.712+07:00</updated><title type='text'>Wajah di Dinding</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SjSTHhZjXcI/AAAAAAAAAMU/3_zhRfTybVI/s1600-h/pot8.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SjSTHhZjXcI/AAAAAAAAAMU/3_zhRfTybVI/s320/pot8.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347060415029534146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SjSSpeQV50I/AAAAAAAAAMM/h2J3c_kc6_0/s1600-h/potkecil.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 248px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SjSSpeQV50I/AAAAAAAAAMM/h2J3c_kc6_0/s320/potkecil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347059898789521218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti program Sampoerna Hijau Kotaku Hijau 2009 sejak 4 Juni-6 Juni 2009, membuat saya punya kantong cerita banyak. Salah satunya tentang pot berbentuk wajah orang. Pot ini menempel di dinding gang pembatas rumah penduduk di pinggir Kali Code, Jogjakarta, dengan tempat usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasalah, di kota selalu ada perbedaaan ekstrem yang agaknya wajib dibatasi dengan tembok panjang-tinggi-tebal untuk menunjukkan ini wilayahku dan itu bukan tempatku. Di lorong yang membosankan ini, warga RW 7 Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetisharjo, Jogjakarta menyiasatinya dengan membuat mural. Tetapi mural saja tentu tidak berkonsep hijau meski di banyak mural tampil warna hijau. Konsep hijau yang digulirkan Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin (sebenarnya masih ada sederet gelar lagi), guru besar lanskap di IPB yang menjadi ketua tim juri pada penilaian bersih dan hijau di 10 kota di Jawa, konsep hijau merangkum ekologi, pengolahan sampah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pot yang biasanya ditata di bawah, dipindah ke dinding setinggi kepala orang dewasa. Dasar mbeling, supaya lebih menarik, pot dibentuk ekspresi wajah orang. Bagian atas 'kepala' diisi tanah dan kompos dan ditanami. Daun yang dipilih diatur sehingga setiap pot wajah ini memiliki aksen berbeda. Ada yang rambutnya krewul, ada yang gondrong, ada yang botak, ada rambut kurang gizi, ada punya yang jigrak. Favorit saya pot berwajah mirip pelawak Dono di Warkop DKI dengan rambut jigrak. Saya langsung jatuh cinta pada pot itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bisa jadi inspirasi. Asal di gang itu tidak mati lampu, pot ini menyejukkan mata. Tetapi jika mati lampu, huuuuah... ada yang melotot dengan rambut gimbal di dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto: saya yang motret&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-4068529125166634872?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/4068529125166634872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=4068529125166634872&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/4068529125166634872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/4068529125166634872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/06/wajah-di-dinding.html' title='Wajah di Dinding'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SjSTHhZjXcI/AAAAAAAAAMU/3_zhRfTybVI/s72-c/pot8.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-3586435365429443912</id><published>2009-05-28T21:37:00.006+07:00</published><updated>2009-05-28T21:58:50.995+07:00</updated><title type='text'>Wisata Lumpur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kA8tYqvI/AAAAAAAAAL0/3miD5BvjptQ/s1600-h/semburan.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 215px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kA8tYqvI/AAAAAAAAAL0/3miD5BvjptQ/s320/semburan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340886544311429874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kAukKQFI/AAAAAAAAALs/xGLyt1PaJnw/s1600-h/turun.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 183px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kAukKQFI/AAAAAAAAALs/xGLyt1PaJnw/s320/turun.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340886540514639954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kAr-ZsQI/AAAAAAAAALk/XebgF755pNY/s1600-h/bungalumpur1.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kAr-ZsQI/AAAAAAAAALk/XebgF755pNY/s320/bungalumpur1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340886539819397378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kATCfhUI/AAAAAAAAALc/ouBfqLSRQjc/s1600-h/dayat_kholik.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kATCfhUI/AAAAAAAAALc/ouBfqLSRQjc/s320/dayat_kholik.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340886533125670210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjual Lumpur di Atas Tanggul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiga Tahun Bertahan di Lumpur Lapindo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rakyat itu tahan banting, mudah beradaptasi dengan kemiskinan. Bisa jadi itu juga dialami Puji, 40. Tukang ojek ini tiga tahun lalu menjadi buruh di pabrik rotan. Sekarang dia mengandalkan nasib baik di bibir tanggul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggul yang melingkupi semburan lumpur yang muncul sejak 29 Mei 2006, kini menjadi lahan baru bagi Puji dan lebih dari 100 tukang ojek lain. Dulu ketika menjadi buruh di pabrik rotan hanya tangan yang terampil, kini ayah dua anak ini harus pintar menjual cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggul raksasa seluas lebih dari 550 hektare kini menjadi area wisata lumpur. Inilah tempat ’mencangkul’ baru. Lahan ini tak terlalu subur, tetapi bagi pengojek sudah sangat lumayan. Meski rata-rata mereka masih menjual cerita tentang rumah yang tenggelam, tetapi Selasa (26/5), tak ada wajah mengiba. Para pengojek yang sekaligus menjual merchandise CD tentang semburan lumpur lebih layak disebut guide. Percaya diri dan ramah menjadi pemikat. Golnya, jika ada yang pesan ojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua paket yang ditawarkan. Paket pendek di tanggul selatan Rp 15.000 dan paket panjang bagi yang ingin mengitari seluruh danau lumpur, Rp 50.000. ”Bisa ditawar. Kami juga menunggu pengunjung yang ingin foto-fotoan dulu,” kata Puji, Selasa (26/5). Mereka juga bisa menjadi tukang foto dadakan untuk pengunjung yang ingin berpose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak pendek hanya butuh waktu 15 menit lengkap dengan acara pose. Jarak panjang bisa sampai 1,5 jam karena harus mengitari tanggul. Tak banyak yang mengambil paket panjang karena butuh waktu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Munir dan Imam asal Malang, ini kali kedua mereka mengunjungi wisata lumpur. Setelah tahu jalur untuk melihat lumpur dari dekat tanpa harus membayar ojek dan ongkos masuk, mereka langsung menuju pos di Desa Mindi. Hanya dengan menitipkan sepeda motor, pengunjung bisa sampai di bibir tanggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak biasanya tukang ojek mendapat durian runtuh seperti Puji yang diminta mengantar paket panjang. Kholik, pengojek di sisi utara, sedang apes. Sejak pagi sepeda motornya belum distater sama sekali. Hujan semalaman hingga dini hari membuat Kholik gigit jari. Tak ada pengunjung di wisata lumpur. Baru setelah tengah hari beberapa mobil berhenti. Itu pun tak ada yang mengojek. Hanya foto-fotoan setelah itu turun. ”Kalau Minggu atau hari libur lumayan,” kata Kholik yang jika panen bisa mendapat ongkos ojek Rp 50.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dja’far, Ketua Paguyuban Ojek Tanggul Lumpur, para pengojek ini bisa mendapat rezeki dari penjualan CD dan kaus. CD serempak dihargai Rp 25.000 dan kaus mulai Rp 15.000. Kualitas kausnya sesuai harga dengan warna biru dan hijau buram. Hasil penjualan dan ojek sebagian dibagi untuk mereka yang tidak dapat rezeki. Seminggu sekali mereka memasukkan Rp 1.000 untuk kas yang dipakai jika ada yang sakit atau keluarganya meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Dja’far yang pernah menjadi koordinator lapangan saat menuntut ganti rugi ke PT Minarak Lapindo Jaya, mengamati calon pembeli potensial atau pengunjung yang memanfaatkan ojek, cukup dengan melihat kendaraan yang diparkir jauh di pinggir jalan. Mereka tak terlalu bersemangat bila kendaraan yang parkir berkode S, M, D, N karena biasanya hanya menjenguk sebentar dan pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kaha Tour, travel, rombongan dari Bali adalah pengunjung potensial. Biro perjalanan biasanya membawa wisatawan yang tak segan membeli CD dan kaus. Kalau waktunya agak banyak, mereka juga menyewa ojek bersama-sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biro travel sering mengajak orang Malaysia dan Singapura singgah. Merekalah wisatawan sesungguhnya: mau mendengarkan cerita, menikmati dahsyatnya danau lumpur, dan yang paling penting membeli CD serta mencoba ojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran ketika ada mobil pribadi yang bagus, mereka gembira. Yang mendapat giliran akan segera menguntit pengunjung, menjelaskan betapa rumah mereka terendam, dan dengan piawai bercerita tentang perkembangan semburan lumpur dan semburan gas berapi. Masing-masing punya cara pemikat. Seperti Dayat yang bergaya seperti pemain sinetron dengan kacamata hitam dan gaya bicara lepas. Lulusan SMK ini menurut Kholik menjadi guide yang pandai berbahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tak ada jam khusus untuk pengojek. Biasanya teman-teman datang sepulang dari tempat kerja mereka,” kata Puji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat datang, orang tak bisa lagi langsung naik tangga ke tepi tanggul teratas. Di jembatan kayu sudah ada yang menadahkan tangan. Tarif naik ke tanggul Rp 3.000. Jika datang berdua tak terasa berat. Tetapi jika satu rombongan datang, tinggal mengalikan saja. Satu bus berisi 50 orang menjadi panen raya mereka. Penarik ongkos ini tak ada hubungannya dengan tukang ojek dan penjual CD di atas tanggul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang saya koordinasi hanya tukang ojek di delapan pos. Mereka warga yang rumahnya terendam lumpur ini. Kami punya tanda pengenal,” kata Dja’far. Dia menambahkan, paguyubannya sangat ketat jika itu menyangkut pengunjung. Jika ada yang berani mengganggu pengunjung, Dja’far turun tangan langsung. ”Banyak yang khawatir saat naik ojek. Tetapi kami yakinkan jika wisata lumpur ini adalah sumber penghasilan kami jadi harus diamankan,” kata Dja’far.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika banyak keluhan tentang cara menarik ongkos masuk yang kasar, tarif parkir yang gila-gilaan (mobil Rp 5.000 dan bus Rp 20.000), membuat pihak Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menutup wisata lumpur enam bulan lalu. Dengan pembicaraan alot akhirnya BPLS mau membuka lagi wisata lumpur dengan catatan tak ada lagi keluhan pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Puji, Dja’far, Kholik, dan yang lain, menuntut ganti rugi tetap dilakukan. Tetapi urusan perut tak mungkin diabaikan. Puji mengajak melihat ke sisi utara. ”Saya tunjukkan pabrik rotan tempat saya dulu kerja. Sekarang tinggal gentingnya,” kata Puji. Dengan terampil dia mengendalikan kendaraan. Jalanan becek bekas hujan ditambah mobil dan truk yang lewat membuat sport jantung saat menyisir tanggul. Berkali-kali saya nyaris terbanting. Tak berani berpegangan pada tukang ojek, hanya mengandalkan keseimbangan tubuh. Ah, inilah wisata lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: saya yang motret.&lt;br /&gt;- Semburan lumpur masih mengepul di danau lumpur.&lt;br /&gt;- Tangga dua tingkat. Jauh di bawah sana jalur utama Surabaya-Malang yang biasanya macet. Di tangga terbawah, pengunjung dikenai Rp 3.000.&lt;br /&gt;- Lumpur masih menyisakan kecantikan. Bunga liar ini saya namakan bunga lumpur.&lt;br /&gt;- Dayat (berkacamata hitam) dan Kholik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-3586435365429443912?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/3586435365429443912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=3586435365429443912&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3586435365429443912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3586435365429443912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/05/wisata-lumpur.html' title='Wisata Lumpur'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sh6kA8tYqvI/AAAAAAAAAL0/3miD5BvjptQ/s72-c/semburan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-7698820645246871944</id><published>2009-05-16T22:03:00.002+07:00</published><updated>2009-05-16T22:42:39.941+07:00</updated><title type='text'>Saya Cantik?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sg7dOvC3tSI/AAAAAAAAALU/vpQ2CbwS-Xc/s1600-h/bude+tete.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sg7dOvC3tSI/AAAAAAAAALU/vpQ2CbwS-Xc/s320/bude+tete.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336445853697029410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sg7dOm4-IcI/AAAAAAAAALM/jozzm1VlhYM/s1600-h/cakning.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 208px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sg7dOm4-IcI/AAAAAAAAALM/jozzm1VlhYM/s320/cakning.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336445851508023746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik, seperti apa itu? Banyak yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngeles&lt;/span&gt;, cantik itu bukan fisik ukurannya tetapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;inner beauty&lt;/span&gt;. Basi, ngomong begitu tetapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;toh&lt;/span&gt; tetap saja ukuran fisik jadi yang utama. &lt;br /&gt;Memangnya ada panitia yang mau memilih mbak penjual sate yang tiap pagi lewat di depan rumah saya, yang punya kaki datar hitam karena kebanyakan jalan sebagai finalis putri Indonesia atau kontes sejenisnya? Jangan salah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;inner beauty&lt;/span&gt;-nya jempolan (dia selalu baik hati jika ada pembeli minta tambahan bumbu), keuletannya tak diragukan, urusan percaya diri tak perlu ditanya (dia tak pernah malu mendorong gerobak satenya). &lt;br /&gt;Kalau ditodong kebisaan lain, saya bisa sebutkan, mbak sate ini punya suara bagus. Jadi seimbanglah dengan Sandra Angelia, Miss Indonesia, yang katanya suka nyanyi itu. Bagaimana tidak bagus, setiap pagi mbak sate ini olah vokal dengan sangat lantang, ”Sateeee ayam!”&lt;br /&gt;Malam ini 14 pasang Cak dan Ning Surabaya 2009 berlaga menjadi yang terbaik. Ketika berkunjung ke kantor saya, Harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Surya&lt;/span&gt;, Rabu (13/5), para cak dan ning ini memang bening-bening. Cantik, selalu pasang senyum, dan percaya diri. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah&lt;/span&gt;, lagi-lagi cantik.&lt;br /&gt;Silvi, salah satu panitia Cak dan Ning 2009 mengakui tampilan fisik memang punya nilai besar. ”Tetapi bahasa Inggris, pengetahuan tentang wisata Surabaya, kepribadian juga jadi penilaian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lho&lt;/span&gt;, Mbak,” kata Silvi saat saya wawancarai. Iseng saya lontarkan, ”Berarti saya sudah gak mungkin jadi Ning Surabaya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ya&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lha&lt;/span&gt; fisik tidak memenuhi syarat.” Gadis bermata bulat itu cuma tertawa.&lt;br /&gt;Bagi Arswendo Atmowiloto, sosok cantik itu seperti tokoh Tante Iyos dalam novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Becak Emak&lt;/span&gt;. Tante Iyos sekretaris yang selalu berpakaian rapi, wangi, pasang senyum, dan mampu membuat Emak cemburu.&lt;br /&gt;Kalau ada yang berbesar hati mengatakan ukuran fisik bukan masalah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ah&lt;/span&gt;... gombal. Dia pasti tak akan menolak bila ada sosok tipikal model, artis, selebrita mendekati. &lt;br /&gt;Tadi siang, Sabtu (16/5), lagi-lagi saya mengelus dada. Setelah saling diam beberapa waktu, seorang ibu berdandan sempurna dengan senyum lebar menyodorkan dua lembar kertas kecil. Isinya Bio Fit, program pengendalian berat badan. Di situ tertulis nama ibu penuh senyum itu: Tuti. ”Saya dari 50 (kg) lebih sekarang jadi 40 (kg),” katanya sambil tersenyum manis. Meski mata saya berminus tebal, saya tahu pasti angka 40 tak akan pernah mampir di tubuhnya meski dia pakai celana ketat, baju kurung yang memperlihatkan bentuk tubuh yang lebar di pinggul. ”Malu Jeng kalau badan seperti bola. Saya sekarang sudah langsing,” katanya melirik badan saya.&lt;br /&gt;Saya cuma bisa tersenyum kecut dikatakan berbadan bola, sambil memasukkan dua brosur itu ke dalam tas. Dalam hati, ketika berpisah dengan Ibu Tuti, saya ingat-ingat lagi. Kapan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ya&lt;/span&gt; suami pernah mengatakan saya cantik. Sampai habis ingatan saya, rasanya pujian cantik itu tak pernah meluncur dari mulutnya. Berarti, saya tidak cantik, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;. Duh. Tetapi dia tak pernah komplain dengan ukuran tubuh, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kok&lt;/span&gt;, batin saya menghibur.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Ah&lt;/span&gt;, yang namanya bude-bude &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ya&lt;/span&gt; memang gendut,” kata suami saya, selalu.&lt;br /&gt;Syukurlah, meski itu tidak menghilangkan kecemasan: jangan-jangan memang saya ada di luar kotak berlabel cantik. Harus ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;second opinion&lt;/span&gt; supaya saya mantap. Yang paling jujur tentu anak kecil. Keponakan saya, Gaby (2,5), pasti akan membela budenya. Bukankah selama ini dia selalu sayang pada saya? Dia juga selalu gembira jika saya datang dan mengajaknya bermain. Pasti dia ada di pihak saya, mengatakan budenya cantik.&lt;br /&gt;”Gaby, Bude cantik tidak?” tanya saya.&lt;br /&gt;Gaby memandang saya dengan wajah lucunya. Dia mendekatkan wajah, mencium pipi saya. Lega, dia berpihak pada saya. Sekali lagi saya tanya, ”Bude cantik gak?”&lt;br /&gt;Dia memandang saya dengan mata bulat, ”Gak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto Cak dan Ning Surabaya 2009 oleh Habiburrohman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-7698820645246871944?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/7698820645246871944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=7698820645246871944&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/7698820645246871944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/7698820645246871944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/05/saya-cantik.html' title='Saya Cantik?'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sg7dOvC3tSI/AAAAAAAAALU/vpQ2CbwS-Xc/s72-c/bude+tete.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-8308985651300626694</id><published>2009-04-04T15:16:00.003+07:00</published><updated>2009-04-04T15:33:28.196+07:00</updated><title type='text'>Saat Bulan Sakit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sdcag-FTMBI/AAAAAAAAAKk/kR8geCxRT9s/s1600-h/bulan1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 204px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sdcag-FTMBI/AAAAAAAAAKk/kR8geCxRT9s/s320/bulan1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320750638484893714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan tulisan lama saya di blog tetangga yang dimuat tahun 2008. Jadi kangen membuat tulisan anak-anak lagi. Tulisan ini saya ikutkan lomba menulis cerita anak di Majalah Ayahbunda tahun 2004, yah... sekitar tahun itulah. Tidak menjadi juara pertama tetapi jadi cerita pilihan yang boleh tampil dalam kumpulan cerita anak. Terima kasih Shami Windya yang punya blog ini.&lt;br /&gt;Ini saya edit ulang karena gatal melihat tanda baca yang jumpalitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saat Bulan Sakit&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Monday, March 15, 2004  - Sumber : Endah Imawati &lt;br /&gt;Feb 24, ‘08 6:25 AM for everyone&lt;br /&gt;(Ditampilkan dalam blog oleh Shami Windya, XI IPA 1 di http://scotle.multiply.com)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu bintang-bintang berdandan rapi. Mereka membasuh mukanya sampai cemerlang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari heran, “Aduh... cantiknya. Kalian akan kemana?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tersenyum. “Ke rumah Bulan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari terkejut, “Apakah di sana ada pesta? Mengapa aku tidak diundang?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan pesta,” jawab Bintang Kejora. “Kami akan menemani Bulan. Kasihan kalau dia harus bekerja sendiri di malam gelap. Karena itu kami membasuh muka sampai cemerlang. Langit yang gelap pasti akan cerah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari menjadi sedih. “Bulan sangat beruntung. Aku sudah bekerja keras tapi tak ada yang memperhatikan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari ingat, jika mulai bersinar, banyak anak menangis kalau harus bangun untuk mandi dan berangkat sekolah. Siang hari pun Matahari sering mendengar orang mengeluh kepanasan. Sebaliknya, banyak orang mengunggu Bulan. Mereka akan memandang Bulan sambil berdecak kagum. “Indahnya Bulan hari ini. Sinarnya seperti emas.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sangat sedih. Air mata menetes di pipinya yang merah. “A... aku memang tidak berguna. Hik-hik-hik. Aku tidak mau bersinar lagi. Huuu....” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pagi Bulan dan Bintang bintang pulang. Mereka sudah lelah setelah semalaman menerangi langit yang gelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, oh... Pak Jago kebingungan. Dia sudah merasa waktunya bangun tetapi Matahari belum muncul, “Mungkin aku bangun terlalu pagi. Kalau begitu tidur lagi ahhh.” Akibatnya semua orang terlambat bangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan segera ke rumah Matahari. Dilihatnya Matahari menutupi tubuhnya dengan selimut besar. Rambut merahnya berantakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sakit?” tanya Awan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Aku tidak mau keluar. Aku ini tidak berguna. Hik-hik-hik,” Matahari mulai menangis sedih. “Aku tidak seperti bulan. Dia selalu dikelilingi para bintang. Orang-orang juga selalu menunggu Bulan. Hik-hik-hik... huaaa....” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Matahari tak mau muncul, Awan meminta Bulan untuk bersinar. Bulan yang sudah mengantuk akhirnya keluar lagi. Dia menggantikan Matahari. Tetapi karena semalaman sudah bersinar, Bulan menjadi lesu. Sinarnya redup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari lamanya Bulan harus bersinar siang dan malam. Tentu saja Bulan menjadi sangat lelah. Sinarnya menjadi sipit, namanya bulan sabit. Malamnya Bulan benar-benar sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari yang bosan meringkuk di tempat tidur keluar. Oh... di luar gelap. Ke mana Bulan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan menjawab, “Bulan sakit. Dia terpaksa menggantikanmu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari terkejut. Dia tak menyangka kalau Bulan menggantikan dirinya. Matahari bergegas ke rumah Bulan. Dilihatnya Bulan memakai jaket tebal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku,” kata Matahari. “Aku sedih mendengarkan anak-anak tidak mau bangun pagi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan tersenyum. “Tidak, kamu keliru. Ibu-ibu kebingungan karena baju dan kasur yang dijemur tidak kering. Tumbuhan juga memerlukan sinarmu untuk memasak makanan di daunnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi... aku tak pernah punya teman sepertimu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena sinarmu sangat panas. Bintang-bintang tidak berani mendekat karena takut meleleh,” kata Bulan. “Tetapi mereka selalu kagum pada sinarmu yang terang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari menunduk malu. Tak pantas diri iri pada Bulan. Sejak itu Matahari tidak pernah malas bersinar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kumpulan Cerita Anak Seri I &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ayahbunda&lt;/span&gt; No. 18)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-8308985651300626694?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/8308985651300626694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=8308985651300626694&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8308985651300626694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8308985651300626694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/04/saat-bulan-sakit.html' title='Saat Bulan Sakit'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/Sdcag-FTMBI/AAAAAAAAAKk/kR8geCxRT9s/s72-c/bulan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-5967809069839940303</id><published>2009-04-02T09:00:00.007+07:00</published><updated>2009-04-02T09:24:14.875+07:00</updated><title type='text'>Peluang Bisnis di Rumah Sebelah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SdQeHL0hShI/AAAAAAAAAKc/2dgTj3OQ7b0/s1600-h/gulung+handuk.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SdQeHL0hShI/AAAAAAAAAKc/2dgTj3OQ7b0/s320/gulung+handuk.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319910168612391442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Belajar membuat hiasan dari handuk di Surabaya Handicraft Bazaar 2009, ITC Surabaya, Rabu (1/4).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Alarm &lt;/strong&gt;ponsel menjadi bunyi yang paling menyebalkan karena selalu menuntut saya bangun. Paling tidak untuk mematikan dan kadang-kadang minta bonus terlelap lagi barang 10 menit. Setiap pukul 04.15 WIB alarm itu langsung menjerit-jerit.&lt;br /&gt;Harus bangun kalau tidak ingin telat sarapan. Ada sebab lain, rantangan sudah dipesan agar datang pagi &lt;em&gt;mruput&lt;/em&gt;, pagi sekali, sekitar pukul 05.15 WIB. Ini karena teman baikku harus sarapan 15 menit kemudian dan berangkat sekolah tepat pukul 06.00 WIB. Telat sedikit, dibekap macet.&lt;br /&gt;Saya tidak akan bercerita tentang isi rantang yang sehari dibanderol Rp 20.000 dengan lauk dan sayur yang cukup untuk makan berdua sehari. Murah &lt;em&gt;kan &lt;/em&gt;dibandingkan biaya dokter ketika berkali-kali teman baikku kena gejala tipes karena setiap hari makan entah apa dan di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, Rabu (1/4), memenuhi undangan teman baik saya, Lan Fang yang penulis novel, sesiang sampai menjelang sore saya di ITC. Ada pembukaan pameran kerajinan yang berlangsung hingga Minggu (5/4). Ada yang istimewa? Selain karena serentak diadakan pameran di tujuh mal Surabaya, pameran ini tidak jauh berbeda dengan pameran-pameran sebelumnya yang diadakan Dekranasda. Ada pelatihan keterampilan, pameran produk, batik (huaaa… ada kain panjang diskon yang motif dan warnanya bagus di Batik Canting!), saya menemukan wajah-wajah lama.&lt;br /&gt;Senang bertemu lagi dengan Bu Heri 'Daun', Bu Widya 'Sampah', dll.&lt;br /&gt;Dari UKM dan perajin (yang tidak sekadar ala rumahan) ini ditunjukkan bahwa peluang itu ada. Asal mau bergerak, jeli melihat pasar, kemasan menarik, dan promosi, pasti ada yang melirik. Soal dibeli atau tidak, itu nanti dulu. Paling tidak bagi Bu Tjahjani Retno Wilis, istri Wakil Wali Kota Surabaya, yang menggagas acara ini, setidaknya untuk meraih perhatian masyarakat.&lt;br /&gt;Peluang itu –kabarnya—ada di mana-mana. Tetapi tak banyak yang menangkap peluang dengan cerdas. Hanya yang mau buka mata buka telinga yang bisa mendapatkannya. Begitu kata banyak pakar kewirausahaan.&lt;br /&gt;Membaca semua tentang wirausaha menjadi santapan menyenangkan untuk saya. Tekadnya, suatu saat saya akan punya usaha sendiri. Kapan? Masih mengumpulkan modal dan sekarang sedang mengeruk ilmu dari buku, internet, dan di mana saja. Yang jelas bukan MLM karena saya terbukti tak bisa menawarkan dengan penuh emosi. Pasti ada cara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Kembali ke rantangan. Bu Ferry, tetangga saya, tidak mengira jika dia akan melayani kebutuhan beberapa keluarga lewat masakannya. Bu Ferry ini oma yang tinggal beda blok dengan rumah saya. Dulu, setahu saya, tugasnya bersama Pak Ferry (yang ini sudah pasti suaminya) momong cucu.&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan, Bu Ferry dimintai tolong memasak untuk &lt;em&gt;dhahar romo&lt;/em&gt;. Yang kebagian tugas orang sibuk jadi men-sub-kan tugas ke Bu Ferry. Alasannya sederhana, oma kan di rumah, pasti punya banyak waktu untuk sekadar membuatkan sayur, lauk, dan sambal.&lt;br /&gt;Dari situ, orang lain juga melihat kesempatan &lt;em&gt;ngeles &lt;/em&gt;tugas memasak. Lagi-lagi Bu Ferry yang dimintai tolong. Meningkat ke acara kecil di sekitar perumahan, kembali oma yang memasak. Akhirnya berkembang menjadi permintaan tolong permanen: menyiapkan sayur dan lauk untuk beberapa keluarga sibuk yang harus berangkat pagi. Maklum, karena rumah saya di pinggiran, untuk mencapai tengah kota tempat bekerja dan sekolah harus berjuang melawan macet. Berangkat lebih pagi.&lt;br /&gt;Jadilah oma yang memasakkan satu-dua keluarga setiap pagi. Melihat orang lain bisa keluar rumah dengan segar tanpa cemberut karena masih bau dapur, orang lain ikut pesan masakan ke oma. Yang lain juga, yang lain begitu pula.&lt;br /&gt;Itu juga yang disarankan Bu dan Pak Agung. “Ngerantang saja ke oma. Praktis dan tidak mahal. Lagipula dijamin bersih,” begitu kata Bu Agung.&lt;br /&gt;Malam itu juga saya ke oma dan pesan untuk enam hari. Minggu saya minta libur, malu, masa seumur hidup ngerantang. Padahal kalau Minggu, jalan-jalan ke pasar ternyata beli sarapan matang di tempat Bu Budi, mangut ala Semarang yang sedap. Lagi-lagi tidak masak.&lt;br /&gt;Bukan karena saya manusia sibuk kalau memilih rantangan &lt;em&gt;wong &lt;/em&gt;saya bisa berangkat pukul 10.00 WIB. Saya sadar diri. Untuk bangun dari tidur yang hanya 3-4 jam karena pulang dari kantor larut malam, rasanya badan ini tak bisa diajak cekatan mengiris bawang. Masih setengah sadar untuk menyiapkan sarapan sekaligus bekal makan siang. Pilihannya, pesan saja.&lt;br /&gt;Ini yang berkali-kali dikatakan Safir Senduk, si perencana keuangan yang bukunya saya koleksi. Lihat dan tangkap peluang sekecil apa pun. Oma melihatnya. Lewat masakan sederhana seperti sayur bayam, sayur asam, sup, oseng-oseng, dan lauk yang benar-benar ala nyonya rumah, belasan rantang selalu beredar. Oma tak sekadar memasak. Ada jurus yang tak dipunyai usaha rantangan lain di sekitar perumahan. Waktu yang tepat.&lt;br /&gt;Ada yang minta diantar &lt;em&gt;mruput&lt;/em&gt;, pagi buta, seperti saya dan keluarga yang anak-anaknya harus berangkat pagi, ada yang minta agak siang, ada yang minta tengah hari. Semua dilayani sesuai dengan pesanan. Mana ada rantangan yang seenaknya minta diantar setelah subuh seperti saya?&lt;br /&gt;Selain itu, oma juga menuruti mau pelanggannya. Saya tak mau bersentuhan dengan daging dan ayam. Oke, dituruti. Ada yang ingin spesial dengan daging yang banyak dalam sayur (waks), boleh juga, tentu dengan tambahan biaya. &lt;br /&gt;Seksi pengantaran, Opa Ferry yang berbadan besar. Kadang-kadang kasihan juga melihat opa terengah-engah membawa tas besar berisi rantang-rantang. Tetapi itu sekaligus menjadi olahraganya.&lt;br /&gt;Saya melihat oma dan opa sangat beruntung. Ketika orang sepuh lain bingung mau ngapain di hari tua, Pak dan Bu Ferry justru punya kesibukan yang menghasilkan uang. Bukankah ini peluang yang luar biasa? Siapa bilang hanya mereka yang muda dan berotot kuat yang bisa menghasilkan pemasukan? Dua orang tua ini membuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Lirik rumah tetangga. Mereka perlu apa? Anak-anak yang hanya berdua dengan mbak-mbak bisa digarap. Buka les spesial untuk mengerjakan PR di siang hari. Jadi, ketika ibu mereka pulang dari kerja, PR anak-anak sudah beres. Peluang, &lt;em&gt;lho&lt;/em&gt;. Tentu saja jangan pasang tarif tinggi. Kalau rumah bisa menyediakan buku-buku untuk anak, tentu orangtua tak segan melepas anaknya ke rumah kita.&lt;br /&gt;Hehe, ini salah satu mimpi yang saya idamkan. Rumah jadi perpustakaan dan familiar untuk anak-anak tetangga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-5967809069839940303?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/5967809069839940303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=5967809069839940303&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5967809069839940303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/5967809069839940303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/04/peluang-bisnis-di-rumah-sebelah.html' title='Peluang Bisnis di Rumah Sebelah'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SdQeHL0hShI/AAAAAAAAAKc/2dgTj3OQ7b0/s72-c/gulung+handuk.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-879819208939759570</id><published>2009-02-25T11:27:00.003+07:00</published><updated>2009-02-26T09:15:47.487+07:00</updated><title type='text'>Alhamdulillah Disangoni Simbah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaTLz86m-nI/AAAAAAAAAHo/a-lGKltBTKE/s1600-h/IMG_0744.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaTLz86m-nI/AAAAAAAAAHo/a-lGKltBTKE/s320/IMG_0744.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306590354335005298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, Sabtu (22/2), naik bemo. Surabaya setelah hujan tampak lebih segar meski hawa tetap gerah. Setengah terkantuk-kantuk, di dekat Giant ada ibu dengan tiga anak masuk. Rambut mereka basah.&lt;br /&gt;Ibu yang usianya tak lebih tua dari saya itu menggendong anak bungsunya. Entah lelaki atau perempuan karena ditutup &lt;em&gt;brukut &lt;/em&gt;dengan selendang gendongan. Anak sulungnya yang dipanggil Mbak mengingatkan saya pada Dhea Imut. Mirip sekali. Adiknya mungkin duduk di bangku TK, berambut panjang krewul seperti ibunya.&lt;br /&gt;Tak ada yang istimewa dari keluarga itu. Sayang, saya punya dua telinga yang berlubang sehingga menangkap semua pembicaraan mereka yang memang volume suaranya tidak dikecilkan. &lt;br /&gt;Mereka berbincang tentang bakso mana yang lebih enak dan murah ketika melewati deretan penjual makanan di depan Giant. Lalu bercerita tentang dua nama yang saya (tentu saja) tidak tahu itu siapa. Lalu Mbak berkata pada ibunya.&lt;br /&gt;“Ma, berarti gajian nanti papa bisa dapat banyak, yo. Seminggu Rp 300.000 berarti sebulan Rp 1,2 juta. Lumayan yo, Ma,” kata Mbak dengan mata berbinar.&lt;br /&gt;“Iya, dongakna papamu bisa nyupir keluar kota terus biar gajinya bisa dapat Rp 1,2 juta. &lt;em&gt;Lek gak yo gak &lt;/em&gt;sampai segitu. Paling Rp 800.000,” kata ibu itu dengan nada bangga.&lt;br /&gt;“Ya lumayan Ma kalau dapat Rp 800.000. Alhamdulillah,” kata Mbak.&lt;br /&gt;Saya bayangkan, keluarga ini cukup terbuka hingga berapa gaji ayah bisa dihitung oleh anaknya. Si Mbak yang belum lulus SD ini sudah dilibatkan dalam neraca keluarga mereka. Dan… baik ibu juga si Mbak itu bangga pada ayahnya. Gaji Rp 1,2 juta dipakai hidup sekeluarga. Neraca seperti apa yang dipunyai ibu yang duduk di sebelah saya ini. Berhitung dengan &lt;em&gt;para gapit&lt;/em&gt; pun tak masuk akal. Mungkin Gusti Allah itu selalu menambahkan akal panjang untuk mereka dan tidak untuk saya.&lt;br /&gt;Kuping saya tak bisa mendengar perbincangan lain karena penumpang di depan saya sibuk dengan ponselnya. Sementara di luar gerimis mulai berisik.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah ya Mbak, tadi disangoni Mbah Rp 5.000,” kata si ibu. “Kepengin apa? Bakso? Nanti mampir beli bakso untuk makan,” tambah ibu itu.&lt;br /&gt;Si Mbak dan adiknya menggeleng, tak mau makan bakso. “Mi,” kata Mbak. Adiknya manut, mengangguk.&lt;br /&gt;“Ya sudah, nanti langsung beli mi goreng dua, telur seperempat (kilogram). Cukup untuk makan sore. Nanti papamu dibuatkan telur dadar pakai irisan lombok,” kata ibu. “Lumayan lho ngirit satu kali makan,” tambahnya.&lt;br /&gt;Hah?! Disangoni Rp 5.000 saja Alhamdulillah? Masya Allah. Betapa besar uang seuprit itu untuk mereka. Bisa makan sekeluarga dengan menu istimewa: mi goreng, telur dadar dua versi pedas dan tidak pedas untuk ayah-ibu, Mbak, adik, dan si bungsu. &lt;br /&gt;Ada di mana kaki saya selama ini? Menginjak bulan atau awan, sampai percakapan kecil itu sungguh membuat malu.&lt;br /&gt;Padahal dalam hati saya tadi langsung berkomentar, oalah simbah mereka itu &lt;em&gt;kebangeten&lt;/em&gt;. Masa nyangoni kok cuma Rp 5.000 untuk tiga cucunya. Ternyata itu memang ukuran yang lumayan untuk sekali makan sekeluarga. Makin &lt;em&gt;wirang&lt;/em&gt; rasanya muka ini. Itu hanya uang untuk &lt;em&gt;slilit&lt;/em&gt; jajan di koperasi kantor.&lt;br /&gt;Bukan maksud saya untuk merasa lebih berpunya atau justru lebih hemat, super-irit. Saya hanya berusaha memaksa pantat saya untuk duduk dalam posisi yang tidak biasa. Duduk bersama keluarga Mbak tadi, misalnya. Jadi saya bisa ikut mencicipi nikmatnya mi yang Alhamdulillah.&lt;br /&gt;Masya Allah, mudah-mudahan saya tidak ada di wilayah hedonisme meski belum bisa pula berugahari. Saya bisa berkilah, hedonisme atau ugahari sangat bergantung di mana pantat saya duduk dan mata saya melihat.&lt;br /&gt;Tetapi demi bertemu Mbak yang mirip Dhea Imut itu, saya jadi khawatir masuk ke dalam kerumunan orang yang egois dan berusaha mencari kenikmatan untuk diri sendiri. Padahal saat ini saya sedang mengincar alat olahraga injek-injekan untuk menurunkan berat badan seharga Rp 800.000, setara gaji papanya Mbak sebulan jika tidak nyupir keluar kota. &lt;br /&gt;Lha gimana, kata sebuah situs perempuan, berat badan saya kelebihan 10 kilogram. Alamak! Tidak ugaharikah saya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-879819208939759570?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/879819208939759570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=879819208939759570&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/879819208939759570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/879819208939759570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2009/02/alhamdulillah-disangoni-simbah.html' title='Alhamdulillah Disangoni Simbah'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaTLz86m-nI/AAAAAAAAAHo/a-lGKltBTKE/s72-c/IMG_0744.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-3749840296517156249</id><published>2008-12-14T14:34:00.003+07:00</published><updated>2008-12-14T15:17:22.632+07:00</updated><title type='text'>Sapi dan Lim Keng</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUTAvAvQnRI/AAAAAAAAAEs/cvBqMdX-3jY/s1600-h/IMG_0221.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUTAvAvQnRI/AAAAAAAAAEs/cvBqMdX-3jY/s320/IMG_0221.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279556577069669650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUTAu-GYnNI/AAAAAAAAAEk/skDhw5EzGIY/s1600-h/IMG_0223.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUTAu-GYnNI/AAAAAAAAAEk/skDhw5EzGIY/s320/IMG_0223.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279556576361356498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahan mencium bau daging mentah direbus. Tetangga kanan, kiri, belakang, semua merebus daging, Senin (8/12). Andai kaldu itu sudah dibumbui, perut saya tak akan mual. Tetapi ini tidak. Semua hanya merebus tanpa bumbu. Perut mulai bergolak, saya memilih segera berangkat ke kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih aman di kantor karena tak ada bau daging. Daging sapi dan kambing hanya ada di percetakan yang jauhnya sekitar 15 menit berkendara dari kantor di Margorejo, Surabaya. Perayaan Idul Adha di kantor saya memang dipusatkan di percetakan, Rungkut. Maklum, halamannya lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum Idul Adha, di depan rumah ditambatkan seekor sapi jantan. Itu hasil urunan tujuh keluarga di sekitar rumah. Sapi yang sama sekali tidak gemuk itu diikat di tiang listrik dan pohon juwet, di tepi sungai (depan rumah saya ada sungai irigasi). Begitu banyak tangan yang ingin memanjakan sapi itu sampai-sampai dia tidak doyan rumput lagi. Semua tangan menyodorkan rumput ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat pada Lim Keng. Ini sosok yang membuat saya kagum. Dia pelukis sketsa. Hampir semua lukisannya tak lepas dari sapi, perempuan Madura, dan pasar tradisional. Mestinya usia Lim Keng sekarang hampir 80 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi dan pasar menjadi favorit Lim Keng. Pelukis idealis ini berhasil merekam isi pasar tradisional dengan tepat hanya lewat beberapa goresan. Yang membuat saya terkenang, bagi Lim Keng, sapi adalah satwa yang seksi. Dia kuat dengan postur meliuk. Dalam satu lukisan Lim Keng dengan porsi tepat dapat menggambarkan keseksian itu. Seekor sapi dipotret dari belakang. Di sebelahnya, perempuan Madura dengan keranjang di atas kepala juga melenggang. Keduanya memiliki kontur meliuk yang sedap dipandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi-sapi Lim Keng juga tak selalu tambun. Beberapa lukisan digambarkan sapi kurus dengan tulang iga membayang. Tetapi keseluruhan, cantik di mata saya. Apalagi saat saya wawancarai, Lim Keng dengan senang hati mengajak saya ke lantai dua di rumah sekaligus toko kelontong yang pengap di Jl Undaan yang tak pernah sepi. Di lantai dua itu dia mau membagi rahasianya pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak pernah menunjukkan lukisan gagal saya pada orang lain. Lukisan gagal adalah masa lalu tak perlu ditunjukkan pada orang lain,” kata Lim Keng waktu itu.&lt;br /&gt;Segulungan besar kertas digelar di lantai. Apanya yang gagal? Mata saya yang minus sembilan ini menyatakan absolute untuk kecantikan sketsanya. Ini jenis lukisan yang saya suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya gagal karena tak ada napas dalam lukisan ini. Pasar hanya digambarkan sebagai kerumunan saja,” kata Lim Keng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norak sekali, saya jadi bangga dianggap orang yang bisa diajak berbagi melihat lukisan gagal Lim Keng. Pelukis ini sempat mencicipi bangku ASRI (sekarang ISI) Jogja di masa 1960-an sebelum dipanggil pulang ke Surabaya. Ayah dua anak ini kemudian memilih menetap di Surabaya, di tikungan Jl Undaan, bersama seorang mbak-mbak yang menjaga toko masa lalu dan seekor anjing dengan ekor pupak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, anjing inilah yang saya rasa membuka pertemuan saya dengan Lim Keng. Saya menyapa anjing itu dengan ramah meski sebenarnya gemetar juga. Ekor anjing menunjukkan perasaan anjing itu, kata Georgina –pemilik Timmy—dalam serial Lima Sekawan, bacaan saya masa kecil. Jika anjing tak punya ekor, bagaimana saya tahu dia bisa menerima atau mengancam? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lim Keng lalu bercerita anjing itu dibuang pemiliknya yang tega memotong ekornya. Saat ditemukan ekornya masih berdarah. Lalu dia merawat anjing itu. Wawancara yang dibuka dengan cerita anjing inilah yang melenturkan suasana, yang kemudian membuat Lim Keng mengundang saya ke lantai dua. Mungkin banyak yang juga diajak mengintip karyanya, tetapi saya tetap pede dengan kenorakan saya. Biar saja yang lain juga melihat lukisan gagal itu tetapi saya tetap menyimpan kehangatan Lim Keng saat berkisah panjang dan lebar tentang hidupnya, tentang lukisan-lukisannya yang hanya dikoleksi segelintir orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi bagi Lim Keng adalah makhluk seksi. Bagi anak-anak tetangga saya, sapi adalah binatang ajaib. Yang biasanya hanya bisa dilihat di televisi dan buku, sekarang nyata ada di depan hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anak minta saya memotret mereka di depan sapi. Ragu-ragu mereka menyentuh tali pengikat, ada juga yang berani menyentuh punggung sapi.&lt;br /&gt;“Ini apa namanya?” tanya saya pada seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak berusia sekitar delapan tahun itu menjawab, “Embek.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Waduh, embek adalah suara kambing. Masa sapi dibilang embek alias kambing? “Iya, Tante. Kan di televisi sapi punya kantong susu. Ini tidak,” katanya yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski saya katakan sapi ini tidak punya kantong susu seperti dalam iklan susu karena ini sapi jantan, dia tetap kukuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini embek besar,” katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-3749840296517156249?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/3749840296517156249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=3749840296517156249&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3749840296517156249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3749840296517156249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/12/sapi-dan-lim-keng.html' title='Sapi dan Lim Keng'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUTAvAvQnRI/AAAAAAAAAEs/cvBqMdX-3jY/s72-c/IMG_0221.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-4987241210543396894</id><published>2008-12-12T09:14:00.004+07:00</published><updated>2008-12-12T09:23:02.716+07:00</updated><title type='text'>Pengantin Setara</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUHJcMkzRCI/AAAAAAAAAEc/Yu-hHdU-LfY/s1600-h/basuh+2oke.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 236px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUHJcMkzRCI/AAAAAAAAAEc/Yu-hHdU-LfY/s320/basuh+2oke.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278721724504032290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUHJbrv74uI/AAAAAAAAAEU/O_ZArfkWV6c/s1600-h/basuh+3oke.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUHJbrv74uI/AAAAAAAAAEU/O_ZArfkWV6c/s320/basuh+3oke.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278721715692364514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan Oktober lalu ada undangan pernikahan di Kediri. Pernikahan dilakukan secara Katolik. Pemberkatan pernikahan ini di Gereja Puhsarang, Kediri. Menarik. Selain karena tempatnya unik, ritual ini dilakukan sambil lesehan, duduk di tikar. Hanya sepasang pengantin dan orangtua yang duduk di kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koor pengiring juga dilakukan sambil &lt;em&gt;ndheprok &lt;/em&gt;dengan iringan gitar. Penyanyi koor sesekali memakai kertas teks lagu untuk kipas-kipas, sesekali mengajak anaknya duduk anteng, sesekali mengipasi anaknya yang tertidur di pangkuan. Apa adanya tetapi &lt;em&gt;regeng&lt;/em&gt;, akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai dari gereja, semua rombongan ke rumah pengantin putri untuk resepsi. Sudah pukul 12.00 WIB lewat, perut mulai menagih. Dengan penuh semangat kami, rombongan dari Surabaya, segera mengikuti peta menuju tempat resepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata rumah pengantin putri ini &lt;em&gt;biyuh&lt;/em&gt;… jauh. Jalan memang beraspal mulus tetapi menanjak, berkelok, hingga tepat di ujung belokan dan tanjakan semua berhenti. Di situ tempat resepsi. Dari Puhsarang perlu 10 menit ke arah barat dan terus menanjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah terop kecil dipasang di halaman berdebu. Sederhana dengan hiasan seadanya. Tetapi para penerima tamu begitu ramah. Kami memilih duduk di bawah pohon mangga podang, mangga kecil berwarna kuning yang banyak ditemui di Kediri. Di situ lebih sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski matahari menyengat di tengah hari dan tanah seperti menguap saking panasnya, para penerima tamu tetap berdandan full. Sanggul tekuk yang dikenakan penerima tamu perempuan berbeda dengan sanggul tekuk ala Jogja atau Solo. Yang ini lebih kecil, pipih, dan dipasang jauh di atas tengkuk. Riasan wajah semuanya sama, dengan alis melengkung tajam, dan bedak warna kekuningan. Ini seperti riasan pengantin perempuan. Cantik dan khas Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tunggu adalah ritual temu manten. Saya bertanya pada juru rias, katanya, temu manten nanti hanya diambil beberapa yang perlu. Saya sudah siap-siap menunggu ritual itu di depan pelaminan. Tempatnya sangat sempit karena ada satu kamera untuk syuting sehingga para tamu yang sudah duduk manis di depan pelaminan harus menyingkir demi tukang syuting yang disewa untuk mengabadikan penikahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara temu manten berlangsung tanpa gending &lt;em&gt;Kebo Giro&lt;/em&gt;. Suara campur sari yang terdengar. Juru rias sempat sewot karena pembawa kembar mayang –rangkaian bunga, buah, dan janur—berjalan mendului pengantin lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kleru… kowe neng mburine manten!”&lt;/em&gt; teriak juru rias. Mungkin dia panik karena pakemnya pengantin lelaki langkahnya harus bebas hambatan. Mungkin ini dianggap pertanda buruk jika melihat ekspresi juru rias yang cukup gemas. Tetapi dua anak muda yang membawa kembar mayang tak bisa berbuat apa-apa. Jalan yang dilewati sangat sempit. Mereka tak bisa berhenti sekadar memberi jalan pada pengantin lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, seorang prodiakon –ini awam, pembantu imam dalam Katolik, orang yang dituakan—dengan santai meminta pembawa kembar mayang berjalan dulu.&lt;br /&gt;Baru setelah itu sawatan, saling melempar daun sirih, dan kemudian prosesi menginjak telur. Pengantin lelaki menginjak telur mentah, prak, kemudian pengantin perempuan membasuh kaki pengantin lelaki hingga bersih. Ini bukti kemauan untuk melayani suami. Biasanya sebelum dan setelahnya si istri mengangkat tangan untuk menyembah sebagai tanda bakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya kemudian pengantin lelaki dengan gagah minta si istri menggandengkan tangan ke lengannya. Tetapi kali ini tidak. Prodiakon minta pengantin perempuan berdiri. &lt;br /&gt;“Karena dalam Katolik perempuan dan lelaki sama derajatnya, saling menghormati, sekarang saya minta pengantin lelaki ganti membersihkan kaki pengantin perempuan,” kata prodiakon itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua melongo. Pengantin lelaki juga, apalagi pengantin perempuan. Tetapi pengantin lelaki langsung berjongkok. Ragu-ragu pengantin perempuan melepas sandal. Dengan tangannya, pengantin lelaki membasuh kaki istrinya itu dan mengeringkan dengan handuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru rias yang melihat episode tak lazim ini hanya diam. Entah apa yang ada di pikirannya menyaksikan adegan pengantin lelaki mencuci kaki pengantin perempuan. Tidak ada dalam pakem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu mereka naik ke pelaminan, menebar senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ikut tersenyum. Asyik juga melihat pengantin lelaki berjongkok di depan istri. Tetapi, tak seperti yang dilakukan pengantin perempuan, si pengantin lelaki sama sekali tak mengangkat tangan menyembah istrinya. Sebelum membasuh, tidak. Usai mencuci kaki juga tidak menyembah. Sembah yang diibaratkan hormat tidak dilakukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-4987241210543396894?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/4987241210543396894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=4987241210543396894&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/4987241210543396894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/4987241210543396894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/12/pengantin-setara_12.html' title='Pengantin Setara'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SUHJcMkzRCI/AAAAAAAAAEc/Yu-hHdU-LfY/s72-c/basuh+2oke.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-3911747415543902834</id><published>2008-11-17T17:11:00.001+07:00</published><updated>2008-11-17T17:17:05.275+07:00</updated><title type='text'>Kasta dalam Bemo</title><content type='html'>Apa nikmatnya naik angkutan umum? Selama punya banyak waktu, selalu ada yang bisa dinikmati. Bemo, begitu orang Surabaya menyebut angkutan kota ini meski bentuknya tak mirip dengan bemo roda tiga, selalu penuh cerita.&lt;br /&gt;Duluuu, ketika masih menjadi pekerja pagi-sore, acara duduk di bemo menjadi pemandangan segar. Jika berangkat sekitar pukul 07.00 WIB pasti tebaran parfum aneka merek memenuhi bemo. Penumpang bemo kebanyakan kaum perempuan dan pada jam itu adalah pekerja. Saya selalu perhatikan betapa warna merah yang dioleskan di bibir tak ada yang sama. &lt;br /&gt;Duduk berderet enam orang atau tujuh (jika sopir bemo serakah) masing-masing perempuan itu memoles bibir dengan lipstik. Gradasi merah aneka tingkatan. Karena rata-rata tinggi badan sama, jika mata sedikit dijulingkan, yang tampak hanya bibir aneka merah. Bemo lyn V yang paling wangi karena melewati pusat perbelanjaan dan perkantoran. &lt;br /&gt;Bemo juga memiliki kasta. Bemo yang paling menyebalkan dalam menerapkan kasta penumpang adalah bemo lyn P jurusan RSU Dr. Soetomo/Universitas Airlangga. Di Terminal Joyoboyo selalu ada makelar di masing-masing lyn yang berteriak-teriak memanggil penumpang. Salah satu makelar yang galak ada di bemo P ini.&lt;br /&gt;Makelar berusia 50 tahun lewat itu sangat tegas. Dia yang berhak mengatur posisi duduk penumpang dan bukan penumpang yang memutuskan ingin duduk di sebelah mana. Sang makelar menerapkan sistem kasta pada penumpang. Di deretan bangku panjang menghadap pintu diisi tujuh, di bangku berlawanan diisi empat. Ada satu dingklik mepet pintu memunggungi bangku sopir yang diisi dua penumpang.&lt;br /&gt;Makelar bemo lyn P itulah yang berkuasa menerapkan jatah bangku. Semua berdasarkan kasta. Penumpang kasta tertinggi duduk di bangku depan bersama sopir dengan dua penumpang, kasta kedua di bangku panjang berisi tujuh, kasta ketiga ada di bangku berisi empat penumpang, dan kasta terendah adalah penghuni dingklik.&lt;br /&gt;Yang duduk di bangku depan adalah mereka yang datang lebih dulu. Kasta kedua yakni anak sekolah, mbak-mbak pekerja yang rata-rata bertubuh langsing, mahasiswi lencir, pokoknya yang bertubuh mungil dan ringkas. Kasta berikutnya yang duduk di bangku berempat adalah para pemilik bodi sedang. Nah, kasta terendah yang kebagian dingklik hanya untuk mereka yang ukuran bokongnya luas. &lt;br /&gt;Betapa sakit hati saya ketika suatu ketika sang baginda makelar itu menyilakan dengan wajah datar tanpa senyum duduk di dingklik. Saya hendak protes karena hati kecil saya berontak dikatakan supergendut. Tetapi sang makelar lempeng saja. Tak ada yang bisa menolak pengaturan itu. Jika menolak, dia tak segan-segan meminta kesediaan penumpang untuk mematuhi dengan tegas. Daripada bengkerengan, memang lebih baik menurut karena toh (saya akui) duduk jadi lebih nyaman karena tak ada yang terjepit.&lt;br /&gt;Sabtu (15/11) saya sempat gembira karena naik kasta. Saya diminta duduk di bangku berisi empat penumpang. Lumayan, setingkat lebih hebat daripada duduk di dingklik. Ini berarti ukuran badan saya dianggap moderat. Tetapi yang membuat heran, anak berseragam SMP justru duduk di kasta terendah. Aneh.&lt;br /&gt;Rasa gumun saya terjawab. Setelah anak SMP itu duduk, sang baginda makelar meminta seorang ibu duduk di dingklik, kasta paling bawah dalam bemo. Alamak, ibu itu punya ukuran triple L. Waduh, bukan saya yang mengecil sehingga naik kasta melainkan ada orang lain yang lebih luar biasa dibandingkan saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-3911747415543902834?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/3911747415543902834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=3911747415543902834&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3911747415543902834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3911747415543902834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/11/kasta-dalam-bemo.html' title='Kasta dalam Bemo'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-3723918761257597937</id><published>2008-04-26T23:10:00.001+07:00</published><updated>2008-04-26T23:10:46.025+07:00</updated><title type='text'>Gajah dan Unta Bersaing dengan Reog Ponorogo (3)</title><content type='html'>Ketika Malaysia mengaku Tari Barongan milik mereka, seniman reog di Ponorogo langsung bersatu. Mereka bersama-sama berteriak, “Kembalikan reog ke Ponorogo!” Mereka juga sama-sama mengeluh, tak ada proteksi atas budaya milik negeri ini.  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Melihat para demonstran di Jakarta, cukup membuat trenyuh. Bukan hanya karena perjuangan mereka untuk diakui sebagai “pemilik” budaya yang sah tetapi juga karena rasa satu ketika menghadapi ancaman dari luar. Padahal di dalam dunia pereogan di Ponorogo justru sedang menghangat oleh perbedaan. Seperti api dalam sekam yang diam-diam menyala. Perbedaan ini sudah sejak lama meriak tetapi bisa diredam dengan peraturan tampil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seperti yang muncul dalam diskusi di Harian &lt;i&gt;Surya&lt;/i&gt;, Kamis (29/11), tentang &lt;i&gt;Reog Milik Kita atau Milik Malaysia&lt;/i&gt;. Peta perbedaan itu muncul begitu hasil diskusi yang melibatkan seniman reog membahas pakem tampil bagi kelompok reog. Agar seragam, sopan, dan sesuai dengan zaman. Pada 1993 kemudian terbitlah &lt;span style="color: black;"&gt;Buku Pedoman Dasar Kesenian Reog Ponorogo atau yang biasa disebut buku kuning. Semua aturan ada di dalamnya. Yang tidak sesuai aturan berarti tidak benar. Paling tidak untuk ukuran festival.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Seniman reog yang sepuh dan merasa reog tak perlu dibatasi menjadi gelisah. Tetapi mereka akhirnya manut ketika harus tampil di panggung festival yang membatasi gerakan dan kostum. Perombakan ini sebenarnya juga karena pengaruh perkembangan masyarakat. Penari Jathilan lelaki dianggap tidak pantas karena mereka harus tampil sebagai perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Kalangan santri tak bisa menerima,” ungkap Paring Waluyo dari Yayasan Desantara. Menurut Paring, dengan proses panjang mereka berusaha melakukan pendekatan pada kesenian ini. Tetapi tidak mudah karena kesenian ini sudah begitu kental dalam kehidupan masyarakat Ponorogo. Kemudian kalangan santri ini membuat kesenian yang kurang lebih sama yang diberi nama Gajah-gajahan. Mengapa gajah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Reog itu kan macan karena itu harus ada binatang yang bisa menandingi. Siapa lagi kalau bukan gajah,” kata Paring lagi. Gajah-gajahan pun berkembang. Tetapi pada perkembangannya justru kesenian ini menjadi sangat cair sehingga musik yang semula memakai rebana digunakan untuk jogetan. Jika Jathilan ditarikan lelaki, sekarang justru waria yang tampil di depan. Mereka menari-nari mengikuti rebana yang mengumandangkan lagu menjurus ke dangdut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Gajah-gajahan harus dikembalikan ke niat semua. Juga tidak mudah karena orang telanjur melihat Gajah-gajahan sebagai pertunjukan guyonan yang melibatkan waria. Kalangan santri kemudian mengenalkan kesenian baru, Unta-untaan. Nah, lagi-lagi mengapa unta?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Karena unta dianggap lebih mencerminkan Arab sebagai pusat spiritual. Musiknya pun kental dengan musik Arab dan barjanzi,” tambah Paring.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam buku Pedoman Dasar dimuat ketiga versi utama kisah asal-usul reog dan ditempatkan secara kronologis. Versi Bantarangin yang merujuk pada zaman Kerajaan Kediri pada abad 11 dianggap sebagai versi tertua, disusul versi Ki Ageng Kutu Suryangalam yang merujuk pada masa pemerintahan Bhre Krtabumi di Majapahit pada abad 15, dan diakhiri versi Batara Katong yang merujuk pada penyebaran agama Islam di wilayah Ponorogo pada abad 15 pula. Ini ditandai dengan dikalahkannya Ki Ageng Kutu Suryangalam oleh Batara Katong. Dengan cara pandang seperti itu, pemerintah setempat menempatkan versi Batara Katong sebagai bentuk perkembangan terakhir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berbeda penafsiran atas cerita yang diangkat biasa terjadi tetapi biasanya seniman reog &lt;i&gt;sepuh&lt;/i&gt; punya pakem yang diyakini. Kurang lebih sama. Reog kuno boleh jadi akan hilang karena tergerus zaman tetapi Mbah Bikan Gondowiyono, pemilik kelompok reog dari Slahung, Ponorogo, menegaskan untuk tidak menyimpang dari cerita asli. “Pakem di buku kuning itu kurang diterima masyarakat pinggiran,” kata Mbah Bikan. Sebegitu kesalnya lelaki yang sempat menjadi penari Jathilan sebelum memiliki reog sendiri ini ketika melihat barongan yang seharusnya macan Jawa diganti menjadi barongan dengan kepala macan tutul.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Keseragaman reog ini tampak saat festival reog yang diadakan setiap tahun bersamaan dengan Gerebek Suro. Ponorogo memiliki lebih dari 200 kelompok reog. Karena tidak mungkin mengajak mereka pentas bersama, awalnya yang boleh mengikuti hanya satu reog yang mewakili kecamatan karena peserta dari luar kota juga banyak. Tentu sulit diterima jika di antara 50 reog hanya dipilih satu. Apalagi dibatasi dengan pedoman seperti yang ada di buku kuning.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Itu sudah lumayan. Tahun lalu malah lebih sedikit lagi. Hanya satu reog yang mewakili wilayah Pembantu Bupati,” kata Drs Hariadi, guru SMAN 1 Ponorogo yang aktif mengurusi reog.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Shodiq Pristiwanto, juri dalam Festival Reog 2006, mengaku penciutan peserta itu karena masalah teknis. Tetapi perubahan dalam tarian dan kostum memang disesuaikan dengan masyarakat. Bukankah masyarakat juga yang menikmati kesenian ini? &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-3723918761257597937?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/3723918761257597937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=3723918761257597937&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3723918761257597937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3723918761257597937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/04/gajah-dan-unta-bersaing-dengan-reog.html' title='Gajah dan Unta Bersaing dengan Reog Ponorogo (3)'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-3444925479612234044</id><published>2008-04-26T23:09:00.000+07:00</published><updated>2008-04-26T23:10:02.707+07:00</updated><title type='text'>Adegan-adegan yang Kena Sensor (2)</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Penari Jathilan awalnya lelaki berdandan cantik. Nyaris tak ada gerakan berlebihan yang dilakukannya. Dia hanya menggoyangkan pinggung sedikit ke kiri sedikit ke kanan. Gerakan ini harus dibabat sensor.  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pisau sensor tidak hanya milik Badan Sensor Film. Buktinya, reog Ponorogo harus mengalami guntingan-guntingan dan ditempel dengan lapisan baru yang lebih “beradab” dan sopan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kesan sensual penari Jathilan lelaki seperti yang selalu muncul pada reog masa lalu, tak akan bisa ditemui lagi. Sekarang penari Jathilan ini perempuan dengan gerakan lincah menebar senyum. Kostumnya juga dihitung benar agar tidak terlalu seksi. Celana harus di bawah lutut begitu pula lapisannya sehingga betis tersimpan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tabuhannya juga tidak selalu kenong, gedhog, kempyong, dan pekik memilukan slompretan. Sekarang bahkan disisipi lagu-lagu langgam yang sedang &lt;i&gt;ngetop&lt;/i&gt;, juga lagu &lt;i&gt;Es Lilin&lt;/i&gt; yang dari Sunda itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mbah Molok, 84, perajin dhadhak merak yang juga melatih menabuh seperangkat alat musik yang mengiringi reog, menggeleng-geleng sedih. Kata perajin yang membuat dhadhak merak sejak 1965 dan mulai dikirim ke Kalimantan Timur pada 1976 ini, tabuhan reog sekarang benar-benar tidak sesuai pakem. Rumusnya, bunyi kenong itu harus selalu &lt;i&gt;dhingklang&lt;/i&gt;, seperti orang yang berjalan satu kaki. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Sekarang tabuhannya lurus, tak ada yang &lt;i&gt;dhingklang&lt;/i&gt;. Ya untuk telinga tua seperti saya itu kurang pas. Dengan tabuhan sekarang saya tidak bisa menari barongan. Hitungannya aneh,” kata Mbah Molok ketika datang di diskusi yang diadakan Harian &lt;i&gt;Surya&lt;/i&gt;, Kamis (29/11), para pecinta reog mengungkapkan keresahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Keresahan ini berawal dari perubahan demi perubahan yang terjadi dalam gelombang berbeda-beda. Mulanya nama reyog yang diubah menjadi reog mengikuti slogan kota sebagai akronim dari &lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Resik, Endah, Omber, Girang-gemirang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Perubahan seperti ini sudah membuat para seniman sepuh &lt;i&gt;ngelus&lt;/i&gt; dada. Sama seperti saat Mbah Bikan Gondowiyono dari Pulung, Ponorogo, yang mengawali karier sebagai penari Jathilan, gemblak, dan sekarang memiliki kelompok reog sendiri. Pada 1993 dia pernah diajak diskusi untuk menentukan arah reog Ponorogo. Mbah Bikan masuk dalam Seksi Jathilan. “Yang kurang layak diganti.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Yang dianggap kurang layak ini salah satunya dengan mengganti penari Jathil yang semuanya laki-laki berdandan cantik dengan perempuan asli. Padahal penari laki-laki itu menjadi daya tarik penonton. Tetapi alasan yang diberikan juga cukup kuat. “Sulit mencari penari lelaki yang mau &lt;i&gt;dipacaki&lt;/i&gt; jadi perempuan,” kata Drs Hariadi, guru Fisika SMAN 1 Ponorogo yang merintis reog untuk anak muda. Persepsi masyarakat tentang jathilan lelaki juga mulai bergeser. Sekarang justru ketika yang dipasang perempuan muda dengan &lt;i&gt;make up&lt;/i&gt; cantik, senggakan penabuh makin bersemangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Mbah Bikan tertawa mengingat anak buahnya yang loyo saat menabuh ketika penari Jathilnya laki-laki. “Waktu diganti penari perempuan, &lt;i&gt;walah&lt;/i&gt;… semangat nabuhnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pergeseran yang terjadi cukup besar ketika dari acara diskusi yang diikuti Mbah Bikan itu mengeluarkan buku kuning saat Orde Baru berkuasa. Buku Pedoman Dasar Kesenian Reog Ponorogo ini menjadi aturan bagi seluruh jagad reog. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Jadinya ya reog yang &lt;i&gt;ampang&lt;/i&gt;, tak ada gregetnya,” kata Hariadi. Beberapa bagian yang dipangkas adalah adegan seronok saat barongan berusaha mencium (maaf) pantat penari Jathilan. Selalu sebelum menempel barongan terjengkang. Padahal penari Jathilan tidak melakukan apa-apa. Bahkan gerakan penari ini cenderung monoton. Dia hanya menggoyangkan pinggung sedikit ke kiri dan ke kanan. Membosankan tetapi justru kelihatan sensual. Saat-saat seperti itulah yang selalu membuat penonton terbahak-bahak dan &lt;i&gt;mbata rubuh&lt;/i&gt;, bersorak bagai merubuhkan tumpukan batu bata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Penonton memang menjadi bagian dari pertunjukan reog. Mereka tidak hanya menonton tetapi terlibat di dalam setiap adegannya. Semakin banyak penonton yang terlibat sebenarnya semakin sukses pertunjukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Itu bedanya dengan tata cara pertunjukan reog untuk festival,” kata Hariadi. Dalam festival, penonton sama sekali tak disentuh. Bagaimana bisa menyentuh jika reog dimainkan di panggung berjarak jauh dengan habitatnya. Padahal sehari-hari reog dimainkan di perempatan jalan. Tabuhannya yang monoton sebagai undangan agar makin banyak orang menonton. Inilah pertunjukan rakyat. Citra warok dan reog makin berorientasi pertunjukan panggung. Reog dinilai dari aspek dramaturgi, tarian, dan tata busana yang serba seragam, manis, dan gemerlap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Mbah Bikan menanggapi dengan enteng. “Saya cuma mau main reog yang asli. Biar saja beda dengan peserta festival yang lain.” Hasilnya, saat pemerintah menggelar festival reog dan gerebek Suro pada 1994, kelompok Mbah Bikan tak pernah menang. Menyesalkah? Dia terkekeh. “Biar saja tidak menang tetapi kelompok saya main dengan cara yang kami yakini benar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-3444925479612234044?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/3444925479612234044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=3444925479612234044&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3444925479612234044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3444925479612234044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/04/adegan-adegan-yang-kena-sensor-2.html' title='Adegan-adegan yang Kena Sensor (2)'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-4375632579628379438</id><published>2008-04-26T23:05:00.000+07:00</published><updated>2008-04-26T23:09:05.832+07:00</updated><title type='text'>Pengakuan Lewat Pendekatan Budaya (1)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kok bisa-bisanya mengklaim reog sebagai budaya negeri seberang. Bukankah Ponorogo selalu lekat dengan entri kata reog? Meledaklah kemarahan karena merasa dikadali, dikalahkan dengan licin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Meledak juga keinginan Mbah Sarminto agar pemerintah mengembalikan reog kepada Ponorogo. Pemilik Reog PTO -Reog Power Take Off- ini tidak mau tahu caranya. Pokoknya pemerintah harus tegas menghadapi klaim Malaysia yang menganggap Tari Barongan sebagai budaya asli mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Harian &lt;i&gt;Surya&lt;/i&gt; merespons konflik mengaku-ngaku budaya ini dengan membuat diskusi “Reog Milik Kita atau Malaysia” bersama Yayasan Desantara dan tokoh reog Ponorogo di kantor Redaksi &lt;i&gt;Surya&lt;/i&gt;, Kamis (29/11). Keprihatinan warok, perajin atribut reog, pemilik perkumpulan reog, hingga praktisi muncul atas label yang muncul dalam tayangan pendek tentang Tari Barongan yang diklaim milik Malaysia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mbah Bikan Gondowiyono, mantan penari jathilan yang kini memiliki reog sendiri mengaku sedih melihat perkembangan reog yang tidak lagi mengikuti pakem. Karena digarap oleh orang yang makin cair dengan budaya “asli” reog Ponorogo, jadilah reog yang ada sekarang menjadi &lt;i&gt;belang belontheng&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya para peserta diskusi sadar, seni seperti reog yang diyakini muncul saat Kerajaan Majapahit digdaya ini memang mudah diusung ke tempat lain karena komunitas reog ada di Jakarta, Surabaya, dan banyak kota lain. Shodiq Pristiwanto, salah satu juri saat Festival Reog Ponorogo tahun lalu mempersilakan orang mengembangkan reog di mana-mana tetapi sebaiknya disebutkan bahwa kesenian itu dari Ponorogo. “Hanya pengakuan seperti itu yang kami butuhkan. Toh tidak akan ada uang mengalir ke kantong kami dengan menempelkan asal kesenian ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Budaya memang melintasi batas administrasi dan tidak akan bisa dibendung. Ini konsekuensi kemajuan zaman. Dede Oetomo yang pernah menulis tesis tentang Reog Ponorogo mengingatkan kemungkinan lintas wilayah ini. Apalagi menurut Mustofa Bisri dari Yayasan Desantara, di Johor, Malaysia, memang ada kampung yang didiami orang-orang dari Ponorogo. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menurut Bisri yang selama beberapa bulan tinggal di Malaysia pada akhir 1990-an, ada satu jalan di Johor bernama Parit Ponorogo. Luasnya sama seperti jika Jember dan Lumajang disatukan. “Mereka hidup di sana sudah empat generasi tetapi tetap membawa nilai dari tempat asalnya, Ponorogo. Tidak heran bila akhirnya yang muncul pun kental dengan budaya Ponorogo termasuk reog.” Ketika ada festival kesenian rakyat, masyarakat di Parit Ponorogo juga menampilkan reog yang menjadi budaya nenek moyang mereka di Kuala Lumpur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Diskusi makin menarik ketika Mbah Molok, perajin dhadhak merak dan seluruh kostum reog, mengaku memang sering mendapat pesanan dari Kalimantan Timur sejak 1976. Pesanan itu selalu dipenuhi lelaki berusia 84 tahun yang sekarang mewariskan keahliannya ini pada anak-anaknya. Pemilik nama asli Harjo ini tak akan menampik pesanan pembuatan dhadhak reog dan ubarampenya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Dengan ribut-ribut ini apa Mbah Molok masih tetap mengirim bila ada pesanan?” tanya Dhimam Abror Djuarid, Pemimpin Redaksi &lt;i&gt;Surya&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“&lt;i&gt;Lha inggih&lt;/i&gt;,” jawab Mbah Molok polos. Mantap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sarminto yang juga menyediakan pembuatan pakaian reog langsung menukas. “Ya itulah. Seharusnya mengirim ke luar Ponorogo izin dulu sama dinas apalah yang mengurus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Suasana sempat menghangat. Tetapi Mbah Molok enteng mengatakan, jika tidak boleh mengirim ya tidak akan kirim. Selesai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tetapi persoalan tidak selesai dengan hanya tidak mengirim atau minta izin dulu. Tak ada yang bisa menghentikan keinginan orang untuk menikmati budaya lain. Ketakutan pengakuan negeri lain atas karya bangsa ini patut dipahami. Batik, tempe, angklung, lagu daerah, hingga sekarang reog pun dikantongi orang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memang menyedihkan tetapi Airlangga Pribadi, pengamat sosial, justru mengingatkan untuk bangga. “Eksistensi budaya kita diakui Malaysia. Buktinya mereka mengambil semua yang terbaik,” kata Airlangga. Tetapi kebanggaan ini juga harus diikuti dengan sikap waspada karena bukan tidak mungkin artefak bangsa ini bisa berpindah tangan. Apalagi dengan kapitalisme yang menjadi napas baru bagi banyak kalangan bisa menimbulkan destruktif budaya dengan partisi wilayah. Pemilahan wilayah ini sering membawa pemahaman berbeda padahal akar budayanya sama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Harapan besar dari warok dan pekerja seni seperti Mbah Molok, Shodiq, Mbah Bikan, Mbah Sarminto, dan Hariadi disikapi dengan cara berbeda. Bukankah sebenarnya yang diinginkan adalah pengakuan bahwa reog berasal dari Ponorogo. Pendekatan politis tidak akan banyak mendapatkan hasil. “Justru dengan pendekatan budaya bisa dicapai kesepakatan menyelesaikan klaim ini,” kata Dhimam Abror.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-4375632579628379438?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/4375632579628379438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=4375632579628379438&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/4375632579628379438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/4375632579628379438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/04/pengakuan-lewat-pendekatan-budaya-1.html' title='Pengakuan Lewat Pendekatan Budaya (1)'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-6602084495410327833</id><published>2008-04-26T23:04:00.000+07:00</published><updated>2008-04-26T23:05:03.222+07:00</updated><title type='text'>Memoles Hijau di Penjuru Kota (3)</title><content type='html'>Bukit Timah. Hutan lebat dengan binatang buas di dalamnya. Tak ada orang yang berani menerabas masuk jika tak ingin setor nyawa. Inilah janggut lebat Singapura antara 1854-1862. Tetapi jangan pernah mencari janggut lebat ini sekarang. Bukit Timah sekarang tak lagi lebat karena dua sisi jalan mulus-lebar-bebas hambatan menghabisi pepohonan. Jangan pula mencari bukitnya walau namanya tetap Bukit Timah. Kini, daerah itu menjadi penghubung antara &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; Singapura dengan Bandara Changi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Rasa keder ketika menyebut nama Bukit Timah yang ada dalam The Malay Archipelago tak ada lagi. Bukitnya habis dipotong untuk reklamasi laut, selain juga sempat mengimpor pasir dari Riau selama enam tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mohammad Bashir, salah seorang pemandu dari Singapore Tourism Board, mengatakan lahan yang ada di Singapura terbatas. Karena itu perlu menguruk laut supaya daratan lebih luas. Salah satunya di sebagian kawasan Bandara Changi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya, ketika kendaraan meluncur dari Changi, wisata sudah dimulai. Mata orang masa kini akan langsung teduh begitu melihat pepohonan berjajar. Berjalan-jalan di siang yang terik juga bukan masalah. Pepohonan menyaring panas matahari sehingga orang tetap beraktivitas di luar ruangan. Kawasan teduh ini tentu tidak muncul begitu saja. Terbukti dari pepohonan yang ditanam dengan jarak sama di tengah dan tepi jalan di sepanjang jalan menuju Bandara Changi. Diameter pohon yang sepelukan orang dewasa menunjukkan umur tua. Paling tidak pepohonan itu sudah berumur 10 tahun. Cabang-cabangnya yang menjulur hingga nyaris menyatu dengan cabang di seberang jalan dipangkas rapi supaya tidak mengganggu pandangan. Pemilihan jenis pohon, penananam tepat, dan pemeliharaan menjadi salah satu kunci agar pohon tak mudah tumbang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menurut &lt;i&gt;Singapore A Pictorial History&lt;/i&gt;, kampanye hijau dimulai mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yew pada 1963. Pembangunan besar-besaran yang dimulai saat itu menyisakan bangunan beton yang kaku, membosankan, dan kotor. Upaya itu membuat pemerintah Singapura menggelontor jutaan dolar Singapura untuk mengolah sampah, membangun taman-taman, membersihkan sungai dan laut, serta menekan tingkat polusi. Inilah pengembangan berkonsep Garden City, Kota Taman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ruang teduh yang tak terputus menjadi kunci &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; taman Singapura. Badan pertamanan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; mengandalkan pohon dan rumput. Ini yang membuat seluruh ruang terbuka hijau seakan menjadi satu kesatuan. Sederhana &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; cara Singapore National Parks (NParks) dan Urban Redevelopment Authority (URA) membangun ruang terbuka hijau (RTH). Lanskap karpet rumput dan pepohonan banyak disebut sebagai ciri khas taman &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Inggris.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menurut data &lt;i&gt;kompas&lt;/i&gt;, satu hektare RTH mampu menetralkan 736.000 liter limbah cair hasil buangan 16.355 penduduk, menghasilkan 0,6 ton oksigen guna dikonsumsi 1.500 penduduk per hari, menyimpan 900 meter kubik air tanah per tahun, mentransfer air 4.000 liter per hari atau setara dengan pengurangan suhu 5-8 derajat Celsius, meredam kebisingan 25-80 persen, dan mengurangi kekuatan angin sebanyak 75-80 persen. Setiap jam, satu hektare daun-daun hijau menyerap delapan kilogram CO2 yang dikeluarkan 200 manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tak banyak bunga-bunga seperti di tengah &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Yang ada hijau, hijau, dan hijau. Bunga jarang sekali muncul kecuali di Changi atau di simpang jalan. Baru setelah terbentuk kawasan teduh (&lt;i&gt;shaded area&lt;/i&gt;) kemudian dipikirkan membuat kawasan warna-warni (&lt;i&gt;collorfull area&lt;/i&gt;) pada 1980-an. Warna pastel dan &lt;i&gt;ngejreng&lt;/i&gt; sudah menyergap sejak keluar dari Changi. Gradasi kuning, biru, hijau di satu kawasan. Warna merah di tempat lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di banyak jalan layang, beton raksasa penyangganya tak bisa dihilangkan. Supaya tidak membuat mata gatal, tanaman rambat seperti tanaman jenggot nabi sengaja ditempelkan. Jadi kesannya bukan jajaran beton melainkan pepohonan. Pohon beton. Semak-semak yang dipangkas rapi juga berusaha mengkamuflase pandangan karena si jenggot nabi belum merambati semua tonggak beton.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Keterbatasan tanah membuat warga Singapura rela tinggal di rusun agar mempunyai taman yang lebih luas untuk bermain atau berolahraga. Tentu rusun ini dibuat nyaman dengan teknologi yang membantu. Rakyat membayar mahal pajak. Imbalannya, masyarakat juga harus memiliki kemudahan transportasi publik, menuntut kenyamanan hidup dan kesejahteraan sosial termasuk di dalamnya keberadaan taman dan tempat untuk berolahraga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Taman &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bukan hanya pelengkap. Justru RTH ini menjadi nilai jual. Supaya mudah dipahami masyarakat, misi pemerintah Singapura sederhana dibuat sederhana: begitu keluar rumah, Anda berada di taman. &lt;st1:place st="on"&gt;Taman&lt;/st1:place&gt; tak perlu indah asal bisa digunakan banyak orang. Justru karena konsepnya sederhana, semua orang jadi terlibat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Rusun dihuni 86 persen penduduk Singapura. Rusun yang sehat, hemat energi, dan mudah menjangkau seluruh kawasan di Singapura menjadi pilihan. Bahkan Bashir merasa heran saat ada sekelompok orang yang ngotot mendiami rumah-rumah kumuh ketika diminta pindah ke rusun. “Diatur jadi lebih baik tidak mau,” kata Bashir yang tinggal di rusun kawasan Pasir Panjang yang menyediakan lahan terbuka sangat luas dengan akses kendaraan umum yang sangat mudah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk yang satu ini bolehlah berlega hati. Surabaya sudah punya taman kota (bukan kota taman) yang cantik, Malang kaya pohon, Kebun Raya Purwodadi menabung tanaman. Kali ini tidak kalah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-6602084495410327833?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/6602084495410327833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=6602084495410327833&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/6602084495410327833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/6602084495410327833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/04/memoles-hijau-di-penjuru-kota-3.html' title='Memoles Hijau di Penjuru Kota (3)'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-635582642545610724</id><published>2008-04-26T23:01:00.000+07:00</published><updated>2008-04-26T23:02:22.247+07:00</updated><title type='text'>Kampung Pionir Pembuka Singapura (2)</title><content type='html'>Akrab dan tak berjarak ketika masuk kawasan &lt;st1:place st="on"&gt;Chinatown&lt;/st1:place&gt;, Singapura. Maklum, suasananya kental dengan aroma yang biasa dijumpai di Kembang Jepun, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Tentu ada beda, bangunan di &lt;st1:place st="on"&gt;Chinatown&lt;/st1:place&gt; benar-benar dijaga.  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jendela kayu berjalusi di tiap blok tidak dibongkar. Ketuaannya justru membuat &lt;st1:place st="on"&gt;Chinatown&lt;/st1:place&gt; menjadi unik. Inilah kawasan bersejarah karena di kampung ini jantung Singapura dimulai. Komunitas Tionghoa pertama di Singapura mendiami tempat ini. Status konservasi diberikan pada 7 Juli 1989. Supaya tetap berbinar, dinding gedung tua dipoles lebih terang, jendela dipulas warna-warni.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Tenda baru ditata. Sepertinya tak ada yang bisa menghentikan orang-orang yang ada di kawasan ini. Tangan selalu bergerak, menyapa, menata. Hanya orang yang sudah sangat tua yang tampak sedikit santai. Ngobrol seru dengan nada tinggi. Trishaw bertopi hijau yang masih semarga dengan becak kita, melengkapi kawasan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Melihat suasana sekarang, sulit dibayangkan awalnya kawasan ini sangat-sangat-sangat kumuh. &lt;/span&gt;Perkampungan ini dimulai 1819 ketika pendatang pertama dari &lt;st1:city st="on"&gt;Xiamen&lt;/st1:City&gt;, Provinsi &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Fujian&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;, Tiongkok masuk. Mereka membangun perumahan di bagian selatan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;River&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sekarang dikenal sebagai Telok Ayer. Makin lama pendatang makin banyak padahal perkampungan tidak mekar. Akibatnya, daerah ini menjadi berjejal dan kumuh.&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mengubah kebiasaan hidup lebih rapi dan sehat sangat sulit. Housing and Development Board (HDB) akhirnya memutuskan mengubah daerah &lt;i&gt;slum&lt;/i&gt; ini pada 1 Februari 1960. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Hampir 15 tahun diupayakan tetapi kawasan ini tetap saja berjubel. Baru pada 1975 sebuah badan baru di bawah Ministry of National Development dibentuk melanjutkan upaya HDB. Penduduk diminta pindah ke flat-flat yang dibangun pemerintah. Sampai akhir 1970 ada enam kawasan flat baru yang dibangun yaitu Yishun, Hougang, Jurong East, Jurong West, Tampines, dan Bukit Batok. Kawasan yang ditinggalkan kemudian dibedaki dan diberi “lisptik”. Jadilah sebuah daerah yang rapi tanpa meninggalkan sisi eksotis bangunan tua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Sejarah ini masih bisa direkam di sepanjang &lt;st1:place st="on"&gt;Chinatown&lt;/st1:place&gt;. Jika ingin lebih dekat, masuk saja ke &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;Chinatown   Heritage Centre di Pagoda Street&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:Street&gt; 48. Dari depan seperti toko suvenir tetapi setelah masuk ruang tengah, ada ruang gelap yang “menangkap” pengunjung untuk dilempar ke masa lalu, ketika para pionir Tionghoa membuka hidup di tempat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Dengan ramah petugas menyilakan masuk. “Mari lihat sejarah,” ajak perempuan lencir bergaun cheongsam. Tetapi melihat ruangan gelap, sulit mengikuti langkahnya masuk ke ruang dalam. Dari pintu tengah terlihat lukisan wanita cantik dan beberapa benda kuno. Muram dan misterius. Jujur saja, lebih nyaman berjalan di luar dengan sinar matahari dan aneka suvenir. Harga barang di sini nyaris sama, &lt;i&gt;three for ten&lt;/i&gt;. Tentu tidak berlaku untuk syal sutera, barang antik, atau batu giok yang dijual orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Myanmar&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Bisa dimaklumi bila &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Chinatown&lt;/st1:place&gt; menjadi salah satu ikon negara. Singapura memiliki komposisi 77 persen Tionghoa, 14 persen Melayu, dan 8 persen &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Meski begitu, bukan hanya bangunan tua di Pecinan yang dilestarikan sebagai aset wisata. Sekitar 5.000 bangunan tua di Singapura masuk status konservasi. Di dalamnya tercakup Kampong Gelam yang dihuni orang Melayu, Little India, dan Boat Quay.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tak ada yang tidak bisa menghasilkan uang. Lebih dari separo bangunan disulap menjadi kantor, hotel, restoran, toko, dan sebagian kecil tempat tinggal. Bersanding dengan gedung modern yang adu jangkung, kawasan tua ini menjadi sisi lain dari “mata uang” bernama Singapura. Kekhasan etnis dibiarkan bertahan. Little &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt; dengan &lt;st1:placename st="on"&gt;Mustafa&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Center&lt;/st1:PlaceType&gt; menjadi magnet wisatawan yang ingin mencari barang dengan harga relatif murah –walau tetap mahal untuk ukuran rupiah- menjadi negeri &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt; di tengah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pagoda Street menjadi lorong unik dengan kuil Hindu &lt;span style="" lang="EN"&gt;Sri Mariamman yang megah di tikungan jalan. Tak jauh dari kuil ada Masjid Jamae rancangan George Coleman yang didirikan tahun 1800-1835. Masih ada Al Abrar Mosque yang dibangun tahun 1827 bermotif Islam &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Nah, ini masih dilengkapi dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Thian&lt;/st1:PlaceName&gt;  &lt;st1:placename st="on"&gt;Kock&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placename st="on"&gt;Keng&lt;/st1:PlaceName&gt;  &lt;st1:placetype st="on"&gt;Temple&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt;. Kurang plural apa coba?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Berjalan di jalur unik ini memaksa telinga lebih konsentrasi. Di Chinatown akan disapa dengan bahasa Inggris dialek Mandarin yang sering menyertakan bunyi “ah” di akhir kalimat. Bergeser ke dekat kuil ganti bahasa Inggris dengan logat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Nadanya yang agak &lt;i&gt;ngetril&lt;/i&gt; diikuti gerak kepala &lt;i&gt;lenggut-lenggut&lt;/i&gt; menjadi sapaan akrab. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Inilah pluralisme ala Singapura. Di Chinatown tempat ibadah berdekatan, lapak-lapak pun berjajar. Tak ada secuil tempat pun yang dibiarkan sia-sia. Segalanya bisa disulap menjadi tempat wisata menarik yang tentu saja mendatangkan uang.&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-635582642545610724?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/635582642545610724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=635582642545610724&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/635582642545610724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/635582642545610724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/04/kampung-pionir-pembuka-singapura-2.html' title='Kampung Pionir Pembuka Singapura (2)'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-3900779639242964361</id><published>2008-04-26T22:48:00.001+07:00</published><updated>2008-04-26T23:01:22.538+07:00</updated><title type='text'>Mesin Uang dari Tepi Sungai (1)</title><content type='html'>Kevin Pang memperlambat mobil. Lelaki yang mengantar wisatawan ini tidak mengeluh tetapi berkali-kali mendengus kesal. Jalan raya mulai padat. Mobilnya harus merayap. Dalam kondisi normal, tak ada kamus macet di Singapura, kecuali akhir pekan.  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jumat sore menjadi hari “mengerikan” bagi warga Singapura. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; mulai hiruk-pikuk. Libur akhir pekan datang. Justru yang “mengerikan” itu yang mendatangkan untung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ingar-bingar klakson impas dibayar dengan kedatangan wisatawan, terutama dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Jangan sedih dulu jika disebut sebagai warga negara miskin. Berkaca dari Bandara Changi, Singapura, siapa bilang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; miskin?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Singapura memang bukan lagi negeri asing. Dia seperti bagian dari &lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:City&gt; karena dalam dua jam bisa didatangi bahkan lebih cepat daripada jika pergi ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; lewat Porong. Wisatawan dari &lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:City&gt; sebanding dengan jumlah mereka yang berangkat dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ke Singapura. Dan harap maklum jika kemudian muncul angka mencengangkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menurut Singapore Tourism Board (STB) jumlah kedatangan turis asing ke Singapura selama 2006 mencapai 9,7 juta wisatawan. Dari jumlah itu, 1,92 dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; atau sekitar 20 persen. Selama 2006 total pengeluaran turis asing selama berwisata di Singapura mencapai 12,4 miliar dolar Singapura (SGD). Nah, 20 persennya dari kantong &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Warga Surabaya dan sekitarnya menyumbang hampir setengahnya. Karena itu &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menjadi pasar potensial bagi Singapura. Tahun ini, rata-rata wisatawan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menghabiskan uangnya hingga sekitar 800 SGD atau sekitar Rp 5,2 juta per orang per hari selama berlibur di Singapura.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Singapura menjadi gula-gula yang tak pernah membosankan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Gudang dengan dinding sengaja disemen tanpa plamir berwarna putih mangkak terasa lembap saat disentuh. Pintunya dari kayu utuh dengan cat yang dibiarkan mengelupas. Supaya mudah dibuka, gerendel dibuat di atas. Agak gelap di dalam. Dingin dan misterius seperti masuk gudang tempat para pencoleng. Begitu masuk, ruang dengan panjang sekitar 10 meter itu sepi. Hanya ada kolam kecil dan tangga dari kayu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tangga curam ini yang mengantar tamu ke ruang sebenarnya, ruang makan. Bau rempah-rempah khas &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sedikit membuat merinding. Apalagi di tengah lampu temaram itu sosok berkulit gelap dengan suara berat menyambut, tanpa senyum. Sorot matanya tajam, setajam citarasa masakan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang pedasnya menggigit, asamnya menggigit, dan aromanya menggigit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Inilah gudang beras yang kemudian diubah menjadi restoran Coriander Leaf. Dari lantai dua tercium bau masa lalu. Tumpukan beras pasti menggunung di sini supaya tidak terjangkau air bila sungai pasang. Juga agar jauh dari tangan maling. Bau apeknya masih tercium di antara sengatan aroma masakan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di depan Coriander Leaf mengalir Sungai Singapura. Tongkang lalu lalang. Sama persis dengan masa di tahun 1873-1914. Sungai menjadi nadi bagi Singapura masa lalu dan kini. Ketika kapal berlabuh di pelabuhan, tongkang akan mengambil dan menyimpan hasil bumi di gudang-gudang sepanjang sungai untuk kemudian dijual lagi. Dari hasil makelaran inilah kekayaan datang. Gudang-gudang ini ada di Clarke Quay. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Stamford Raffles, penguasa pertama yang mengklaim telah membangun Singapura sejak 24 Januari 1819 melihat ini kekuatan dagang yang luar biasa. Singapura tidak punya alam yang bersahabat untuk menumbuhkan bahan pangan. Raffles mengerahkan 120 budak yang dibawanya dan menurunkan prajurit &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; untuk mengawasi. Menurut buku &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i&gt;Singapore&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i&gt;, A Pictorial History 1919-2000&lt;/i&gt;, ini berlangsung sejak 1873-1914. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada 1900-an daratan penyangga gudang ini direklamasi. Apalagi Hongkong and Shanghai Bank mulai berdiri di tepi sungai, mendekati pusat perdagangan. Bau wangi uang membuat acara bongkar muat makin tidak populer. Apalagi ketika Marina South dan Marina Central di pertengahan 1970 menjadi kawasan perdagangan. Pemerintah Singapura terus memoles sungai dan menghasilkan lebih banyak SGD.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekarang tempat perdagangan yang paling sibuk di Sungai Singapura ini beralih fungsi. Sama-sama berdagang tetapi dagang wisata. Seluruh gudang dipoles. “Bahkan ada tempat ibadah yang kemudian menjadi pub Indo &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;China&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, tempat ber-&lt;i&gt;jib-ajib&lt;/i&gt; turis,” kata Moh Bashir dari STB. Supaya tetap hidup, sepanjang Clarke Quay sudah dipasang atap tembus pandang. Jadi tak peduli hujan wisatawan tetap bergentayangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sudut menikung dermaga yang membuat Kevin Pang mendengus ini menjadi kawasan paling riuh. Clarke Quay diberi nama seperti gubernur kedua Singapura, Andrew Clarke. Musik jazz dari resto-resto di Clarke Quay ingin memberi kesan romantis. Sedikitnya terdapat 14 restoran berkelas internasional di sini. Setelah dibenahi dan menghabiskan biaya sedikitnya 15 juta SGD atau lebih dari Rp 97 miliar, inilah tempat nongkrong favorit kaum &lt;i&gt;yuppies&lt;/i&gt; Singapura juga wisatawan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadi ingat Jl Kayun Surabaya. Di Kali Surabaya ada aktivitas bongkar muat sayuran. Hotel Brantas pun sempat menikmati masa silir-silirnya angin sungai ini. Bahkan Kayun dipoles menjadi tempat makan dan nongkrong yang adem. Tak beda, bukan? Sekarang silir-silir berganti dengan bau busuk sisa sayuran. Tempat makan di Kayun juga sudah diberi aba-aba hengkang. Dan Kali Surabaya, ah… sama-sama tahulah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-3900779639242964361?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/3900779639242964361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=3900779639242964361&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3900779639242964361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/3900779639242964361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/04/mesin-uang-dari-tepi-sungai-1.html' title='Mesin Uang dari Tepi Sungai (1)'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-947731961512659536.post-8973734858879794106</id><published>2008-04-26T21:56:00.001+07:00</published><updated>2008-04-26T22:46:45.114+07:00</updated><title type='text'>Mengawal Tim Medis Menyisir Bengawan Solo</title><content type='html'>Beberapa anggota tim medis terdiam ketika kami jemput dengan dua perahu di tambangan Pasar Babat, Bojonegoro. Gerimis sudah berhenti walau titik airnya sesekali turun. Tak ada pilihan lain, ke-17 petugas kesehatan itu akhirnya mau melangkah ke perahu yang tampak ringkih.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Perahu kecil sederhana dengan alas susunan bambu ini memang satu-satunya penghubung menuju Desa Lebaksari, Kecamatan Bourno, Kabupaten Bojonegoro. Lebarnya tak sampai satu meter. Panjangnya sekitar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; meter. Sebenarnya cukup lumayan sebagai sarana angkutan di hari normal, tidak saat banjir bandang seperti ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seluruh akses jalan darat tertutup air. Perahu ala kadarnya inilah yang menjadi tumpuan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika dipersilakan masuk perahu, gerakan ragu-ragu terlihat dari tim medis. Tetapi tak ada jalan lain. Kedatangan mereka malam ini, Rabu (9/1), sudah ditunggu penduduk yang ingin mendapat pengobatan gratis setelah berminggu-minggu terendam banjir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhirnya semua orang sudah masuk dalam dua perahu. Duduk berjajar. Satu tangan berpegangan di bibir perahu, tangan yang lain menahan obat dan peralatan medis agar tidak terbentur-bentur. Sekitar pukul 21.00 WIB dua perahu penuh muatan orang dan obat-obatan bergerak sangat pelan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika saat berangkat, kami yang menjemput hanya butuh waktu 20 menit, sekarang perjalanan berlipat lamanya. Selama 45 menit kami harus melawan arus dengan beban berat. Tak ada yang berbicara walau sempat mencoba bercanda. Ketika senter dinyalakan sesaat, tampak bibir berkomat-kamit, berdoa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tim medis memang sudah siaga dengan sepatu bot tetapi tak ada yang mengenakan pelampung. Kami pun tidak. Saya hanya mengenakan sandal jepit, dan sudah lupa cara berenang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bisa dimaklumi jika semua merasa ngeri. Bengawan Solo bukan sembarang sungai saat ini. Luapan sungai paling panjang di Jawa ini menenggelamkan wilayah mulai dari Solo hingga Gresik. Semua daerah yang dilewati diterabas hingga terendam. Dan kemarin, ketika bulan sama sekali tak tampak, kami harus menyusuri bengawan ini dalam gelap. Senter atau lampu memang tak sebaiknya dinyalakan karena “nakhoda” perahu bisa silau dan salah arah. Jika salah arah bisa langsung ke laut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dua kali motor tempel milik Sun’an, salah satu “nakhoda”, mati ketika akan berangkat menjempur. Terombang-ambing sebentar di tengah bengawan, akhirnya ledakan api dari busi sanggup membuat motor kembali menyala. Tentu kejadian ini tak kami ceritakan pada tim kesehatan karena mereka akan semakin gemetaran. Dalam gelap tak tampak jika sebenarnya kami juga agak pucat karena khawatir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pukul 22.00 WIB perahu merapat ke &lt;i&gt;barongan&lt;/i&gt;, sekumpulan bambu di tepi sungai. Di musala sudah berkumpul lebih dari 100 warga dari Desa Lebaksari. Beberapa orang ingin disuntik agar sehat. Dengan cepat ke-17 petugas kesehatan dari Yayasan Bangun Sehat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pimpinan dr Isnin, Terminal Petikemas Surabaya, dan Kosgoro 57 Jatim menangani warga. Bantuan yang diberikan tim ini sangat membantu aktivitas Surya Crisis Center (SCC) membantu korban banjir. Saya dan teman-teman dari SCC sudah datang sejak Maghrib.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Haji M Thalhah Gozali, Kepala Desa Lebaksari, Kecamatan Bourno, Bojonegoro, mengaku warganya masih trauma karena air bah ini bisa datang lagi ketika hujan deras kembali mengguyur. Banjir yang menenggelamkan Desa Lebaksari setinggi 1,5 meter itu telah memupuskan harapan panen padi yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup mereka. “Saya minta warga untuk tetap waspada karena biasanya banjir datang di akhir musim hujan. Ini masih awal musim hujan, jadi kami khawatir akan terjadi banjir lagi,” tutur Gus Mat, begitu kepala desa ini disapa. Desa Lebaksari merupakan salah satu desa terparah di Bojonegoro yang diterjang banjir dan tenggelam selama seminggu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hasil pemeriksaan kesehatan oleh tim medis menyebutkan, rata-rata penduduk mengalami trauma bencana yang cukup serius. “Keluhan rata-rata pegal-pegal dan ngilu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sebagian yang mengalami gangguan ISPA. Ini karena mereka harus bekerja keras ketika menyelamatkan diri dari banjir,” terang Isnin. Di samping trauma bencana, karena kekurangan air bersih, masyarakat mulai terserang diare. Genangan air yang masih ada di mana-mana membuat penyakit kulit dan demam melanda. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pengobatan massal usai menjelang tengah malam. Penduduk yang menunggu sejak sore pulang dengan wajah puas karena sudah diperiksa mbak dan mas dokter. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga yang minta disuntik supaya cepat sembuh. Lega rasanya melihat mereka yang sangat membutuhkan bantuan pengobatan akhirnya bisa membawa pulang aneka vitamin, obat batuk, obat diare. Asal sudah disentuh tangan mbak dan mas dokter, sugesti sembuh sangat membantu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kembali ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, kami diantar beberapa penduduk di tepi &lt;i&gt;barongan&lt;/i&gt; yang lumpurnya siap mengisap kaki hingga ke lutut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Anggota tim medis perempuan memilih menyeberang ke tepi desa yang berjarak 40 meter. Setelah itu mereka naik mobil berputar dan bertemu lagi di tambangan Pasar Babat. Tim medis laki-laki tetap bersama kami menyisir Bengawan Solo hingga tambangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tepat pukul 24.00 WIB seluruh rombongan kembali menyisir Bengawan Solo. Bulan tetap tidak muncul. Ketika banyak orang &lt;i&gt;melekan&lt;/i&gt; menikmati 1 Muharram atau 1 Suro dalam tahun Jawa, kami juga menikmatinya di atas perahu di Bengawan Solo. Dengan waswas.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/947731961512659536-8973734858879794106?l=endahimawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahimawati.blogspot.com/feeds/8973734858879794106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=947731961512659536&amp;postID=8973734858879794106&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8973734858879794106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/947731961512659536/posts/default/8973734858879794106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahimawati.blogspot.com/2008/04/mengawal-tim-medis-menyisir-bengawan.html' title='Mengawal Tim Medis Menyisir Bengawan Solo'/><author><name>Endah Imawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07152715801759080101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_XFtBFqWE7wE/SaX4QRKsOfI/AAAAAAAAAH8/jVBoeqnMlJ8/S220/bude+tete.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
